Tambah Pasokan Biodiesel, Agrinas Palma Bakal Perluas Kebun Sawit 400 Ribu Ha

PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) akan memperluas perkebunan sawit hingga 400 ribu hektare untuk menambah pasokan biodiesel. Hal ini seiring dengan mandatori biodiesel 50 persen (B50), yang akan ditingkatkan menjadi B60 pada tahun depan.
Direktur Utama Agrinas Palma, Mohammad Abdul Ghani, mengatakan saat ini perusahaan mengelola 730 ribu hektare kebun kelapa sawit. Namun untuk meningkatkan pasokan biodiesel menjadi 1,5 juta ton, terutama untuk PT Pertamina (Persero), perusahaan perlu menambah luasan kebun.
"Kami ditugaskan untuk menambah 400 ribu. Kami ajak Pertamina end to end untuk bekerja sama, paling tidak itu ada 1,5 juta ton biodiesel nanti dari kita," ungkapnya saat EBTKE ConEx 2026, Kamis (3/9).
Abdul Ghani menyebutkan dalam satu tahun ke depan, Agrinas Palma ditargetkan dapat menghasilkan 600 ribu ton biodiesel untuk diserahkan kepada Pertamina.
Selain itu, perusahaan juga ditugaskan untuk menambah luasan perkebunan singkong atau sorgum 300 ribu hektare sebagai bahan baku bioetanol.
Dia memaparkan bahwa dalam setiap hektare tebu dapat memproduksi etanol sekitar 5 kiloliter, singkong bisa memproduksi 3-4,5 kiloliter, kemudian kelapa sawit setiap hektarenya memproduksi 4 kiloliter bahan baku biodiesel.
"Jadi kami akan buka 300 ribu (hektare) berarti 1,2 juta kiloliter etanol," jelasnya.
Abdul Ghani mengatakan, saat ini produktivitas kebun sawit di Indonesia saat ini sangat rendah. Dari total luasan 17 juta hektare, hanya menghasilkan kelapa sawit 50 juta ton, sehingga rata-rata hanya 3 ton setiap hektare.
"Persoalannya adalah untuk melakukan peremajaan 3 juta hektare, itu maksimum atau paling lama harus sekitar 6 tahun. Artinya apa? Setiap tahun harus direplanting 500.000 sampai 600.000. Faktanya hari ini yang bisa dilakukan hanya 30.000 sampai 40.000," ungkapnya.
Ditemui usai acara, Abdul Ghani mengatakan perusahaan berencana merevitalisasi lahan sawit untuk memproduksi biodiesel hingga mencapai 600 ribu ton pada tahun depan. Saat ini total produksi perusahan sebesar 900.000 ton, sehingga totalnya bisa mencapai 1,5 juta ton.
"Tahun ini baru paling 900.000 ton masih sedikit. Makanya terbengkalai. Tapi kalau tahun depan naik dua kali lipat. Tahun depan 1,5 juta ton," tandasnya.
Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) optimistis mandatori campuran Fatty Acid Methyl Ester (FAME) dari minyak sawit dengan Solar atau biodiesel dengan kadar 60 persen (B60) bakal diterapkan tahun 2027.
Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Eniya Listiani Dewi mengatakan bahwa Indonesia menjadi pionir dalam implementasi B50 di seluruh dunia.
Eniya menuturkan bahwa berdasarkan pengawasan dalam dua bulan ke belakang, capaian realisasi B50 rata-rata oleh seluruh badan usaha mencapai 80 persen, dan diharapkan dapat tersalurkan sepenuhnya pada bulan ini.
Sementara untuk menuju mandatori B60, Eniya menegaskan bahwa para peneliti di dalam negeri tengah mengkaji pelaksanaan B50, dan spesifikasi terbaik untuk B60 apakah seluruh campurannya dari FAME atau bisa ditambah Hydrotreated Vegetable Oil (HVO).
Kapasitas terpasang produksi biodiesel di Indonesia mencapai 22 juta kiloliter, sangat cukup untuk menopang kebijakan B50. Hanya saja, ke depannya, dia berharap dapat meningkat apalagi di tengah fenomena El Nino yang mengancam produktivitas kelapa sawit.
"Sekarang pun saya sedang minta BPDP untuk kajian, ini selesai di Desember. Nah, nanti kita hitung. Tapi untuk keberlanjutannya seperti apa, untuk masuk ke argumen B60 berapa tambah berapa, ini saya harus konsultasi ke periset nih yang melakukan," jelas Eniya.
