Kumparan Logo

Perang AS dan Iran Bawa Untung Singapura, Modal Asing Mengalir Deras

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
com-Ilustrasi Negara Singapura Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
com-Ilustrasi Negara Singapura Foto: Shutterstock

Perang antara Amerika Serikat dan Iran menguntungkan Singapura. Negara yang luasnya lebih kecil dari Jakarta ini menjadi buruan investor global, terlihat dari kesenjangan suku bunga antara Singapura dan AS mencapai level terdalam dalam beberapa tahun terakhir.

Kondisi ini diperkirakan akan terus berlanjut seiring derasnya arus modal asing yang masuk ke Singapura dan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga di AS akibat lonjakan harga energi.

Data terbaru menunjukkan swap rate dua tahun dolar Singapura (SGD) diperdagangkan dengan diskon 246 basis poin dibandingkan swap rate dua tahun dolar AS. Angka tersebut menjadi selisih terbesar sejak setidaknya tahun 2020.

Analis menilai perbedaan tersebut mencerminkan kondisi likuiditas yang sangat longgar di Singapura, sementara biaya pinjaman dalam dolar AS justru bergerak naik.

Kami melihat kondisi ini sebagai fungsi dari arus masuk modal dan likuiditas yang melimpah di sisi SGD," kata Emerging Asia Strategist Societe Generale, Galvin Chia, dikutip dari Bloomberg, Kamis (4/6).

Menurut dia, derasnya aliran dana ke Singapura telah menjaga kondisi likuiditas tetap longgar, sehingga suku bunga berbasis dolar Singapura lebih tahan terhadap kenaikan imbal hasil global.

Ilustrasi uang dolar Singapura Foto: AFP/Roslan Rahman

"Arus masuk ke Singapura telah membuat kondisi likuiditas tetap berlimpah, sehingga suku bunga SGD relatif lebih tangguh meskipun imbal hasil global meningkat," ujarnya.

Ekonomi Singapura yang tetap kuat menjadi salah satu faktor utama yang menarik minat investor. Produk domestik bruto (PDB) negara tersebut tumbuh 6 persen secara tahunan pada kuartal pertama 2026, lebih tinggi dibandingkan perkiraan ekonom sebesar 5,2 persen. Pemerintah Singapura juga mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun 2026 di kisaran 2-4 persen.

Kinerja ekonomi tersebut mendorong sejumlah analis memperkirakan Monetary Authority of Singapore (MAS) akan memperketat kebijakan moneternya pada Juli mendatang. Berbeda dengan banyak bank sentral lainnya, MAS menggunakan nilai tukar sebagai instrumen utama kebijakan moneter, bukan suku bunga.

Apabila MAS memperketat kebijakan, langkah tersebut secara efektif akan memperkuat nilai tukar dolar Singapura dan berpotensi menarik lebih banyak dana asing.

Aset Safe Haven Naik

Selain didukung fundamental ekonomi yang solid, Singapura juga mendapat keuntungan dari meningkatnya permintaan aset safe haven sejak pecahnya konflik di Timur Tengah. Stabilitas politik dan ketahanan ekonomi negara kota tersebut membuat investor global mencari perlindungan di pasar keuangannya.

Ilustrasi Bendera Singapura. Foto: Shutterstock

Di sisi lain, pasar AS justru menghadapi tekanan inflasi yang lebih tinggi akibat kenaikan harga energi. Kondisi ini mendorong pelaku pasar memperkirakan sikap yang lebih agresif dari Federal Reserve (The Fed).

Pasar swap saat ini memperkirakan peluang sekitar 80 persen bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin tahun ini. Proyeksi tersebut berbalik drastis dibandingkan sebelum pecahnya perang Iran, ketika pasar masih memperkirakan dua kali pemangkasan suku bunga sebelum akhir tahun.

Perbedaan arah kebijakan tersebut menyebabkan hubungan yang selama ini cukup erat antara suku bunga Singapura dan AS mulai melemah. Padahal, sebagai negara dengan ekonomi terbuka dan tanpa suku bunga acuan domestik yang dominan, biaya pinjaman di Singapura biasanya bergerak mengikuti tren suku bunga global, terutama AS.

Kepala Riset Pendapatan Tetap Maybank Securities Singapore, Winson Phoon, memperkirakan selisih suku bunga antara kedua negara masih akan tetap lebar dalam waktu dekat.

"Perbedaan suku bunga antara Singapura dan AS kemungkinan akan tetap sangat negatif karena ketegangan di Timur Tengah telah memperbesar divergensi suku bunga kedua negara," kata Phoon.

Menurutnya, arah pergerakan selisih tersebut ke depan akan sangat bergantung pada perkembangan arus modal safe haven dan tren harga minyak dunia.

"Apakah spread akan semakin melebar atau kembali menyempit akan bergantung pada bagaimana arus dana safe haven dan momentum harga minyak berkembang dalam beberapa bulan mendatang," ujarnya.

instagram embed