Malaysia Batalkan Rencana Akuisisi Pemasok Paspor Senilai USD 1,9 Miliar

Pemerintah Malaysia membatalkan rencana akuisisi Datasonic Technologies Sdn., perusahaan pemasok paspor dan kartu identitas nasional Malaysia.
Keputusan tersebut diambil sehari setelah induk usaha Datasonic, NexG Bhd., mengungkapkan bahwa pemerintah Malaysia tengah mempertimbangkan potensi akuisisi senilai 7,5 miliar ringgit atau sekitar USD 1,9 miliar.
“Pemerintah telah memutuskan untuk tidak mengakuisisi Datasonic Technologies, sembari terus mengeksplorasi langkah-langkah untuk menjaga keamanan dan kedaulatan identitas warga serta memastikan nilai terbaik dalam penggunaan dana publik,” demikian pernyataan Dewan Keamanan Nasional Malaysia, dikutip dari Bloomberg, Minggu (23/8).
Meski demikian, pemerintah akan tetap mencari langkah-langkah untuk menjaga keamanan dan kedaulatan identitas warga, sekaligus memastikan penggunaan anggaran publik tetap memberikan nilai yang optimal.
NexG menyatakan Kementerian Keuangan Malaysia dalam pertemuan pada 24 Juli lalu telah meminta Datasonic untuk memberikan indikasi harga dalam rencana pengambilalihan tersebut. Namun, perusahaan mengatakan permintaan itu disampaikan secara lisan dan tidak disertai dokumen tertulis.
Kementerian Keuangan Malaysia sebelumnya juga menolak memberikan komentar terkait kabar tersebut.
Datasonic merupakan bisnis utama NexG dan menjadi kontributor terbesar terhadap pendapatan serta laba perusahaan. Perusahaan saat ini memegang kontrak penyediaan paspor dan kartu identitas untuk pemerintah Malaysia hingga 2032 dengan nilai total sekitar 2,46 miliar ringgit.
NexG menilai Datasonic sekitar 7,5 miliar ringgit. Namun, perusahaan menegaskan angka tersebut bukan merupakan hasil penilaian independen.
Rencana pelepasan Datasonic juga dinilai dapat berdampak besar terhadap operasional NexG. Perusahaan sebelumnya menyebut penjualan unit bisnis tersebut bahkan berpotensi memengaruhi kelangsungan status pencatatan NexG di Bursa Malaysia.
Di sisi lain, NexG belakangan menjadi pusat perselisihan korporasi. Mantan eksekutif perusahaan, Victor Chin, sebelumnya menyebut NexG menjadi sasaran upaya pengambilalihan yang ia sebut sebagai pembajakan perusahaan oleh pengusaha sektor tenaga kerja, Aminul Islam. Dia juga mengaitkan perkara tersebut dengan dugaan keterlibatan jaringan yang disebutnya sebagai mafia korporasi termasuk aparat penegak hukum.
