Kumparan Logo

Nyaris Hilang Ditelan Kota, Pertamina Bantu Produktivitas Sawah berbasis EBT

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Program Desa Energi Berdikari Uma Palak Lestari di Denpasar. Foto: Pertamina
zoom-in-whitePerbesar
Program Desa Energi Berdikari Uma Palak Lestari di Denpasar. Foto: Pertamina

Rudi, seorang Local Hero Pertamina bercerita bahwa kelompok menggunakan EBT sebagai cara mempertahankan salah satu lahan sawah yang berada di tengah Denpasar Utara, Bali. Hal ini karena sawah tersebut awalnya kurang produktif sehingga terancam pengalihfungsian lahan.

Namun, dengan adanya program Desa Energi Berdikari (DEB) Uma Palak Lestari dari Pertamina, Rudi dan kelompoknya mampu meningkatkan produktivitas pertanian melalui sistem automasi irigasi SIUMA yang dilengkapi oleh sensor kelembaban tanah yang energinya dipasok dari PLTS dan kincir mikro-hidro.

“Sawah-sawah yang tidak terairi air itu rawan. Rawan alih fungsi. Soalnya kita kan di tengah Kota Denpasar. Sawah ini satu-satunya yang masih tersisa di Denpasar. Sawah yang paling luas yang masih tersisa di Denpasar, karena masifnya pembangunan. Untuk menghindari itu maka muncul sistem SIUMA ini. Jadinya sawah yang dulunya kering semenjak adanya ini jadinya terairi,” kata Wayan kepada kumparan di Grha Pertamina, Jakarta pada Jumat (28/9).

Program Desa Energi Berdikari Uma Palak Lestari di Denpasar. Foto: Pertamina

Lebih detail, ia menjelaskan bahwa proses optimalisasi irigasi disana berjalan dengan adanya sensor-sensor pendeteksi kelembapan. Nantinya, sensor akan mendeteksi daerah sawah yang memerlukan air.

Setelah daerah subak terdeteksi membutuhkan irigasi, maka sensor kelembaban akan mengirimkan notifikasi melalui SIUMA untuk menggerakkan pompa bertenaga PLTS secara otomatis.

Rudi juga menjelaskan bahwa program DEB dari Pertamina tak hanya berhenti pada PLTS dan kincir mikro-hidro tersebut. Hal ini karena terdapat pula bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) yang berbasis listrik yang juga dioperasikan di lahan sawah subak tersebut.

“Semua sistemnya listrik semua. Listriknya bersumber dari panel surya, dulu kan masih konvensional, traktor diesel, sekarang listrik semua,” ujarnya.

Adapun alsintan listrik tersebut meliputi traktor listrik dengan penghematan biaya penggunaan dari Rp30.000 menjadi Rp15.000 per are, dores (mesin perontok padi) listrik yang bisa membuat petani hemat karena tak perlu lagi membeli solar, sampai selep (mesin pengiling padi) listrik yang membuat biaya penghematan biaya penggilingan padi.

Program Desa Energi Berdikari Uma Palak Lestari di Denpasar. Foto: Pertamina

Sedangkan terkait dampak secara keseluruhan, program DEB menurut Rudi sudah sangat berdampak pada peningkatan produksi. Ia mencontohkan bahwa kini produksi padi sudah naik 1,75 kali lipat per hektare per tahunnya.

“Pendapatan petani meningkat, dari produksinya yang awalnya 4 ton per tahun per hektare, sekarang meningkat menjadi 7 ton per tahun per hektare. Naiknya 3 ton. Dan sekarang dari 10,26 hektare lahan pertanian itu, sekarang sudah kami gunakan pupuk organik dan pengairannya sistem EBT,” kata Wayan.

Di samping itu, Rudi juga menjelaskan bahwa di sana terdapat salah satu jalan yakni Jalan Usata Tani (JUT). Kini jalan tersebut juga dimanfaatkan sebagai jogging track yang menjadi salah satu ikon menarik pengunjung untuk berwisata di area Uma Palak Lestari.

“Jalan Usaha Tani itu kita rubah juga, kita manfaatkan juga, kerja sama dengan subak, dengan pertani-pertani itu untuk dijadikan tempat wisata juga, wisata edukasi,” ujarnya.

Program Desa Energi Berdikari Uma Palak Lestari di Denpasar. Foto: Pertamina

Adapun terkait awal terbentuknya DEB tersebut, Rudi bercerita hal itu sudah dimulai sejak 5 tahun yang lalu. Pembentukan berawal dari para pekerja yang terkena dampak dari pandemi.

Alhasil, para pekerja yang dirumahkan saat pandemi berkumpul dan membuat kelompok bernama KUB Uma Palak Lestari yang akhirnya memutuskan untuk mengelola lahan pertanian subak dengan pendampingan pemberdayaan dari Pertamina.

“Awalnya dari masa Covid sebenarnya. Pekerjaan yang dirumahkan Covid, yang awalnya kita nggak ada pekerjaan lah, datang lah dari Pertamina. Akhirnya kita membentuk, anggap lah petani-petani yang muda, yang belum siap dulu untuk bertani maka datang lah Pertamina, terus kita diskusi-diskusi akhirnya keluar lah ide-ide semua untuk pengembangan. Jadinya seperti ini. Itu tahun 2020,” cerita Wayan.

Sementara itu VP Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron mengatakan kehadiran program DEB menjadi salah satu upaya peningkatan kemandirian masyarakat dengan tetap memperhatikan potensi masyarakat yang ada.

"Kemandirian energi dan ketahanan pangan merupakan dua aspek yang saling mendukung. Karena itu, melalui program DEB, kami berupaya menghadirkan inovasi yang mendukung produktivitas pertanian padi sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan untuk generasi mendatang," kata Baron.