Kumparan Logo

Nasdaq Masuk Zona Koreksi, Saham Nvidia Rontok Lebih dari 9 Persen

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Nasdaq. Foto: Shutterstock AI/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Nasdaq. Foto: Shutterstock AI/Shutterstock

Bursa saham Amerika Serikat (AS) mengalami aksi jual besar-besaran pada perdagangan Kamis (5/11). Indeks Nasdaq Composite anjlok 5,52 persen ke posisi 24.315 poin, mencatatkan penurunan harian terdalam dalam 19 bulan terakhir sekaligus resmi memasuki zona koreksi teknikal.

Indeks S&P 500 turut merosot 4,36 persen ke level 7.353,73 poin. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average melemah 3,44 persen menjadi 51.523,06 poin. Meski mengalami tekanan tajam, secara akumulasi sepanjang 2026 S&P 500 masih menguat 7,4 persen dan Nasdaq naik 4,6 persen.

Dikutip dari Reuters, Jumat (6/11), aksi jual dipicu kekhawatiran investor terhadap potensi pengetatan regulasi industri kecerdasan buatan (AI) setelah Partai Demokrat memenangkan sejumlah kursi dalam pemilu paruh waktu AS pada Selasa (3/11).

Kemenangan tersebut, termasuk di sejumlah wilayah yang semakin menentang pembangunan pusat data (data center), memunculkan kekhawatiran bahwa kebijakan yang lebih ketat dapat memperlambat ekspansi infrastruktur AI.

Padahal, pembangunan pusat data dan infrastruktur pendukungnya selama ini menjadi salah satu pendorong utama reli saham teknologi AS hingga mencetak rekor tertinggi sepanjang tahun ini.

Tekanan paling besar terjadi pada saham semikonduktor. Saham Nvidia (NVDA) anjlok lebih dari 9 persen, sedangkan Philadelphia SE Semiconductor Index (SOX), yang mengukur kinerja saham-saham semikonduktor, terperosok lebih dari 12 persen.

Aksi jual tersebut turut menghapus sekitar USD 3 triliun kapitalisasi pasar perusahaan-perusahaan yang tergabung dalam indeks S&P 500.

Nasdaq bahkan mencatatkan penurunan harian terdalam sejak Presiden AS Donald Trump mengumumkan kebijakan tarif Liberation Day pada April 2025. Indeks tersebut juga resmi memasuki koreksi teknikal, yakni penurunan minimal 10 persen dari level penutupan tertinggi sepanjang masa yang dicapai pada 6 Oktober.

Kepala Global Investment Decision Research di SimCorp, Melissa Brown, mengatakan investor mulai memperhitungkan kemungkinan perubahan kebijakan terhadap pembangunan infrastruktur AI.

“Investor tampaknya mulai menyadari bahwa sejumlah anggota Kongres dan gubernur yang baru terpilih ingin memperlambat laju pembangunan infrastruktur AI,” kata Brown.

Menurut dia, meskipun pembangunan infrastruktur AI kecil kemungkinan dihentikan sepenuhnya, perlambatan proyek tetap dapat memicu kekhawatiran pasar. Sebab, pertumbuhan industri AI selama ini sangat bergantung pada pembangunan infrastruktur pendukung secara cepat.

Saham Teknologi dan Pusat Data Berguguran

CEO Nvidia Jensen Huang berbicara dalam pertemuan internal perusahaan di lahan kavling T17 dan T18 mereka di Shilin-Beitou Technology Park di Taipei, Taiwan, Rabu (27/5/2026). Foto: I-HWA CHENG/AFP

Tekanan tidak hanya menimpa saham semikonduktor. Sejumlah perusahaan teknologi berkapitalisasi besar juga terkoreksi setelah mencatatkan penguatan pada perdagangan Rabu (4/11).

Saham Meta Platforms (META) turun 4 persen. Amazon.com (AMZN) dan Alphabet (GOOGL) masing-masing melemah 2,2 persen.

Sementara itu, saham perusahaan yang bergerak di bidang pusat data mengalami penurunan lebih dalam. IREN (IREN) dan Applied Digital (APLD) masing-masing anjlok lebih dari 14 persen. CoreWeave (CRWV) juga merosot hampir 10 persen.

Tekanan turut menjalar ke perusahaan utilitas dan pemasok peralatan yang memiliki eksposur terhadap industri AI. Saham GE Vernova (GEV) turun 7,5 persen, sedangkan Constellation Energy (CEG) melemah 2,5 persen.

Saham Tesla (TSLA) juga ikut terkoreksi. Sementara itu, saham Qualcomm (QCOM) turun 9,5 persen setelah perusahaan semikonduktor tersebut melaporkan proyeksi penjualan chip untuk ponsel pintar pada kuartal IV yang berada di bawah ekspektasi Wall Street.

Manajer portofolio Argent Capital Management, Jed Ellerbroek, menilai aksi jual kali ini menunjukkan tekanan besar terhadap saham-saham yang selama ini diuntungkan oleh belanja modal pembangunan pusat data.

“Ini terasa seperti fase kapitulasi bagi saham-saham yang diuntungkan dari belanja modal pusat data, terutama saham semikonduktor. Namun, menurut saya, besarnya pergerakan ini terlalu berlebihan,” kata Ellerbroek.

Aktivitas perdagangan di bursa AS juga melonjak. Sebanyak 26,9 miliar saham berpindah tangan, jauh di atas rata-rata volume perdagangan selama 20 sesi sebelumnya yang mencapai 17,7 miliar saham.

Investor Nantikan Data Tenaga Kerja AS

Seorang pemilih mendatangi pos pemadam kebakaran untuk memberikan hak suaranya pada Pemilu Sela AS di Chapin, South Carolina, AS, Selasa (3/11/2026). Foto: Sam Wolfe/REUTERS

Penurunan tajam tersebut berbalik dari perdagangan sehari sebelumnya. Pada Rabu (4/11), S&P 500 justru mencatatkan kenaikan persentase harian terbesar dalam tiga bulan terakhir seiring meredanya ketidakpastian politik yang mendorong investor kembali mengambil risiko.

Sejumlah analis menilai pemerintahan AS yang terbagi antara Partai Demokrat dan Republik berpotensi membatasi perubahan kebijakan legislatif secara drastis. Kondisi tersebut juga dapat mempersulit tercapainya kesepakatan mengenai belanja fiskal pemerintah.

Dari sisi kebijakan moneter, perhatian investor juga tertuju pada sinyal suku bunga dari sejumlah pejabat Federal Reserve (The Fed). Presiden Federal Reserve Cleveland Beth Hammack dan Kepala The Fed Richmond Thomas Barkin pada Kamis memberikan sinyal mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga pada masa mendatang.

Selanjutnya, pelaku pasar menantikan rilis data ketenagakerjaan nonpertanian atau nonfarm payrolls AS periode Oktober yang dijadwalkan pada Jumat.

Di pasar keuangan, para trader mulai memperhitungkan kemungkinan The Fed kembali menaikkan suku bunga pada bulan depan, setelah kenaikan suku bunga pada September.