Gejolak Global Meningkat, OJK Pastikan Sektor Keuangan RI Tetap Terjaga

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan stabilitas sektor jasa keuangan nasional masih berada dalam kondisi yang terjaga meski ketidakpastian ekonomi global kembali meningkat akibat memanasnya perang antara Iran dan Amerika Serikat, serta kebijakan tarif perdagangan baru dari Presiden Donald Trump.
“Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) OJK pada 29 Juli 2026 menilai stabilitas sektor jasa keuangan tetap terjaga di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan pasar keuangan global,” kata Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, dalam konferensi pers, Selasa (4/8).
Perempuan yang akrab disapa Kiki itu mengatakan, tekanan global kembali meningkat setelah memanasnya konflik di Timur Tengah menyusul gagalnya upaya gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat. Kondisi tersebut mendorong kenaikan harga energi dunia sekaligus meningkatkan premi risiko di pasar keuangan global.
Di saat yang sama, Dana Moneter Internasional (IMF) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global menjadi sekitar 3 persen seiring berlanjutnya ketidakpastian. Meski begitu, OJK melihat masifnya investasi di sektor kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) masih berpotensi menjadi penopang pertumbuhan ekonomi global.
Selain faktor geopolitik, OJK juga menyoroti kebijakan tarif baru yang mulai diterapkan pemerintah Amerika Serikat terhadap sekitar 60 negara mitra dagang sebagai pengganti tarif sementara sebelumnya. Kebijakan tersebut dinilai berpotensi menambah tekanan terhadap aktivitas perdagangan internasional.
Kiki menyebut, kenaikan tekanan di pasar energi global telah meningkatkan premi risiko dan berpotensi berlanjut apabila ketegangan geopolitik belum mereda.
OJK juga mencermati sejumlah indikator ekonomi global yang masih menunjukkan pelemahan. Aktivitas manufaktur di berbagai negara berkembang masih terbatas, sementara ekonomi China mencatat pertumbuhan terendah dalam beberapa periode terakhir di tengah lemahnya konsumsi domestik dan investasi swasta. Di negara tersebut, ekspor masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi.
Sementara itu, inflasi di kawasan Eropa dan Inggris terus menunjukkan tren penurunan. Di pasar keuangan global, pergerakan aset berlangsung bervariasi dengan arus keluar dana investor asing (non-resident outflow) kembali terjadi, meski tidak sebesar periode sebelumnya.
“Di tengah perkembangan tersebut, OJK terus memantau berbagai risiko yang dapat mempengaruhi stabilitas sektor jasa keuangan domestik,” pungkasnya.
