Kumparan Logo

BI Cetak 4.000 Wirausaha UMKM dan Pesantren untuk Dorong Lapangan Kerja

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 6 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Gubernur BI Perry Warjiyo meluncurkan program Transformasi Kewirausahaan UMKM Terpadu yang ditujukan untuk mencetak sekitar 4.000 wirausaha baru dari sektor UMKM dan pondok pesantren, Senin (22/6). Foto: Ave Airiza Gunanto/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Gubernur BI Perry Warjiyo meluncurkan program Transformasi Kewirausahaan UMKM Terpadu yang ditujukan untuk mencetak sekitar 4.000 wirausaha baru dari sektor UMKM dan pondok pesantren, Senin (22/6). Foto: Ave Airiza Gunanto/kumparan

Bank Indonesia (BI) meluncurkan program Transformasi Kewirausahaan UMKM Terpadu yang ditujukan untuk mencetak sekitar 4.000 wirausaha baru dari sektor UMKM dan pondok pesantren. Program ini diharapkan menjadi motor penciptaan lapangan kerja sekaligus memperkuat ekonomi kerakyatan di tengah ketidakpastian global.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan penguatan sektor UMKM menjadi semakin penting karena perekonomian dunia masih dibayangi konflik geopolitik, perang dagang, hingga ketidakpastian ekonomi dan keuangan global.

“Dalam suatu ketidakpastian yang tinggi kita harus semakin mandiri. Kita harus semakin mandiri. Apa pun yang terjadi di global, we have to move on,” kata Perry dalam Kick-Off Transformasi Kewirausahaan UMKM Terpadu, Senin (22/6).

Menurut Perry, Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan faktor eksternal untuk menjaga pertumbuhan ekonomi. Karena itu, penguatan sektor UMKM dan pesantren perlu menjadi prioritas mengingat keduanya memiliki kontribusi besar terhadap penciptaan lapangan kerja dan kesejahteraan masyarakat.

“UMKM menjadi betul-betul menjadi pilar penting dari pembangunan. Lebih dari 65 juta UMKM di Indonesia. Dan sebagian besar adalah skalanya kecil. Sebagian besar menciptakan lapangan kerja,” ujarnya.

Petani menjemur biji kopi gabah (hard skin) Palintang jenis Arabika di rumah pengepul kopi, Cilengkrang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Sabtu (18/7/2020). Foto: NOVRIAN ARBI/ANTARA FOTO

Program tersebut dijalankan melalui sinergi BI dengan Kementerian Agama, Kementerian UMKM, pemerintah daerah, asosiasi bisnis, hingga komunitas pesantren. Para peserta akan mengikuti pelatihan, magang, dan pendampingan usaha sebelum memperoleh akses permodalan.

Perry menegaskan pendekatan baru tersebut dirancang agar pelaku usaha memiliki fondasi bisnis yang kuat sebelum mendapatkan dukungan pembiayaan.

Dudu duite (bukan uangnya) dulu. Wirausahanya dulu yang harus dilakukan,” tegasnya.

Salah satu program unggulan yang diluncurkan adalah Cangkir Barista. Program ini menargetkan lahirnya 400 barista bersertifikat internasional setiap tahun guna mendukung pengembangan industri kopi nasional.

Menurut Perry, potensi industri kopi Indonesia sangat besar dengan nilai pasar yang dapat mencapai USD 12,5 miliar. Namun jumlah barista yang memiliki sertifikasi internasional masih sangat terbatas.

“Sekarang itu ada 923 ribu barista, 923 ribu barista. Berapa yang sertifikasi internasional? Mung cepek (hanya seratus),” kata Perry.

Melalui program tersebut, peserta tidak hanya mendapatkan pelatihan teknis meracik kopi, tetapi juga dibekali kemampuan membangun dan mengelola bisnis secara profesional.

Selain kopi, BI juga mengembangkan program Citra Nusantara yang berfokus pada peningkatan daya saing industri wastra nasional.

Program tersebut menargetkan lahirnya 50 inovasi produk baru pada 2026 dari 500 peserta yang telah diseleksi. Para peserta akan mendapatkan pendampingan langsung dari desainer dan pelaku industri kreatif.

Ilustrasi pesantren virtual. Foto: Shutter Stock

Perry menilai sektor wastra memiliki prospek besar karena didukung kekayaan budaya Indonesia yang tidak dimiliki negara lain.

“Wastra Indonesia tidak akan habis. Mau batik, mau tenun, mau sulam, mau ecoprint itu karena apa? Warisan budaya Indonesia enggak akan habis,” ujarnya.

Saat ini industri wastra tercatat memiliki sekitar 47.700 unit usaha dan menyerap sekitar 1,5 juta tenaga kerja.

Dorong 200 Pesantren Produksi Air Minum Kemasan

Di sektor ekonomi pesantren, BI meluncurkan program Air Berkah Indonesia yang bertujuan mendorong kemandirian ekonomi pondok pesantren melalui usaha air minum dalam kemasan.

BI menargetkan 200 pesantren mampu mengembangkan bisnis tersebut dalam beberapa tahun ke depan. Selain memenuhi kebutuhan internal, produk air minum juga diharapkan dapat dipasarkan kepada masyarakat sekitar.

“Melalui program ini pesantren akan didorong mengembangkan unit usaha air minum dalam kemasan berbasis sumber daya lokal. Kami menargetkan 200 pesantren,” kata Perry.

