Selat Hormuz Dibuka, Kadin Proyeksi Butuh Waktu 2 Bulan untuk Dunia Usaha Pulih
·waktu baca 2 menit

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Bakrie buka suara soal kembali dibukanya Selat Hormuz yang sebelumnya terdampak perang Iran-Israel dan mengganggu rantai pasok global.
Anindya memperkirakan dunia usaha membutuhkan waktu sekitar 30-60 hari untuk kembali pulih setelah terdampak ketegangan geopolitik di kawasan tersebut.
Menurut Anindya, meski telah tercapai kesepakatan antara pihak-pihak yang bertikai, proses pemulihan aktivitas perdagangan dan logistik global tidak bisa berlangsung secara instan. Dunia usaha masih menunggu implementasi di lapangan serta normalisasi arus distribusi barang.
Dia menilai perkembangan terbaru menjadi sinyal positif bagi pelaku usaha. Salah satunya tercermin dari harga minyak dunia yang mulai menunjukkan tren penurunan.
“Harga minyak sudah mulai turun. Baru kemarin ada kesepakatan antara Amerika dan Iran, pasti butuh untuk pendetailan, dan juga untuk aktualisasinya di lapangan. Kita mesti lihat, mungkin dalam waktu 30-60 hari ini, udah bisa kembali senormal mungkin. Kita lihat lah hasilnya,” kata Anindya di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (17/6).
Perang Ganggu Rantai Pasok Global
Anindya menjelaskan konflik geopolitik yang terjadi sebelumnya telah menimbulkan gangguan pada rantai pasok global (supply chain). Kondisi tersebut membuat biaya logistik meningkat dan memengaruhi ketersediaan bahan baku bagi dunia usaha.
“Karena supply chain itu tentu terdisrupsi ketika sedang perang. Yang menyebabkan harga menjadi mahal. Lalu, tentunya bukan hanya mahal, bahannya juga kadang-kadang tidak ada,” imbuhnya.
Di tengah ketidakpastian global, Anindya menilai Indonesia perlu memperkuat fondasi ekonominya sendiri agar lebih tahan terhadap gejolak eksternal di masa mendatang.
Menurut dia, ada dua sektor yang perlu mendapatkan perhatian pemerintah saat ini, yaitu industri padat karya dan padat modal.
“Pertama, yang padat karya, karena kan kita kerjanya besar, dan itu membawa kemandirian daripada pangan. Tapi juga sektor yang membutuhkan banyak dana masuk. Nah, itu kita mesti proteksi supaya, satu, investasinya masuk,” terangnya.
