Kumparan Logo

Menkeu Pede Ekonomi RI Tumbuh 5,5 Persen pada 2026 di Tengah Tekanan Global

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri Keuangan Suahasil Nazara bersiap memberikan keterangan pers terkait pelunasan utang obligasi BLBI usai bertemu dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (22/9/2026). Foto: Hafidz Mubarak A/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Keuangan Suahasil Nazara bersiap memberikan keterangan pers terkait pelunasan utang obligasi BLBI usai bertemu dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (22/9/2026). Foto: Hafidz Mubarak A/ANTARA FOTO

Menteri Keuangan (Menkeu) Suahasil Nazara optimistis perekonomian Indonesia tetap tumbuh kuat sepanjang 2026, meskipun dihadapkan pada tekanan ekonomi global akibat eskalasi konflik geopolitik dan kebijakan moneter ketat di sejumlah negara maju.

Suahasil memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada di kisaran 5,4-5,5 persen secara tahunan (year on year/yoy). Optimisme tersebut ditopang oleh kuatnya permintaan domestik dan kinerja ekspor yang positif.

“Kalau saya kata-kata bahwa mungkin pertumbuhan masih akan tetap kuat, dukungannya itu dari kegiatan ekonomi domestik, APBN-nya sendiri terus berfungsi sebagai shock absorber, stimulus untuk masyarakat berjalan, stabilisasi harga pangan, harga energi juga kita jalankan selama ini,” kata Suahasil dalam konferensi pers KSSK, dikutip Rabu (4/11).

Dia menjelaskan, konsumsi rumah tangga masih akan didukung berbagai stimulus fiskal pemerintah. APBN juga akan terus berperan sebagai peredam gejolak ekonomi melalui subsidi, kompensasi, perlindungan sosial, stabilisasi harga pangan, hingga program penciptaan lapangan kerja.

Petugas menunjukkan pecahan mata uang Rupiah dan Dolar AS di Kantor Cabang BNI Pasar Baru, Jakarta, Kamis (20/8/2026). Foto: Muhammad Adimaja/ANTARA FOTO

Selain konsumsi, investasi diperkirakan tetap tumbuh kuat seiring berlanjutnya proyek hilirisasi dan pembangunan infrastruktur dalam program prioritas pemerintah.

“Dan investasi kita berkira kuat dengan berbagai macam proyek hilirisasi dengan nilai tambah tinggi,” ujarnya.

Suahasil juga menilai sektor pertanian masih memiliki prospek pertumbuhan yang baik meskipun menghadapi ancaman fenomena El Nino. Menurutnya, ketahanan sektor pertanian Indonesia masih cukup baik dalam menghadapi kondisi tersebut.

Di sisi eksternal, ekspor nonmigas juga menunjukkan perkembangan positif dan didorong oleh momentum kenaikan harga serta permintaan komoditas ekspor.

Sejumlah indikator ekonomi turut menunjukkan kinerja positif. Penjualan mobil dan sepeda motor pada September 2026 masing-masing tumbuh 28,1 persen dan 15,4 persen secara tahunan. Sementara itu, Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia meningkat dari 52 pada September menjadi 54 pada Oktober 2026, yang menunjukkan aktivitas manufaktur masih berada di zona ekspansi.

Meski demikian, Suahasil mengakui prospek ekonomi global masih dibayangi ketidakpastian. Eskalasi konflik di Timur Tengah mendorong tingginya harga minyak dan sejumlah komoditas lainnya.

Selain itu, kebijakan moneter ketat di negara-negara maju turut meningkatkan risiko bagi perekonomian negara berkembang. Kondisi tersebut berpotensi menahan aliran modal masuk ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Calon Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengikuti uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) bersama Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (26/8/2026). Foto: Rivan Awal Lingga/ANTARA FOTO

Dana Moneter Internasional (IMF) dalam World Economic Outlook Oktober 2026 memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global sebesar 3,1 persen pada 2026, melambat dibandingkan 2025. Sementara itu, inflasi global diperkirakan meningkat menjadi 4,7 persen.

Pemerintah bersama Bank Indonesia (BI) akan terus memperkuat sinergi kebijakan untuk menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang bernilai tambah tinggi.

Adapun realisasi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III 2026 masih menunggu pengumuman Badan Pusat Statistik (BPS) yang dijadwalkan pada 5 November 2026.

“Kita tunggu saja angkanya, dan nanti setelah dikeluarkan angka oleh BPS, tentu kita akan menyampaikan dan juga melakukan analisis terhadap bagaimana kinerja ekonomi Indonesia di kuartal III 2026 ini,” kata Suahasil.