Pemerintah Siapkan 2,5 Juta Genteng Pengganti Asbes, Terbanyak di Jakarta-Babel

Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Maruarar Sirait, akan mengganti atap-atap rumah yang saat ini masih berbahan asbes. Saat ini ada dua kota yang memiliki tingkat penggunaan asbes paling banyak.
Menurut sosok yang akrab disapa Ara, langkah tersebut juga penting dari sisi kesehatan karena paparan asbes dapat membahayakan tubuh.
“Iya dong (diganti) karena asbes itu kan tidak sehat, ya. Yang paling tinggi itu dari data BPS, itu persentasenya ada di Jakarta dan Bangka Belitung,” kata Ara ditemui di Aula BRIN, Jakarta Pusat pada Senin (14/9) usai Forum Koordinasi Penanganan Permukiman Kumuh Terpadu.
Meski demikian, ia belum menjelaskan bagaimana nantinya program tersebut akan diimplementasikan dan siapa saja yang masuk ke kriteria untuk mendapat penggantian atap. Ketika ditanya apakah nantinya itu akan menjadi bagian dari program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS), ia hanya menyebut semua hunian yang beratapkan asbes akan diganti.
“Ya kalau ada asbes kita ganti,” ujarnya.
Dalam forum, Ara juga memaparkan kondisi terkini dari program gentengisasi. Menurutnya, saat ini sudah ada 2,5 juta genteng yang dihasilkan dan siap diserap pada Oktober sampai November nanti. Genteng-genteng tersebut merupakan hasil produksi dari Purwakarta dan Majalengka.
“500 ribu genteng akan dikirimkan bulan depan di Purwakarta, dan 2 juta genteng produk UMKM kita, itu akan kita kirim di Jatiwangi, Majalengka. Sehingga nanti masyarakat kecil UMKM juga bisa merasakan dapat pembangunan,” kata Ara.
Ia menjelaskan genteng-genteng tersebut dihasilkan oleh puluhan UMKM dari kedua daerah tersebut. Meski dihasilkan oleh UMKM, Ara tak meragukan kualitas genteng yang dihasilkan karena semua genteng tersebut sudah melalui sertifikasi.
Ke depan, Ara juga meminta daerah-daerah lain khususnya Jawa Timur untuk juga peka terhadap potensi produksi genteng oleh UMKM. Ara juga berkomitmen akan membina UMKM terkait dan menyerap hasil produksinya.
“Saya mohon juga Ibu Gubernur Jawa Timur, kalau boleh UMKM-UMKM Jawa Timur juga pasti banyak, biar dibina supaya kami bisa nanti melakukan pemesanan. Kalau bisa nanti setiap provinsi itu jangan jadi pasar, tapi jadi produser, supaya pesannya dari provinsi itu, supaya bisa menggerakkan ekonomi di tempat itu,” ujarnya.
