PLN IP Gandeng South Pole Swiss Kembangkan Aset Karbon dari PLTP Gunung Salak

PT PLN Indonesia Power (PLN IP) melanjutkan kerja sama dengan perusahaan pengembang aset karbon asal Swiss, South Pole AG, untuk mengoptimalkan potensi aset karbon dari proyek peningkatan kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Gunung Salak.
Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan Second Amendment to Emission Reduction Purchase Agreement (ERPA) untuk proyek Capacity Upgrade of Gunung Salak Geothermal Power Plant Project Indonesia dalam rangkaian INDOEBTKE CONEX 2026 di JIEXPO Kemayoran, Jakarta, baru-baru lama ini.
Penandatanganan dilakukan oleh Direktur Pengembangan Bisnis dan Niaga PLN Indonesia Power Julita Indah bersama Specialist, Business Development Sustainable Technologies - SEA South Pole AG Fadri Mokolintad. Kerja sama ini merupakan kelanjutan kolaborasi kedua pihak dalam pengembangan aset karbon yang berasal dari peningkatan kapasitas PLTP Gunung Salak.
PLN IP menjelaskan, potensi pengurangan emisi dari peningkatan kapasitas pembangkit tersebut selanjutnya dapat dimonetisasi menjadi aset karbon yang memiliki nilai ekonomi dan dapat diperdagangkan.
Direktur Utama PLN Indonesia Power Bernadus Sudarmanta mengatakan pengembangan aset karbon menjadi salah satu peluang untuk menciptakan nilai tambah dari operasional pembangkit berbasis energi bersih.
Melalui pengembangan aset karbon dari PLTP Gunung Salak, kami melihat adanya peluang untuk menciptakan nilai ekonomi sekaligus mendorong keberlanjutan pengembangan energi panas bumi di Indonesia,” kata Bernadus dalam keterangannya, Selasa (8/9).
Menurut dia, langkah tersebut sejalan dengan komitmen PLN Indonesia Power untuk mengoptimalkan potensi pembangkit berbasis energi terbarukan melalui berbagai inovasi dan skema pengembangan yang mendukung transisi energi nasional.
“Geothermal memiliki potensi besar sebagai sumber energi bersih yang andal. Karena itu, kami terus mendorong berbagai inisiatif yang tidak hanya meningkatkan kinerja aset pembangkit, tetapi juga membuka peluang nilai tambah dari aspek lingkungan dan pengurangan emisi,” ujarnya.
Sebelumnya, rangkaian INDOEBTKE CONEX 2026 dibuka oleh Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung. Dalam sambutannya, Yuliot menekankan pentingnya percepatan transisi energi di tengah dinamika geopolitik global yang memengaruhi ketersediaan energi.
“Dinamika geopolitik global menunjukkan bahwa ketersediaan energi menjadi tantangan yang harus diantisipasi bersama. Karena itu, Indonesia perlu terus mendorong kemandirian dan swasembada energi melalui peningkatan pasokan, pembangunan infrastruktur, serta percepatan transisi menuju energi yang lebih bersih dan berkelanjutan,” ujar Yuliot.
PLN IP menilai monetisasi aset karbon dapat memberikan nilai ekonomi dari pengurangan emisi yang dihasilkan pembangkit energi terbarukan, sekaligus menjadi insentif bagi keberlanjutan investasi dan pengembangan sektor energi bersih di Indonesia.
Sebagai subholding pembangkitan PT PLN (Persero), PLN Indonesia Power terus mengembangkan berbagai inisiatif energi baru terbarukan untuk mendukung target transisi energi dan agenda menuju Net Zero Emissions.
