Zulhas Klaim Petani RI Sudah Makmur, Tapi Nelayan Belum Sejahtera

Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan (Zulhas), menyoroti adanya ketimpangan kondisi ekonomi yang mencolok antara sektor pertanian dan perikanan di Indonesia.
Kata Zulkifli, tiga kebijakan pokok seperti intervensi harga, pengadaan pupuk, dan perbaikan irigasi telah membuahkan hasil memuaskan dan berhasil menciptakan surplus sebesar 4,2 persen. Kemudian, indikator keberhasilan tersebut terlihat dari lonjakan Nilai Tukar Petani (NTP) yang melesat dari angka 116 pada 2024 menjadi 131 saat ini.
“Artinya kalau modalnya 100, petani bisa mendapatkan hampir 31 persen. Ini artinya petani Indonesia, (petani) padi dan jagung, makmur. Sudah kategori makmur. Modal 100 sudah 31 plusnya, ini berhasil kita, petani bisa makan enak, bisa menyekolahkan anaknya, mungkin bisa ngangsur motor,” jelas Zulkifli dalam sambutannya di Trade Expo Indonesia 2026 di ICE BSD, Rabu (14/10).
Namun, kondisi kontras justru dialami oleh sektor perikanan. Zulkifli mengakui pemerintah belum berhasil menyejahterakan kelompok nelayan. Saat ini, Nilai Tukar Nelayan (NTN) masih berada di level memprihatinkan, yakni sebesar 103.
Artinya nelayan kita lemah. Kalau nelayan kita lemah, maka laut yang luas dikuasai oleh nelayan yang kuat yang datang dari luar negeri,” lanjut Zulkifli.
Oleh karena itu, Zulhas menegaskan pemerintah menargetkan penyelesaian masalah kesejahteraan nelayan ini pada rentang tahun 2026 hingga 2027. Sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto, pemerintah bakal mendorong kenaikan skor NTN dari 103 menjadi minimal 120 demi memperkuat fondasi ekonomi dalam negeri.
“Sehingga dampaknya nanti produktivitas kita akan naik, perdagangan luar negeri juga akan semakin baik,” tutur Zulkifli.