Program ini menjadi bagian dari pengembangan ekonomi pesantren yang selama ini telah dijalankan BI di lebih dari 1.500 pondok pesantren di berbagai daerah.

BI juga memperluas program Tani Berkah yang berfokus pada pengembangan pertanian modern berbasis hidroponik dan green farming di lingkungan pesantren.

Program tersebut akan memberikan pelatihan kewirausahaan, praktik usaha, hingga pendampingan bisnis agar pesantren mampu mengelola usaha pertanian secara mandiri.

Menurut Perry, model bisnis tersebut telah terbukti berhasil diterapkan di sejumlah pesantren dan memiliki potensi untuk diperluas ke berbagai daerah.

“Tani Berkah ini ya tak dorong-dorong ini kok tahun ini alhamdulillah 10 pondok pesantren. Tahun depan besok ya 50 lah, tahun berikutnya 100 lah,” ujarnya.

Perry berharap seluruh program yang diluncurkan dapat memperkuat ekonomi kerakyatan, menciptakan lapangan kerja baru, serta meningkatkan ketahanan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.

UMKM Kopi Binaan BI Tembus 30 Negara, Ekspor Tertekan Biaya Kirim dan Suku Bunga

Pekerja mendinginkan biji kopi usai proses penyangraian di salah satu tempat produksi bubuk kopi Rumoh Aceh di Desa Miruek, Krueng Barona Jaya, Aceh Besar, Aceh, Senin (21/2/2022). Foto: Syifa Yulinnas/ANTARA FOTO

Founder Mozass Healthy Labs, Carlo Mayer, mengatakan produknya yang merupakan kopi organik binaan Bank Indonesia telah menembus lebih dari 30 negara dan masuk ke pasar specialty coffee dunia.

Carlo menjelaskan, Mozass Healthy Labs berfokus pada produk kopi organik dengan kualitas specialty yang rata-rata memiliki nilai di atas 80 poin. Menurutnya, kualitas tersebut membuat produknya dipercaya berbagai pasar internasional, termasuk lingkungan keluarga kerajaan Thailand hingga konsumen di Rusia.

“Kopi-kopinya kita kopi organik yang dimana biasa kita melakukan ekspor sudah lebih dari 30 negara,” kata Carlo.

Ia menuturkan kopi Indonesia masih menjadi salah satu jenis kopi yang paling diminati di pasar global. Untuk produknya, permintaan terbesar datang dari kopi arabika specialty dan robusta specialty. Selain itu, tren permintaan juga mulai berkembang ke jenis excelsa dan liberika, tergantung karakter pasar masing-masing negara.

Di Jepang misalnya, konsumen lebih menyukai kopi arabika natural karena memiliki cita rasa buah yang lebih menonjol.

Menurut Carlo, Bank Indonesia berperan penting dalam mendukung pengembangan usahanya, terutama melalui fasilitasi promosi dan ekspor ke pasar internasional.

“Biasa kita dapat bantuan dari BI, itu seperti untuk pengiriman ke luarnya juga, untuk ekspor. Dan juga biasa untuk pemasaran seperti ini juga kita dapat bantuan dari Bank Indonesia,” ujarnya.

Saat ini, Mozass Healthy Labs secara rutin melakukan pengiriman ke sekitar empat negara setiap bulan. Namun, karena bergerak di segmen specialty coffee, volume ekspor tidak dilakukan dalam jumlah besar seperti komoditas kopi massal. Pengiriman umumnya masih dalam skala ratusan kilogram dengan nilai transaksi mencapai puluhan ribu dolar AS.

Carlo menyebut Kanada dan sejumlah negara di Eropa menjadi tujuan ekspor terbesar perusahaannya dalam beberapa waktu terakhir.

Meski demikian, ia mengakui kondisi usaha saat ini menghadapi tantangan akibat tingginya suku bunga dan meningkatnya biaya logistik internasional. Menurutnya, perubahan kondisi ekonomi global berdampak langsung terhadap aktivitas bisnis, mulai dari pembiayaan hingga biaya pengiriman.

“Posisi kan kita sangat berpengaruh sebenarnya sih. Karena pertama kita kan berhubungan juga dengan dolar ya,” katanya.

Selain faktor nilai tukar, kenaikan harga energi juga mendorong lonjakan biaya pengiriman. Carlo mengatakan ongkos logistik ekspor kini bisa mencapai dua hingga tiga kali lipat dibandingkan kondisi normal.

Kondisi tersebut turut memengaruhi permintaan pasar terhadap produknya. Ia memperkirakan permintaan kopi specialty saat ini mengalami penurunan sekitar 15-20 persen dibandingkan sebelumnya.

instagram embed

“Karena untuk sekarang ini sebenarnya lagi agak menurun sih. Karena kan pertama suku bunganya itu berbeda, lumayan agak jauh. Dan pengirimannya itu kita ongkosnya itu bisa 2-3 kali lipat dari biasanya,” ujarnya.

Meski menghadapi tekanan, Carlo berharap fundamental ekonomi Indonesia ke depan semakin kuat, termasuk stabilitas nilai tukar rupiah. Ia menilai penguatan ekonomi nasional akan berdampak positif bagi pelaku usaha dan meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global.

Menurutnya, UMKM memiliki peran penting dalam mendorong devisa negara melalui berbagai sektor, mulai dari kopi hingga pariwisata. Karena itu, dukungan terhadap pengembangan UMKM dinilai perlu terus diperkuat agar mampu memperluas kontribusinya terhadap perekonomian nasional.