Solikin Juhro Jalani Uji Kelayakan di DPR, Tawarkan 8 Strategi BI untuk Ekonomi

Asisten Gubernur Bank Indonesia (BI) Solikin M Juhro menawarkan delapan strategi kebijakan yang dirangkum dalam konsep “SEMANGKA” untuk menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Strategi tersebut disampaikan Solikin saat mengikuti Fit and Proper Test Calon Deputi Gubernur Bank Indonesia di Komisi XI DPR RI, Kamis (27/8). Dalam paparannya, ia menempatkan stabilitas, pertumbuhan, dan inklusivitas sebagai tiga sasaran yang harus berjalan secara bersamaan.
Solikin mengawali penjelasannya dengan refleksi perjalanan hidupnya. Ia menampilkan kisah yang dimulai dari sebuah kios majalah dan koran bernama Bintang di Jalan Kedungdoro, Surabaya, hingga perjalanan pengabdiannya di Bank Indonesia di Jakarta.
Ia mengatakan pengalaman tersebut membentuk pandangannya terhadap ekonomi kerakyatan. Latar belakangnya yang berasal dari kampung menjadi salah satu pijakan dalam menyusun gagasan kebijakan yang ia tawarkan.
“Tanpa menguraikan lebih lanjut pesan moral yang ingin kami sampaikan bahwa, saya ingin sampaikan bahwa perjalanan hidup saya senantiasa mengakar kepada ekonomi kerakyatan, karena memang di situlah saya berasal, Bapak. Saya dari kampung, Kampung Gedung, Gedung Pintar di Kedungdoro,” kata Solikin.
Dalam melihat kondisi perekonomian saat ini, Solikin menyebut Indonesia menghadapi lima tantangan besar atau yang ia sebut sebagai “5T”. Tantangan itu meliputi tekanan geopolitik, turbulensi pasar keuangan, kebutuhan mempercepat transformasi ekonomi, struktur pembiayaan yang masih kuat bertumpu pada perbankan, serta perkembangan transformasi digital yang sangat cepat.
Menurut dia, berbagai tantangan tersebut harus dihadapi dengan berpegang pada mandat Bank Indonesia. Ia menekankan bahwa mandat menjaga stabilitas tidak seharusnya diposisikan berlawanan dengan upaya mendorong pertumbuhan ekonomi.
“Bagi saya ini penting, artinya orientasi pro-growth bukanlah penyimpangan dari mandat stabilitas. Justru merupakan pelaksanaan mandat tersebut secara lebih utuh, lebih holistik, untuk kepentingan yang lebih besar, untuk mendukung ekonomi Indonesia naik kelas menuju negara maju,” ungkapnya.
Dari kerangka tersebut, Solikin menyusun visi yang diterjemahkan ke dalam tiga misi, yakni stabilitas yang dinamis, pertumbuhan ekonomi yang tinggi, dan ekonomi yang inklusif. Ketiganya kemudian dituangkan dalam delapan strategi yang diberi nama SEMANGKA.
Konsep SEMANGKA itu juga ia gambarkan melalui simbol buah semangka dengan warna yang beragam. Menurutnya, keragaman warna tersebut mencerminkan beragam jalur menuju kemakmuran dengan tujuan yang sama, yakni menciptakan manfaat yang luas, inklusif, dan dirasakan langsung oleh masyarakat.
Solikin membagi delapan strategi tersebut ke dalam tiga kelompok besar. S-E-M-A menjadi jangkar kebijakan, N-G menjadi mesin transformasi, sedangkan K-A menjadi pengungkit implementasi.
Jangkar Kebijakan
Kelompok pertama terdiri dari empat strategi, yakni Stabilitas Dinamis untuk Pertumbuhan Berkelanjutan, Efektivitas Kebijakan Moneter dan Operasi Moneter yang Pro Market, Makroprudensial Adaptif, Inovatif dan Pro Growth, serta Akselerasi Pendalaman Pasar Keuangan.
Strategi pertama, Stabilitas Dinamis untuk Pertumbuhan Berkelanjutan, menempatkan stabilitas nilai tukar dan inflasi sebagai jangkar kredibilitas kebijakan. Solikin menilai stabilitas yang terjaga akan memberikan ruang lebih besar bagi kebijakan untuk mendukung pertumbuhan berkelanjutan.
“Kredibilitas selama ini kita peroleh is not taken for granted, nggak datang secara ujug-ujug, tetapi diupayakan dengan komitmen dan kerja keras,” kata dia.
Strategi kedua adalah Efektivitas Kebijakan Moneter dan Operasi Moneter yang Pro Market. Fokusnya adalah memastikan likuiditas tersedia dan benar-benar berputar dalam perekonomian. Untuk itu, BI perlu mengkombinasikan ekspansi likuiditas melalui operasi moneter, pendalaman pasar uang, dan penguatan prioritas insentif likuiditas.
