Nepal Butuh Rp 88 T untuk Pulih, Buka Donasi & Bantuan Asing Cari Korban Hilang

Nepal diperkirakan membutuhkan dana hingga USD 4 miliar hingga USD 5 miliar atau sekitar Rp 70,4 triliun hingga Rp 88 triliun (kurs Rp 17.600 per USD) untuk membangun kembali wilayah yang terdampak banjir dahsyat pada pekan ini. Perkiraan tersebut disampaikan Menteri Keuangan Nepal Swarnim Wagle.
Mengutip Reuters, Minggu (30/8), nilai kebutuhan rekonstruksi tersebut setara dengan hampir sepersepuluh ukuran perekonomian Nepal. Namun, angka itu masih merupakan perkiraan awal karena pemerintah masih melakukan penilaian terhadap kerugian dan kerusakan yang ditimbulkan akibat bencana.
“Perkiraan awalnya adalah USD 4-5 miliar. Ini baru perkiraan. Kami akan membutuhkan jauh lebih sedikit dibandingkan dengan kebutuhan setelah gempa bumi 2015. Kerugian dan kerusakan masih dalam proses penilaian,” katanya.
Banjir di Nepal meratakan sejumlah kota, menghanyutkan jembatan dan jalan, serta merusak sejumlah pembangkit listrik tenaga air utama.
Wagle tidak menjelaskan lebih lanjut alasan biaya rekonstruksi kali ini diperkirakan lebih rendah dibandingkan dengan kebutuhan setelah gempa bumi pada 2015. Saat itu, Nepal mengeluarkan USD 9 miliar atau sekitar Rp 159,8 triliun untuk proses pembangunan kembali setelah gempa berkekuatan 7,8 magnitudo.
Gempa pada 2015 menjadi bencana terparah yang pernah tercatat di Nepal. Bencana tersebut menewaskan hampir 9.000 orang dan menghancurkan lebih dari 500.000 rumah. Kerugian akibat gempa diperkirakan mencapai sekitar sepertiga dari perekonomian Nepal.
Meski diperkirakan membutuhkan biaya rekonstruksi yang lebih rendah dibandingkan gempa 2015, banjir yang terjadi pada Rabu tetap menjadi pukulan besar bagi perekonomian Nepal.
Perekonomian Nepal bergantung pada remitansi, pariwisata, dan tenaga hidroelektrik. Sementara itu, banjir merusak proyek-proyek pembangkit listrik yang menyumbang lebih dari 12 persen kapasitas pembangkitan listrik nasional.
Setara 11 Persen Perekonomian Nepal
Perkiraan kebutuhan pembangunan kembali Nepal juga disampaikan oleh satu-satunya miliarder di negara tersebut, Binod Chaudhary. Mengutip Bloomberg, upaya membangun kembali infrastruktur Nepal setelah banjir bandang dahsyat yang terjadi pekan ini dapat menelan biaya setidaknya USD 5 miliar atau sekitar Rp 88,8 triliun.
“Saya tidak akan terkejut jika biaya akhirnya mencapai tingkat tersebut,” kata Binod Chaudhary, Chairman Chaudhary Group, di Bloomberg TV.
Jumlah tersebut setara dengan sekitar 11 persen perekonomian Nepal. Ekonomi Nepal tercatat sebesar USD 45,5 miliar atau sekitar Rp 807,9 triliun pada tahun lalu.
Chaudhary menilai proses pemulihan tidak hanya akan menghadapi persoalan pembiayaan. Kondisi geografis Nepal juga menjadi salah satu tantangan dalam proses pembangunan kembali wilayah yang terdampak.
“Ini bukan hanya soal uang, tetapi juga waktu yang dibutuhkan dan kondisi geografis yang sulit,” kata Chaudhary.
Chaudhary Group sendiri memiliki 12 lini bisnis, mulai dari makanan dan telekomunikasi hingga infrastruktur dan perbankan. Menurut Chaudhary, proses rehabilitasi serta upaya menggerakkan kembali perekonomian akan menjadi pekerjaan besar.
