Mochtar Riady hingga Low Tuck Kwong, Konglomerat RI di Balik NUS Business School

Ada yang menarik saat kumparan menyambangi NUS Business School di Singapura. Di salah satu gedungnya, terpampang nama yang tak asing bagi masyarakat Indonesia: Mochtar Riady.
Nama pendiri Lippo Group itu tertera pada Mochtar Riady Building, salah satu gedung di NUS Business School, bagian dari National University of Singapore (NUS).
Tak jauh dari sana, di kawasan University Town (UTown), terdapat Stephen Riady Centre. Nama putra Mochtar Riady tersebut juga diabadikan di salah satu fasilitas kampus NUS.
Kehadiran nama-nama itu menjadi penanda kontribusi konglomerat Indonesia terhadap dunia pendidikan di Singapura. Namun, dukungan mereka tak hanya terlihat dari nama yang terpasang pada bangunan. Ada pula sumbangan untuk mendukung kegiatan akademik, fasilitas penelitian, hingga beasiswa bagi mahasiswa.
Dekan NUS Business School, Profesor Teo Chung Piaw, mengatakan kontribusi alumni dan para donatur hadir dalam berbagai bentuk. Selain gedung, ada yang mendanai laboratorium, memberikan nama pada ruang kelas, serta mendukung mahasiswa melalui bantuan pendidikan.
"Alumni kami tidak hanya menyumbangkan gedung. Sebagai contoh, Low Tuck Kwong menyumbangkan sebuah laboratorium. Perusahaannya berinvestasi dalam laboratorium yang dilengkapi hewan, bukan hanya fasilitas yang biasa ada di sekolah bisnis," kata Teo dalam diskusi dengan media dari Indonesia di The Ridge, NUS Business School, Singapura, Kamis (8/10).
Menurut Teo, sejumlah ruang kelas di Mochtar Riady Building juga menggunakan nama individu yang memberikan dukungan. Ada pula ruang kelas yang dinamai untuk mengenang profesor yang telah meninggal dunia.
"Dalam konteks Indonesia, kami memiliki banyak dana beasiswa dan bantuan pendidikan. Alumni kami sangat antusias terhadap pendidikan," ujarnya.
Dari Gedung dan Posisi Profesor hingga Beasiswa
Mochtar Riady merupakan salah satu pengusaha Indonesia yang memiliki jejak di NUS Business School. Ia mendirikan Lippo Group, kelompok usaha yang berkembang di berbagai sektor, termasuk jasa keuangan dan properti.
Kontribusi yang berkaitan dengan keluarga Riady juga tercatat dalam pendanaan posisi profesor di NUS Business School. Pada 2007, Lippo Group memberikan sumbangan sebesar S$3 juta untuk mendirikan Stephen Riady Distinguished Professorship. Pada tahun yang sama, perusahaan tersebut juga memberikan S$3 juta untuk James Riady Distinguished Professorship.
Stephen Riady merupakan putra Mochtar Riady yang dikenal melalui kiprahnya di dunia usaha, termasuk sebagai Executive Chairman OUE Limited. Sementara itu, James Riady merupakan putra Mochtar Riady yang memimpin bisnis keluarga di Indonesia.
Kedua posisi profesor tersebut menjadi contoh kontribusi yang berbeda dari pembangunan gedung. Pendanaan posisi profesor mendukung pengembangan akademisi, pengajaran, dan penelitian di lingkungan sekolah bisnis.
Nama pengusaha Indonesia lainnya yang tercatat dalam pendanaan akademik NUS Business School adalah Low Tuck Kwong, pendiri Bayan Resources.
Berdasarkan catatan resmi NUS Business School, Low Tuck Kwong memberikan sumbangan sebesar S$3 juta pada 2011 untuk mendirikan Low Tuck Kwong Distinguished Professorship. Namanya juga tercantum dalam daftar donatur sekolah bisnis tersebut.
