Kumparan Logo

Nepal Butuh Rp 88 T untuk Pulihkan Infrastruktur usai Banjir Bandang

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Alat berat dikerahkan untuk membuka akses jalan yang tertutup saat operasi penyelamatan banjir bandang di Gyirong, Shigatse, Daerah Otonom Tibet, China, Jumat (28/8/2026). Foto: cnsphoto/via REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Alat berat dikerahkan untuk membuka akses jalan yang tertutup saat operasi penyelamatan banjir bandang di Gyirong, Shigatse, Daerah Otonom Tibet, China, Jumat (28/8/2026). Foto: cnsphoto/via REUTERS

Nepal diperkirakan membutuhkan dana hingga USD 4 miliar hingga USD 5 miliar atau sekitar Rp 70,4 triliun hingga Rp 88 triliun (kurs Rp 17.600 per USD) untuk membangun kembali wilayah yang terdampak banjir dahsyat pada pekan ini. Perkiraan tersebut disampaikan Menteri Keuangan Nepal Swarnim Wagle.

Mengutip Reuters, Minggu (30/8), nilai kebutuhan rekonstruksi tersebut setara dengan hampir sepersepuluh ukuran perekonomian Nepal. Namun, angka itu masih merupakan perkiraan awal karena pemerintah masih melakukan penilaian terhadap kerugian dan kerusakan yang ditimbulkan akibat bencana.

“Perkiraan awalnya adalah USD 4-5 miliar. Ini baru perkiraan. Kami akan membutuhkan jauh lebih sedikit dibandingkan dengan kebutuhan setelah gempa bumi 2015. Kerugian dan kerusakan masih dalam proses penilaian,” katanya.

Banjir di Nepal meratakan sejumlah kota, menghanyutkan jembatan dan jalan, serta merusak sejumlah pembangkit listrik tenaga air utama.

Wagle tidak menjelaskan lebih lanjut alasan biaya rekonstruksi kali ini diperkirakan lebih rendah dibandingkan dengan kebutuhan setelah gempa bumi pada 2015. Saat itu, Nepal mengeluarkan USD 9 miliar atau sekitar Rp 159,8 triliun untuk proses pembangunan kembali setelah gempa berkekuatan 7,8 magnitudo.

Gempa pada 2015 menjadi bencana terparah yang pernah tercatat di Nepal. Bencana tersebut menewaskan hampir 9.000 orang dan menghancurkan lebih dari 500.000 rumah. Kerugian akibat gempa diperkirakan mencapai sekitar sepertiga dari perekonomian Nepal.

Kondisi lumpur yang menutupi pemukiman warga pascabencana banjir bandang di Trishuli, Distrik Nuwakot, Nepal, Kamis (27/8/2026). Foto: Navesh Chitrakar/REUTERS

Meski diperkirakan membutuhkan biaya rekonstruksi yang lebih rendah dibandingkan gempa 2015, banjir yang terjadi pada Rabu tetap menjadi pukulan besar bagi perekonomian Nepal.

Perekonomian Nepal bergantung pada remitansi, pariwisata, dan tenaga hidroelektrik. Sementara itu, banjir merusak proyek-proyek pembangkit listrik yang menyumbang lebih dari 12 persen kapasitas pembangkitan listrik nasional.

Setara 11 Persen Perekonomian Nepal

Perkiraan kebutuhan pembangunan kembali Nepal juga disampaikan oleh satu-satunya miliarder di negara tersebut, Binod Chaudhary. Mengutip Bloomberg, upaya membangun kembali infrastruktur Nepal setelah banjir bandang dahsyat yang terjadi pekan ini dapat menelan biaya setidaknya USD 5 miliar atau sekitar Rp 88,8 triliun.

“Saya tidak akan terkejut jika biaya akhirnya mencapai tingkat tersebut,” kata Binod Chaudhary, Chairman Chaudhary Group, di Bloomberg TV.

Jumlah tersebut setara dengan sekitar 11 persen perekonomian Nepal. Ekonomi Nepal tercatat sebesar USD 45,5 miliar atau sekitar Rp 807,9 triliun pada tahun lalu.

Sebuah bangunan tertutup lumpur menyusul banjir bandang di Trishuli di distrik Nuwakot, Nepal, Rabu (26/8/2026). Foto: Navesh Chitrakar/REUTERS

Chaudhary menilai proses pemulihan tidak hanya akan menghadapi persoalan pembiayaan. Kondisi geografis Nepal juga menjadi salah satu tantangan dalam proses pembangunan kembali wilayah yang terdampak.

“Ini bukan hanya soal uang, tetapi juga waktu yang dibutuhkan dan kondisi geografis yang sulit,” kata Chaudhary.

Chaudhary Group sendiri memiliki 12 lini bisnis, mulai dari makanan dan telekomunikasi hingga infrastruktur dan perbankan. Menurut Chaudhary, proses rehabilitasi serta upaya menggerakkan kembali perekonomian akan menjadi pekerjaan besar.

“Ini adalah persoalan yang sangat besar yang ada di depan kita,” katanya mengenai proses rehabilitasi sekaligus upaya untuk menggerakkan kembali perekonomian.

Banjir bandang menerjang wilayah pegunungan Nepal di perbatasan dengan China pada 26 Agustus. Banjir menenggelamkan desa-desa serta menghanyutkan jalan dan jembatan.

Sedikitnya 469 orang telah dikonfirmasi meninggal dunia, menurut kepolisian. Sementara itu, sekitar 1.200 orang masih hilang, termasuk ratusan wisatawan asing.

Investigasi awal menunjukkan bahwa mencairnya gletser mungkin menjadi pemicu bencana tersebut.

Dampak banjir juga dirasakan pada sektor pembangkit listrik. Sejumlah pembangkit mengalami kerusakan akibat bencana yang melumpuhkan aktivitas di wilayah terdampak.

“Kami melihat adanya gangguan yang sepenuhnya melumpuhkan aktivitas,” kata Chaudhary, seraya mencatat bahwa pembangkit-pembangkit listrik juga mengalami kerusakan.

Rumah rusak akibat banjir bandang di Trishuli di distrik Nuwakot, Nepal, Rabu (26/8/2026). Foto: Navesh Chitrakar/REUTERS

Chaudhary Group kemudian bekerja sama dengan pemerintah, mitra lokal, dan militer dalam upaya penanganan dampak bencana.

Perusahaan tersebut telah mengerahkan stafnya untuk mendirikan pusat-pusat rehabilitasi bagi warga yang mengungsi dalam dua hari ke depan. Setelah itu, perusahaan akan mulai membangun rumah serta memberikan dukungan kepada bisnis dan sekolah yang terdampak.

Chaudhary mengatakan jumlah dana yang akan dikeluarkan kelompok usahanya untuk upaya tersebut akan lebih besar dibandingkan pengeluaran pada 2015. Kala itu, gempa bumi dahsyat memicu pekerjaan rekonstruksi serupa di seluruh negeri.