Wall Street Melemah, Imbal Hasil US Treasury Tembus Level Tertinggi Sejak 2007

Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Rabu (23/9). Penurunan terjadi setelah data menunjukkan aktivitas bisnis AS meningkat pesat pada September, sehingga kembali memunculkan kekhawatiran terhadap inflasi dan arah suku bunga The Federal Reserve (The Fed).
Mengutip Reuters, aktivitas bisnis AS yang diukur melalui S&P Global Flash US Composite PMI Output Index naik menjadi 58,4 pada September. Angka tersebut merupakan level tertinggi sejak Juli 2021.
Indeks tersebut mengukur aktivitas sektor manufaktur dan jasa. Kenaikan pada September terutama didorong oleh peningkatan pesanan baru.
Ahli strategi makro di FHN Financial, Will Compernolle mengungkapkan kondisi tersebut menunjukkan perekonomian AS masih tumbuh kuat. Namun, pertumbuhan yang terlalu cepat juga dikhawatirkan menambah tekanan inflasi.
"Mereka menggambarkan ekonomi yang bukan hanya tangguh, tetapi juga mulai terlalu panas. Dalam kondisi ini, pertumbuhan ekonomi yang kuat tidak lagi seimbang karena justru menambah tekanan inflasi," kata Ahli strategi makro di Will Compernolle.
Imbal hasil (yield) obligasi naik ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir karena pelaku pasar memperkirakan Federal Reserve masih berpotensi menaikkan suku bunga. Ekspektasi tersebut muncul di tengah inflasi AS yang masih berada di atas target tahunan bank sentral sebesar 2 persen.
Yield US Treasury tenor 2 tahun naik 11,4 basis poin menjadi 4,891 persen, sebelumnya bahkan sempat menyentuh 4,947 persen, level tertinggi sejak Mei 2024.
Sementara itu, yield US Treasury tenor 10 tahun melonjak 13,89 basis poin menjadi 5,106 persen. Level tersebut merupakan yang tertinggi sejak 2007 sekaligus kenaikan harian terbesar sejak April 2025.
Gubernur Bank Sentral AS Michael Barr turut memberikan sinyal hawkish. Ia mengatakan bank sentral telah mengambil langkah penting pada pekan lalu untuk menyesuaikan kembali biaya pinjaman jangka pendek guna menekan inflasi. Kenaikan suku bunga lebih lanjut kemungkinan juga masih diperlukan.
Kenaikan yield US Treasury turut menekan pasar saham AS. Suku bunga yang lebih tinggi dapat meningkatkan biaya pembiayaan bagi perusahaan sekaligus membuat obligasi menjadi lebih menarik bagi investor.
Indeks Dow Jones Industrial Average (DJI) tercatat turun 0,68 persen. Sementara S&P 500 melemah 0,75 persen, dan Nasdaq Composite (IXIC) terkoreksi lebih dalam sebesar 1,13 persen. Penurunan Nasdaq terjadi sehari setelah indeks tersebut mencatat rekor penutupan tertinggi.
Tekanan juga terjadi di pasar saham global. Indeks pan-Eropa STOXX 600 (STOXX) turun 0,44 persen dan indeks saham global MSCI (MIWDO0000PUS) turun 0,73 persen. Penurunan tersebut sekaligus mengakhiri tren penguatan selama empat hari berturut-turut.