“Ini adalah persoalan yang sangat besar yang ada di depan kita,” katanya mengenai proses rehabilitasi sekaligus upaya untuk menggerakkan kembali perekonomian.
Banjir bandang menerjang wilayah pegunungan Nepal di perbatasan dengan China pada 26 Agustus. Banjir menenggelamkan desa-desa serta menghanyutkan jalan dan jembatan.
Sedikitnya 469 orang telah dikonfirmasi meninggal dunia, menurut kepolisian. Sementara itu, sekitar 1.200 orang masih hilang, termasuk ratusan wisatawan asing.
Investigasi awal menunjukkan bahwa mencairnya gletser mungkin menjadi pemicu bencana tersebut.
Dampak banjir juga dirasakan pada sektor pembangkit listrik. Sejumlah pembangkit mengalami kerusakan akibat bencana yang melumpuhkan aktivitas di wilayah terdampak.
“Kami melihat adanya gangguan yang sepenuhnya melumpuhkan aktivitas,” kata Chaudhary, seraya mencatat bahwa pembangkit-pembangkit listrik juga mengalami kerusakan.
Chaudhary Group kemudian bekerja sama dengan pemerintah, mitra lokal, dan militer dalam upaya penanganan dampak bencana.
Nepal Terima Bantuan Asing Cari Korban Hilang hingga Buka Donasi
Pemerintah Nepal membuka pintu bagi bantuan tenaga ahli asing untuk mempercepat pencarian korban banjir bandang yang masih hilang. Di tengah operasi penyelamatan, pemerintah juga membuka kanal donasi resmi dan dana yang terkumpul untuk korban banjir telah melampaui Rs 5 miliar.
Pemerintah Nepal sebelumnya menolak bantuan tim pencarian dan penyelamatan dari luar negeri karena menilai aparat dalam negeri mampu menangani operasi di wilayah terdampak banjir bandang Bhotekoshi. Namun, kebijakan itu kemudian berubah setelah muncul tekanan diplomatik dari sejumlah negara yang warganya ikut dilaporkan hilang.
Dikutip dari The Kathamndu Post, Nepal akhirnya mengizinkan India, China, Australia, dan Korea Selatan mengirimkan tenaga ahli untuk membantu operasi penyelamatan di terowongan, tes DNA, dan pemeriksaan forensik. Bantuan tersebut diperlukan terutama untuk mencari korban yang diduga masih terjebak di sejumlah terowongan proyek pembangkit listrik tenaga air serta mengidentifikasi banyak jenazah.
“Kami mendapat tekanan besar dari komunitas internasional agar setidaknya mengizinkan tim pencarian dan penyelamatan serta sejumlah tenaga ahli masuk, karena warga negara mereka juga hilang dalam banjir ini. Kami akan mengizinkan sejumlah terbatas tenaga ahli untuk membantu di bidang-bidang tertentu," kata seorang pejabat senior pemerintah Nepal kepada The Kathmandu Post.
Bantuan internasional juga menjadi penting karena banyak warga negara asing terdampak bencana tersebut. Dalam laporan awal, 517 warga asing dari 31 negara termasuk di antara ratusan orang yang masih dilaporkan hilang.
Di sisi lain, pemerintah Nepal juga membuka penggalangan dana melalui Prime Minister’s Disaster Relief Fund bagi para korban banjir. Berdasarkan laman resmi Kedutaan Besar Nepal, pemerintah telah menyediakan kanal donasi online resmi untuk dana tersebut. Kanal Donasi Resmi Prime Minister Disaster Relief Fund
Penggalangan dana itu mendapat respons besar. Nepal News, mengutip Office of the Prime Minister and Council of Ministers, melaporkan hingga Sabtu siang dana yang terkumpul telah mencapai Rs 5,04 miliar di rekening-rekening Prime Minister’s Disaster Relief Fund. Selain itu, terdapat USD 1,81 juta yang terkumpul di rekening dolar AS yang ditunjuk pemerintah.
