Kumparan Logo

Data Center Jatiluhur Disetop, Pemerintah Diminta Perkuat Regulasi Listrik & Air

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sebuah kapal cepat berlayar menuju Pulau Biru di kawasan Waduk Jatiluhur. Foto: ANTARA FOTO/M Ibnu Chazar
zoom-in-whitePerbesar
Sebuah kapal cepat berlayar menuju Pulau Biru di kawasan Waduk Jatiluhur. Foto: ANTARA FOTO/M Ibnu Chazar

Proyek data center BDX di kawasan Waduk Jatiluhur, Jawa Barat, dihentikan sementara hingga seluruh proses perizinan rampung. Di tengah perkembangan industri data center yang semakin pesat, kebutuhan listrik dan air dalam jumlah besar juga menjadi perhatian sehingga pemerintah dinilai perlu memperkuat regulasi untuk memastikan pembangunan data center tetap berkelanjutan.

Pengamat Energi dari Pusat Studi Kebijakan Publik (Puskepi), Sofyano Zakaria, menilai penguatan regulasi diperlukan apabila proyek data center terus didorong pemerintah. Menurutnya, regulasi tersebut terutama perlu memperhatikan aspek efisiensi energi dan keberlanjutan.

“Menurut saya, regulasi energi untuk data center perlu diperkuat secara khusus. Regulasi umum terkait energi terbarukan, efisiensi energi dan lingkungan sudah ada, tetapi standar sustainability data center perlu dibuat lebih tegas,” kata Sofyano kepada kumparan, Senin (5/10).

Menurut Sofyano, penguatan regulasi tersebut di antaranya dapat diterapkan melalui persyaratan mengenai keandalan dan efisiensi listrik, porsi energi terbarukan, syarat penggunaan air, batasan emisi karbon, hingga persyaratan lokasi.

Untuk lokasi, ia memandang penetapannya harus didasarkan pada daya dukung energi dan air. Hal tersebut dinilai penting agar Indonesia tidak menghadapi persoalan pasokan listrik dan air ketika pertumbuhan data center semakin pesat.

“Jangan sampai Indonesia mengejar investasi data center, tetapi kemudian menghadapi tekanan terhadap pasokan listrik dan air. Pertumbuhan ekonomi digital harus sejalan dengan ketahanan energi, ketahanan air dan keberlanjutan lingkungan,” ujarnya.

Ilustrasi pusat data. Foto: Gorodenkoff/Shutterstock

Pengamat energi Tumbur Parlindungan turut menilai kebutuhan listrik dan air perlu menjadi perhatian dalam pengembangan data center. Menurutnya, data center membutuhkan energi dan air, salah satunya untuk pendinginan sistem.

“Butuh regulasi yang komprehensif fan mencakup beberapa kementrian, karena bukan hanya energi di data center, masih ada aspek lain yang mencakup scoop dari kementrian-kementerian lainnya. Contohnya ya data security, environmental terutama untuk penggunaan air, infrastructure seperti fiber optic dan lainnya,” kata Tumbur.

Dia juga memprediksi bahwa kebutuhan energi di masa mendatang memang akan lebih banyak untuk mendukung data center.

Sebelumnya, penghentian sementara proyek BDX Waduk Jatiluhur diminta Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke lokasi proyek pada 28 Juli 2026.

Dalam dialog dengan pihak BDX dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purwakarta, Dedi mempertanyakan kelengkapan izin pembangunan gedung yang direncanakan memiliki lima lantai tersebut. Saat menanyakan status izin bangunan, pihak BDX menyebut proses perizinan masih berjalan.

"Kalau on process jangan dulu dimulai dong Pak. Nah apa yang menjadi problem Bapak lambat?" ujar Dedi dalam video yang diterima kumparan, Jumat (2/10).

Kementerian ESDM sebelumnya juga telah menyoroti kebutuhan pasokan listrik dan air yang besar dalam pembangunan data center.

Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menyarankan agar masifnya pembangunan data center di dalam negeri memperhatikan keberlanjutan sumber daya energi maupun air.

“Data center itu, kan, membutuhkan dua, itu listrik besar dan juga ketersediaan air. Jadi kita juga ada yang melihat itu pengembangan data center itu sesuai dengan potensi listrik dan ketersediaan air,” katanya di Kantor Kementerian ESDM.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, saat memberikan sambutan pada Rapat Paripurna Istimewa dalam rangka memperingati Hari Jadi Provinsi Jawa Barat Ke-81 di Halaman Gedung Sate, Kota Bandung pada Rabu (19/8/2026). Foto: YouTube/ DPRD Jabar

Saat ini Indonesia tengah mengembangkan sejumlah proyek data center, di antaranya di Nongsa Digital Park, Batam, maupun di kawasan Waduk Jatiluhur.

Di sisi lain, pemerintah juga menyiapkan infrastruktur energi untuk mendukung perkembangan industri digital. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pembangunan jaringan transmisi listrik hijau sepanjang 47.758 kilometer hingga 10 tahun ke depan dapat mendukung pengembangan digitalisasi, terutama data center dan kecerdasan buatan.

Airlangga menjelaskan, kapasitas data center yang sudah terbangun di Indonesia saat ini mencapai 800 megawatt (MW) atau 0,8 gigawatt (GW). Dalam waktu dekat, kata dia, akan ada tambahan sekitar 1,5 GW.

"Kali ini kita kapasitasnya sekitar 800 megawatt, dan ini dalam waktu dekat saya belum tahu yang dimonitor di BKPM berapa, tetapi diperkirakan setara dengan 1,5 gigawatt dalam waktu dekat," jelas Airlangga.