OJK: Sektor Jasa Keuangan RI Tetap Terjaga hingga Juni 2026

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat stabilitas sektor jasa keuangan nasional tetap terjaga hingga Juni 2026. Hal ini berdasarkan hasil Rapat Dewan Komisioner (RDK) Bulanan yang digelar pada 1 Juli 2026.
“Rapat Dewan Komisioner Bulanan Otoritas Jasa Keuangan pada 1 Juli 2026 menilai bahwa stabilitas sektor jasa keuangan terjaga,” Ketua DK OJK Friderica Widyasari Dewi dalam konferensi pers RDKB yang dilaksanakan secara daring, Selasa (7/7).
Kiki menyampaikan, meredanya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah telah membantu mengurangi tekanan di pasar energi global. Kondisi tersebut tercermin dari harga minyak yang kembali mendekati level sebelum konflik serta berkurangnya kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan energi.
“Kendati demikian, risiko geopolitik masih perlu dicermati mengingat stabilitas kawasan masih rentan terhadap potensi eskalasi baru,” sebut Kiki.
Kemudian, Kiki menuturkan sejumlah indikator ekonomi global masih berada di atas ekspektasi pasar, meskipun menunjukkan perbedaan kinerja antarnegara di tengah meningkatnya tekanan inflasi.
Ia pun menyinggung Amerika Serikat (AS), di mana OJK menilai perekonomian di negara tersebut masih menunjukkan ketahanan yang didukung oleh pasar tenaga kerja yang solid, meskipun inflasi kembali meningkat.
“Sementara Tiongkok masih menghadapi lemahnya konsumsi domestik dan investasi swasta. Di Eropa, aktivitas ekonomi masih tertahan oleh permintaan yang lemah meskipun sektor manufaktur mulai membaik,” jelas Kiki.
Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) dan Bank Dunia pada Juni 2026 merevisi turun proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun 2026 menjadi masing-masing 2,8 persen dan 2,5 persen.
“Namun (pertumbuhan ekonomi) berpotensi semakin menurun jika konflik kembali meningkat atau gangguan pasokan komunitas energi berlangsung berkepanjangan,” tutur Kiki.
Terakhir, Kiki menyebut prospek pertumbuhan ekonomi global masih dibayangi lemahnya permintaan dunia, perlambatan ekonomi China, serta meningkatnya ekspektasi suku bunga tinggi bertahan lebih lama, yang pada akhirnya memengaruhi selera risiko investor global di pasar keuangan.
“Di domestik, indikator ekonomi termoderasi di tengah mulai meningkatnya tekanan inflasi. Sementara itu PMI manufaktur melemah, surplus perdagangan menyempit dan cadangan devisa menurun namun stabilitas tetap terjaga melalui bauran kebijakan fiskal dan moneter,” sebut Kiki.