Selain dukungan bagi kegiatan akademik, pengusaha Indonesia turut membantu mahasiswa melalui beasiswa dan bantuan biaya pendidikan.
Dato' Sri Tahir, pendiri Mayapada Group, misalnya, mendukung Tahir Financial Scholarship yang didirikan pada 2006 untuk mahasiswa yang membutuhkan bantuan keuangan. Pada 2009, Tahir Indonesian Scholarship juga didirikan untuk mendukung mahasiswa sarjana asal Indonesia yang membutuhkan bantuan finansial.
Tahir turut mendukung Tahir Student Exchange Award, yang memberikan bantuan kepada mahasiswa yang membutuhkan dukungan keuangan untuk mengikuti program pertukaran pelajar.
Kontribusi serupa datang dari Alim Markus, Presiden Direktur Maspion Group. NUS Business School mencatat Alim Markus Bursary didirikan pada 2012 untuk membantu mahasiswa sarjana yang membutuhkan dukungan keuangan, dengan prioritas bagi mahasiswa Indonesia.
Alim Markus sendiri merupakan alumnus program Executive Education NUS Business School dan anggota Mandarin Alumni sekolah tersebut.
Teo mengatakan, dukungan untuk mahasiswa Indonesia menjadi salah satu bentuk kontribusi alumni yang terlihat di NUS Business School. Sekolah bisnis itu memiliki sejumlah beasiswa dan bantuan pendidikan yang didanai oleh para alumninya.
"Kami juga memiliki beberapa bantuan pendidikan dan beasiswa yang secara khusus ditujukan bagi mahasiswa Indonesia," ujar Teo.
Ia kemudian mencontohkan keluarga Sitorus. Menurut Teo, Jocelyn Sitorus dan suaminya merupakan alumni NUS Business School yang turut memberikan donasi untuk beasiswa dan bantuan pendidikan. Teo mengatakan dirinya juga menjaga hubungan secara pribadi dengan pasangan tersebut.
Jejak Pengusaha Indonesia di Kampus Singapura
Kontribusi pengusaha dari Indonesia terhadap pendidikan tinggi di Singapura memiliki akar sejarah yang lebih panjang daripada keberadaan NUS Business School modern.
Salah satu tokoh historis yang relevan adalah Oei Tiong Ham, pengusaha kelahiran Semarang yang membangun Oei Tiong Ham Concern, salah satu kelompok usaha besar di Asia Tenggara pada masanya.
Menurut catatan resmi NUS, Oei Tiong Ham menyumbangkan S$150.000 untuk pembangunan aula di Raffles College, salah satu institusi pendahulu NUS. Aula tersebut kemudian dikenal sebagai Oei Tiong Ham Hall, sementara bangunannya kini dikenal sebagai Oei Tiong Ham Building di kampus Bukit Timah.
Kontribusi Oei Tiong Ham bukan merupakan donasi langsung kepada NUS Business School modern. Namun, kisahnya memberikan konteks historis tentang hubungan antara pengusaha dari Indonesia dan pendidikan tinggi di Singapura.
Dalam perkembangan yang lebih baru, dukungan para pengusaha dan perusahaan Indonesia hadir melalui beragam program. Selain Lippo Group dan Low Tuck Kwong, daftar donatur NUS Business School juga mencantumkan Tahir, Stephen Riady Foundation, dan Tanoto Foundation.
Besaran serta tujuan setiap kontribusi berbeda. Karena itu, sumbangan perusahaan, yayasan, dan individu perlu dibedakan agar tidak menimbulkan kesan bahwa seluruh dana berasal dari kekayaan pribadi tokoh yang namanya digunakan.
Bagi Teo, semangat alumni dalam mendukung pendidikan merupakan bagian penting dari ekosistem sekolah bisnis. Dukungan tersebut membantu pengembangan fasilitas, kegiatan akademik, serta kesempatan belajar bagi mahasiswa yang membutuhkan bantuan keuangan.
