Kumparan Logo

BI Ungkap Banyak Perbankan Cenderung Berinvestasi di SRBI dan SBN

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti di Sarasehan 100 Ekonom di Grand Ballroom Kempinski, Kamis (3/9/2026). Foto: Najma Ramadhanya/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti di Sarasehan 100 Ekonom di Grand Ballroom Kempinski, Kamis (3/9/2026). Foto: Najma Ramadhanya/kumparan

Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menyoroti fenomena banyaknya perbankan yang memanfaatkan kelebihan likuiditas untuk investasi di instrumen seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN), daripada menyalurkannya dalam bentuk fungsi intermediasi atau kredit.

“Eh ternyata ini banyak bank-bank yang menggunakan likuiditasnya itu bukan untuk intermediasi. Tapi mereka buat mungkin investasi gitu ya. Dia taruh di SRBI. Dia taruh di SBN,” kata Destry dalam gelaran Sarasehan 100 Ekonom di Grand Ballroom Kempinski, Jakarta, Kamis (3/9).

Hal tersebut tercermin dalam nilai outstanding SRBI yang telah berangsur turun dari posisi tertingginya yang mendekati Rp 1.100 triliun menjadi sekitar Rp 1.050 triliun. Selain itu, tingkat imbal hasil SRBI juga telah dipangkas secara bertahap.

“Tapi kan kita turun bertahap ya. Kemudian SRBI rate-nya dari 7,6 persen. Sekarang menjadi posisi di 7 persen, 6,99 persen. Kita enggak bisa langsung break, sudden drop, gitu. Nggak bisa, kita harus bertahap,” kata Destry.

Destry mengatakan, pemangkasan ini dilakukan secara perlahan dan terukur guna mengikuti pergerakan mekanisme pasar, baik di pasar perdana lelang maupun pasar sekunder.

Oleh karena itu, untuk mendorong agar perbankan lebih aktif menyalurkan kredit, BI memperkuat kebijakan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) dengan mengalokasikan total insentif menjadi maksimal 6 persen.

Sebanyak 4 persen diberikan dalam bentuk pembiayaan KLM kepada bank-bank yang menyalurkan kredit ke sektor strategis, prioritas, padat karya, UMKM, hingga pembiayaan masyarakat kelas bawah. Sementara itu, sisa insentif sebesar 2 persen yang mulai diberlakukan per September ini dirancang khusus untuk mengatasi segmentasi likuiditas di industri perbankan.

“Nah 2 persennya ini, untuk mengatasi segmentasi yang ada di likuiditas bank, bahwa bank-bank yang dia mempunyai alat likuid terlalu banyak dalam bentuk SRBI atau SBN, maka dia tidak akan kita berikan insentif,” ucap Destry.

Sebaliknya, insentif 2 persen tersebut hanya akan diberikan kepada bank yang menempatkan alat likuidnya pada batas wajar, yakni di bawah 19 persen dari Dana Pihak Ketiga (DPK).

“Nah tujuannya apa? Jadi bank-bank tadi punya banyak outstanding, SRBI dan SBN, dia akan mulai mengurangi posisinya. Dia punya cash. Dan dia bisa kita dorong untuk intermediasi,” tutur Destry.

Kata Destry, dana tunai yang dilepas tersebut nantinya dapat terdorong untuk dialihkan menjadi penyaluran kredit kepada masyarakat dan dunia usaha.

instagram embed