Kumparan Logo

Harga Minyak Anjlok 40% dari Level Tertingginya saat Puncak Perang Iran-Israel

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi pengeboran minyak. Foto: Asif 31/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pengeboran minyak. Foto: Asif 31/Shutterstock

Harga minyak dunia telah anjlok sekitar 40 persen dari level tertingginya saat puncak perang Iran-Israel. Saat perang mencapai puncaknya pada akhir April 2026, harga minyak Brent sempat melonjak hingga sekitar USD 126 per barel, sedangkan WTI menyentuh sekitar USD 111,5 per barel.

Kini, keduanya masing-masing berada di level USD 73,74 dan USD 70,34 per barel, atau sekitar 40 persen lebih rendah dibanding level tertinggi saat perang memanas.

Penurunan ini terjadi seiring kembali normalnya lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz serta munculnya kemajuan dalam pembicaraan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, yang meredakan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan minyak.

Mengutip Bloomberg, Kamis (25/6), harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 3,92 persen menjadi USD 70,34 per barel, level terendah sejak akhir Februari. Sementara itu, minyak Brent melemah 4,33 persen ke USD 73,74 per barel, juga menjadi posisi terendah sejak perang Iran-Israel pecah.

Ilusrasi Kilang Minyak Iran. Foto: GreenOak/Shutterstock

Chief Executive Infrastructure Capital Management, Jay Hatfield, mengatakan harga minyak berpotensi terus turun jika pasokan kembali meningkat.

"Harga minyak turun tajam karena Selat Hormuz tetap terbuka dan pelaku pasar mulai memperhitungkan kemungkinan OPEC, termasuk Iran, meningkatkan produksi hingga kapasitas maksimal," ujar Hatfield.

Ia memperkirakan harga WTI bahkan bisa turun di bawah USD 60 per barel dalam dua bulan ke depan apabila produksi meningkat dan persediaan minyak kembali bertambah.

Kondisi tersebut didukung oleh semakin banyaknya kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz dengan sistem pelacak satelit tetap aktif. Hal ini menunjukkan meningkatnya kepercayaan pemilik kapal terhadap keamanan jalur pelayaran yang sebelum perang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Organisasi Maritim Internasional (IMO) juga menyatakan telah menerima jaminan keamanan yang memungkinkan ratusan kapal keluar dari Teluk Persia.

Di sisi lain, Washington dan Teheran sama-sama mengisyaratkan adanya kemajuan awal dalam pembicaraan untuk mengakhiri perang, meski negosiasi diperkirakan masih akan berlangsung panjang. Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan Uni Emirat Arab (UEA) kini mengekspor minyak hampir 85 persen dari level sebelum perang.

Ilustrasi Selat Hormuz. Foto: La Terase/Shutterstock

Meski data terbaru menunjukkan persediaan minyak mentah AS turun ke level terendah sejak 1984, pelaku pasar lebih memperhatikan membaiknya kondisi pasokan global. Indikator utama pasar minyak bahkan kembali masuk ke struktur contango, yang umumnya mencerminkan ekspektasi pasokan akan lebih melimpah dibanding permintaan dalam waktu dekat.

Analis TP ICAP, Scott Shelton, mengatakan pasar minyak fisik kini jauh lebih lemah dibanding perkiraan sebelumnya.

"Saya rasa pasar minyak fisik di Asia dan Eropa jauh lebih lemah daripada yang diperkirakan banyak orang. Brent kini juga kembali berada dalam kondisi contango. Kondisi ini mengurangi minat beli di pasar minyak sehingga harga lebih mudah turun," kata Shelton.

Dalam beberapa pekan terakhir, UEA sendiri telah mengekspor sekitar 60 juta barel minyak dari wilayah Teluk Persia.

Sementara itu, Senat AS yang dikuasai Partai Republik pada Selasa (24/6) mengesahkan resolusi simbolis untuk mengakhiri keterlibatan AS dalam perang dengan Iran. Meski diperkirakan tidak mengubah kebijakan pemerintah, langkah tersebut dinilai menjadi sinyal bahwa Presiden Donald Trump belum memperoleh dukungan penuh di dalam negeri terkait operasi militer tersebut.

Secara terpisah, Trump mengatakan telah memerintahkan Departemen Kehakiman AS menyelidiki alasan harga bensin belum turun lebih cepat meski harga minyak mentah terus melemah. Rata-rata harga bensin eceran di AS telah turun 14 persen sejak akhir Mei dan kini berada di bawah USD 4 per galon, sedangkan harga diesel turun di bawah USD 5 per galon untuk pertama kalinya sejak pertengahan Maret.

instagram embed