PSEL Kota Bekasi Mulai Dibangun, Danantara Targetkan Rampung Akhir 2027

Danantara Indonesia melalui PT Danantara Investment Management (DIM) dan PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera) mulai membangun fasilitas Pengelolaan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Kota Bekasi, Jawa Barat. Proyek ini berlokasi di Ciketing Udik, Bantargebang, ini ditargetkan rampung pada akhir 2027 atau paling lambat awal 2028.
Chief Investment Officer Danantara Indonesia Pandu Sjahrir mengatakan PSEL Kota Bekasi akan memiliki kapasitas pengolahan sampah hingga 1.500 ton per hari. Pembangunan fasilitas dikebut karena persoalan sampah di Kota Bekasi dinilai sudah menjadi krisis.
“Yang buat PSEL (Kota) Bekasi ini 1.500 ton ekspektasi per hari. Kita ekspektasi juga insya Allah akhir 2027, awal 2028 sudah selesai. Jadi emang kita ngebut lah,” kata Pandu di sela-sela peresmian pembangunan PSEL Kota Bekasi, Jawa Barat, Rabu (26/8).
Pandu mengatakan proses pembangunan PSEL Kota Bekasi ditargetkan selesai kurang dari 24 bulan sejak dimulai pada November 2026. Target tersebut sudah termasuk proses perjanjian jual beli listrik atau power purchase agreement (PPA).
Pandu menjelaskan proses pemilihan mitra proyek telah melalui sejumlah tahapan. Evaluasi dilakukan pada 2-30 Januari 2026 terhadap enam konsorsium yang menyerahkan proposal. Dari enam konsorsium tersebut, hanya dua yang lolos untuk melanjutkan ke tahap negosiasi pada Januari-Februari 2026.
“(Konsorsiumnya) kita (Danantara) dan Wang Neng, Perusahaan PT Denera, jadi kita investasi melalui PT Denera. Pak Dirutnya juga di sini, mereka yang akan ngerjain, kita investasi sama,” ujarnya.
PSEL Kota Bekasi ditargetkan mengelola lebih dari 500 ribu ton sampah per tahun atau sekitar 70 persen timbunan sampah yang dihasilkan Kota Bekasi. Dari sisi lingkungan, fasilitas ini diproyeksikan mengurangi emisi dari tempat pembuangan akhir (TPA) hingga 80 persen dan menekan emisi karbon sekitar 640 ribu ton setara CO2 per tahun.
Dari sisi energi, PSEL Kota Bekasi akan menghasilkan energi listrik yang diproyeksikan dapat memenuhi kebutuhan sekitar 55 ribu rumah masyarakat Kota Bekasi. Proyek dengan nilai investasi sekitar Rp 3 triliun ini juga diperkirakan menciptakan sekitar 1.000 lapangan kerja hijau serta mengurangi kebutuhan lahan TPA sekitar 90 persen.
Baru Selesaikan 22,5 Persen Timbulan Sampah Nasional
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengatakan pembangunan PSEL di berbagai daerah masih baru mampu menyelesaikan sekitar 22,5 persen dari proyeksi timbulan sampah nasional pada 2029.
"Kalau selesai semua, yang dikerjakan oleh Pandu dan Danantara kawan-kawan itu baru 22 persen. Kalau sampai tahun depan bisa 15, itu sudah luar biasa. Excellent, sudah bagus sekali. Kalau kita bisa menyelesaikan 15, pengelolaan sampah menjadi realistis," kata Zulhas dalam gelaran yang sama.
Berdasarkan paparan Zulhas, proyeksi timbulan sampah Indonesia pada 2029 mencapai 146.780 ton per hari. Dari jumlah tersebut, PSEL diproyeksikan menangani 22,5 persen.
Kemudian sisanya ditangani melalui pengolahan organik dari sumber (12,4 persen), TPS3R dan bank sampah (19,8 persen), TPST-RDF untuk industri semen (25,3 persen), serta teknologi non-RDF seperti pirolisis, biogas, dan material recovery facility (20 persen).
Meski demikian, Zulhas optimistis kolaborasi berbagai teknologi pengolahan sampah dapat meningkatkan penanganan sampah nasional hingga sekitar 70-75 persen pada 2029.
“Insyaallah 2029, 70-75 persen bisa kita selesaikan. Masalah sampah yang sudah terlalu lama ini, saya yakin dalam dua sampai tiga tahun bisa kita selesaikan asal bisa kerja sama dengan semua pihak,” tuturnya.
Listrik PSEL Kota Bekasi untuk Kota Bekasi
Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo mengatakan listrik yang dihasilkan PSEL Kota Bekasi akan didedikasikan untuk memenuhi kebutuhan listrik di wilayah tersebut. PLN menyiapkan gardu hubung yang berjarak sekitar 5 kilometer (km) dari lokasi PSEL untuk menyalurkan listrik yang dihasilkan.
“Sampahnya Kota Bekasi masuk ke sampah di sini, kemudian produksi listrik kita kirim kembali ke Kota Bekasi. Kita bersama-sama bisa menyelesaikan persoalan yang sangat rumit ini. Ini produk utamanya bukan listrik, tapi produk utamanya adalah lingkungan yang bersih. Listrik hanyalah by-product dari program ini,” ujar Darmawan dalam kesempatan yang sama.