Namun, Solikin menekankan bahwa ekspansi likuiditas tidak boleh dilakukan tanpa batas. Kebijakan tersebut harus tetap terkalibrasi dan konsisten dengan upaya menjaga stabilitas.
Strategi ketiga, Makroprudensial Adaptif, Inovatif dan Pro Growth, diarahkan untuk mendorong intermediasi perbankan dan pembiayaan yang lebih luas. Solikin melihat perlunya inovasi untuk mendorong pembiayaan inklusif, mempercepat pendalaman pasar uang, serta meningkatkan basis pembiayaan non-tradisional.
Ke depan, instrumen makroprudensial juga menurutnya dapat dikaji agar semakin targeted. Orientasinya tidak berhenti pada pertumbuhan kredit, tetapi juga mencakup kualitas kredit, tambahan aktivitas ekonomi, dan penciptaan lapangan kerja.
Strategi keempat adalah Akselerasi Pendalaman Pasar Keuangan. Melalui blueprint pendalaman pasar uang, BI akan mendorong produk keuangan yang semakin beragam, pelaku pasar yang lebih aktif, price discovery yang lebih kredibel, serta infrastruktur yang modern dan terintegrasi.
Mesin Transformasi
Kelompok kedua terdiri dari Navigasi Ekonomi Keuangan Inklusif, termasuk Syariah dan Gerak Cepat Digitalisasi Sistem Pembayaran. Strategi Navigasi Ekonomi Keuangan Inklusif, termasuk Syariah diarahkan agar pengembangan ekonomi dan keuangan inklusif semakin terhubung dengan program prioritas pemerintah serta memberikan dampak langsung terhadap sektor riil.
Penguatan ekosistem pangan dari hulu ke hilir, digitalisasi UMKM dan pelaku usaha syariah, serta pengembangan model bisnis yang terhubung dengan rantai nilai program prioritas pemerintah menjadi bagian dari agenda tersebut.
Solikin juga menyoroti persoalan akses pembiayaan UMKM. Menurutnya, banyak pelaku UMKM memiliki usaha yang baik tetapi tidak memiliki dokumentasi maupun agunan yang memadai.
Karena itu, ia mengusulkan penguatan alternative credit scoring dengan memanfaatkan data alternatif yang dikelola melalui tata kelola yang kuat. Dengan cara tersebut, penilaian kelayakan pembiayaan dapat menjadi lebih akurat sehingga akses pembiayaan bagi UMKM dapat diperluas.
Sementara itu, strategi Gerak Cepat Digitalisasi Sistem Pembayaran diarahkan untuk mempercepat pengembangan infrastruktur dan industri sistem pembayaran, mendorong inovasi, memperkuat kerja sama internasional, serta mengembangkan rupiah digital.
Pengungkit Implementasi
Dua strategi terakhir adalah Kelembagaan BI yang Kredibel dan Bertata Kelola serta Aksi Bersama dan Sinergi Kebijakan Nasional.
Solikin menilai seluruh strategi kebijakan membutuhkan kelembagaan yang kuat. Karena itu, tata kelola, sektor keuangan, dan sumber daya manusia BI akan terus diperkuat untuk memastikan kebijakan dapat dijalankan secara kredibel.
Pada saat yang sama, BI tidak dapat bekerja sendiri. Sinergi dengan pemerintah, DPR RI khususnya Komisi XI, KSSK, industri, dan masyarakat menjadi bagian penting dari pelaksanaan kebijakan.
Menurut Solikin, koordinasi tersebut tidak berarti mengurangi independensi BI. Sebaliknya, independensi dan tata kelembagaan yang sehat harus berjalan beriringan dengan sinergi dan koordinasi antarlembaga.
“Sinergi bukan berarti mengaburkan makna independensi dan tatanan kelembagaan masing-masing institusi. Justru independensi dan tatanan kelembagaan yang sehat harus bertemu dengan sinergi atau koordinasi yang kuat. Di situlah kredibilitas kebijakan nasional dapat dibangun,” kata dia.
Solikin menilai keseluruhan strategi SEMANGKA tidak boleh dijalankan secara terpisah. Delapan strategi tersebut dirancang sebagai satu paket yang saling terhubung untuk mendukung program Asta Cita pemerintah.
Ia juga menolak cara pandang yang menempatkan stabilitas, pertumbuhan, dan inklusivitas sebagai pilihan yang harus saling mengorbankan. Menurutnya, ketiganya justru dapat membentuk sebuah siklus yang saling memperkuat.
