Freeport Proyeksi Setoran ke Negara Tembus Rp 120 T Mulai 2028

Direktur Utama PT Freeport Indonesia (PTFI) Tony Wenas memproyeksikan penerimaan negara dari kegiatan pertambangan PTFI mencapai sekitar USD 8 miliar atau lebih dari Rp 120 triliun per tahun mulai 2028. Tony menyebut penerimaan negara dari Freeport diproyeksikan terus meningkat hingga 2028.
Penerimaan tersebut berasal dari pajak, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), dividen, serta pungutan lainnya. Proyeksi ini juga kenaikan penerimaan negara ini sejalan dengan pemulihan produksi tambang Grasberg setelah terdampak longsor material basah pada September 2025.
“Di tahun 2028 dan tahun 2029 dan seterusnya diperkirakan akan bisa mencapai USD 8 miliar atau sekitar Rp 120 triliun lebih per tahunnya penerima negara dalam bentuk pajak, PNBP, dividen dan penghutang-penghutang lainnya,” kata Tony dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi XII di Kompleks Parlemen Senayan Jakarta, Selasa (15/9).
Angka USD 8 miliar jika dikonversikan ke dalam kurs rupiah saat ini yaitu Rp 17.676 per dolar AS, maka mencapai Rp 141,40 triliun.
Pada 2026, Tony memproyeksikan penerimaan negara dari Freeport mencapai USD 2,6 miliar atau sekitar Rp 40 triliun atau Rp 45,95 triliun dengan kurs Rp 17.676 per dolar AS.
Proyeksi ini dihitung berdasarkan asumsi harga tembaga USD 4,75 per pound dan emas USD 4.000 per ons, sementara saat ini harga tembaga itu USD 6,5 per pound dan emas sekitar USD 4.500 per ons.
Dia juga memproyeksi setoran ke negara bertambah pada 2027 menjadi USD 4,6 miliar atau Rp 81,30. Kenaikan penerimaan negara tersebut sejalan dengan peningkatan kapasitas produksi bijih tambang.
Pada 2026, produksi bijih diproyeksikan mencapai 124.000 ton per hari atau sekitar 65 persen dari kapasitas normal sekitar 200.000 ton per hari. Pada 2027, produksi bijih ditargetkan naik menjadi 170.000 ton per hari atau sekitar 75 persen dari kapasitas normal.
Kemudian pada 2028, produksinya diproyeksikan mencapai 208.000 ton per hari atau mendekati 100 persen kapasitas normal. Mulai 2029 hingga 2030, produksi bijih diproyeksikan kembali meningkat menjadi lebih dari 220.000 ton per hari.
“Di tahun 2028 itu akan bisa mencapai 208.000 ton bijih per hari. Selanjutnya di 2029 dan 2030 itu bisa lebih dari 220.000 ton bijih per hari,” ujarnya.
Produksi Tembaga dan Emas
Pada 2026, produksi tembaga diproyeksikan mencapai 800 juta pound, sementara produksi emas sekitar 700.000 troy ons atau setara sekitar 21 ton.
Produksi tersebut diproyeksikan meningkat pada 2027 menjadi 1,3 miliar pound tembaga dan 1 juta troy ons emas atau sekitar 31 ton.
Selanjutnya, mulai 2028 produksi tembaga diproyeksikan mencapai 1,6 miliar pound per tahun. Produksi emas juga ditargetkan mencapai 1,3 juta troy ons atau sekitar 39-40 ton per tahun.
“Kenaikan tingkat produksi ini sejalan dengan pemulihan Grasberg Block Caving yang longsor di tahun yang lalu,” imbuhnya.
Selain itu, Freeport juga tengah mengembangkan tambang Kucing Liar yang ditargetkan mulai berproduksi pada 2029.
“Kalau proyeksi 2029, hasil dari Kucing Liar yang sudah mulai ditambang. Dan kami telah menghabiskan Rp 25 triliun kira-kira untuk pengembangan tambang Kucing Liar ini, dari totalnya sebesar Rp 72 triliun sampai dengan 2033,” jelasnya.
