SRBI Rp 288 T Jatuh Tempo pada Kuartal IV 2026, Bisa Redam Dampak Penarikan SAL

Sebanyak Rp 288 triliun Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) akan jatuh tempo pada periode Oktober hingga Desember 2026. Pelunasan surat berharga tersebut dinilai dapat membantu meredam dampak penarikan bertahap Saldo Anggaran Lebih (SAL) pemerintah dari perbankan.
Dalam risetnya, CGS International menilai jatuh tempo SRBI dalam jumlah besar pada kuartal IV 2026 berpotensi mengimbangi dampak penarikan SAL. Kondisi ini diharapkan dapat membantu menjaga likuiditas perbankan di tengah penyesuaian dana pemerintah.
“Kami meyakini bahwa dampak penarikan SAL kali ini dapat dikelola dengan lebih baik dibandingkan akhir Juni, mengingat bank-bank BUMN telah mengantisipasi penarikan bertahap tersebut sebagai asumsi dasar,” tulis CGS International dalam risetnya, dikutip Minggu (11/10).
CGS International juga menilai pelunasan SRBI pada Agustus hingga September 2026, yang disertai penurunan imbal hasil, dapat sedikit meredam dampak penarikan SAL.
“Berdasarkan data kami, SRBI dalam jumlah signifikan sebesar Rp288 triliun akan jatuh tempo antara bulan Oktober hingga Desember 2026, yang dapat turut membantu mengimbangi dampak penarikan SAL,” tulis CGS International.
Selain itu, tingkat suku bunga bagi special mission vehicles (SMV) di bawah naungan Kementerian Keuangan telah diturunkan. Kebijakan yang berlaku efektif sejak 1 September 2026 tersebut menggunakan formula 80 persen dari suku bunga acuan, dengan kesepakatan kontrak hingga Januari 2027.
CGS International mencatat, sebelumnya suku bunga deposito khusus untuk instrumen tersebut berada di kisaran 7–7,5 persen berdasarkan pemantauan mereka.
Lebih lanjut, nilai transaksi repurchase agreement (repo) obligasi pemerintah juga menunjukkan tren penurunan dibandingkan dengan puncaknya pada pertengahan Juni 2026.
Meski demikian, CGS International memperkirakan tekanan biaya dana perbankan masih akan terlihat dalam laporan kinerja kuartal III 2026.
“Kendati demikian, kami memperkirakan dampak kenaikan cost of fund atau CoF) akan terlihat pada laporan kinerja 3Q26F sebelum kembali normal pada 4Q26F,” tulis CGS International.
