Konten dari Pengguna

Menjaga Privasi di Era Digital

Emerensiana Gita

Emerensiana Gita

Mahasiswi Fakultas Hukum UPN Veteran Jakarta

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Emerensiana Gita tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Zaman berkembang sangat cepat sekarang. Terlebih lagi pada teknologi digital. Lebih mudah dan lebih efisien bagi kita untuk beraktivitas dengan memanfaatkan teknologi yang ada. Mulai dari kemudahan untuk petunjuk arah atau GPS, kemudahan memesan tiket pesawat atau hotel hanya lewat satu aplikasi di telepon genggam, sampai kemudahan untuk memesan makanan lewat aplikasi dan hanya tinggal duduk manis di rumah tanpa perlu repot memasak dan tidak perlu ke luar rumah.

Teknologi digital ini tidak hanya mengubah hidup, tetapi juga memudahkan hidup kita. Bahkan, kita tidak perlu repot mengingat tanggal ulang tahun teman, jadwal rapat, atau nomor telepon teman, karena semuanya dapat diingatkan hanya lewat satu aplikasi saja. Ketika mengakses GPS pun, kita tidak perlu mengetik ulang alamat dari awal, karena aplikasi itu merekam histori perjalanan kita. Begitu juga saat mengambil gambar dan video, kita bisa mengetahui kapan dan di mana gambar dan video itu diambil. Kita jadi bisa sekaligus bernostalgia saat melihat-lihat album foto di handphone. Awal-awal memang terasa menyenangkan dan memudahkan, tetapi ketika dilihat lebih jauh lagi, sepertinya mengerikan juga. Tanpa kita sadari mereka merekam dan mencatat seluruh kegiatan digital kita.

Itu tadi mengingatkan kita dengan film dokumenter di Netflix, The Social Dilemma. Film itu menceritakan bagaimana dunia digital merekam seluruh aktivitas kita. Beberapa orang dari perusahaan teknologi besar seperti Google, Facebook, Pinterest, dan Twitter diundang dan diwawancara tentang bagaimana pengaruh dunia digital terhadap kehidupan manusia. Dunia digital ini terasa mengerikan sekali. Kita seperti tidak memiliki ruang privasi sama sekali dan dikendalikan secara tidak langsung oleh mereka yang ada di balik kecanggihan teknologi digital. Kebanyakan film itu membahas bagaimana data kita seperti dijual kepada para pengiklan melalui interest kita. Interest ini didapat dari rekaman aktivitas kita di media sosial, aplikasi apa saja yang kita unduh, dan berita apa saja yang kita baca atau kita tonton sehari-hari. Tanpa kita sadari penggunaan teknologi digital yang kebanyakan gratis, kita tukarkan dengan data pribadi. Walaupun sudah ada bagian terms and condition di setiap aplikasi, peraturan yang panjang dengan bahasa hukum yang rumit membuat kita tidak mungkin membacanya secara utuh dan cermat. Kita tidak punya waktu untuk membaca apalagi mengkritisinya.

Lalu, dengan ancaman tadi, apakah kita harus keluar dari dunia digital? Padahal, teknologi tadi banyak memudahkan kita. Untungnya, kita masih bisa menggunakan aplikasi-aplikasi digital, tetapi penggunaannya yang harus bijak. Berikut beberapa cara untuk melindungi data privasi kita:

  1. Pastikan apakah password akunmu sudah aman. Kamu bisa menggunakan aplikasi pengatur password untuk mengecek berapa banyak akun yang menggunakan password yang sama. Apakah password-mu sudah aman, ataukah password-mu sudah diketahui oleh pihak ketiga. Segera ganti password akun yang sudah tidak aman tetapi masih sering kamu gunakan. Jika ada akun yang sudah lebih dari dua tahun tidak diakses, sebaiknya segera dinonaktifkan.

2. Gunakan password dengan kombinasi angka, huruf dan simbol yang unik. Sebaiknya, setiap akun memiliki passwordnya masing-masing. Kalau sulit untuk mengingatnya, kamu bisa menggunakan Password Manager untuk mengingat setiap password dari akun tersebut. Namun, kerahasiannya tidak bisa terjamin.

3. Cek akses data personal yang diminta sebelum mengunduh aplikasi. Kalau sekiranya sebuah aplikasi meminta akses data personalmu padahal aplikasi tersebut tidak memiliki fitur yang membutuhkan datamu, kamu patut curiga. Kamu bisa mencari alternatif aplikasi lain yang kegunaannya sama tetapi aman.

Teknologi digital tentu saja memudahkan kita, semuanya terasa lebih cepat dan efisien. Namun, jangan sampai teknologi yang diciptakan manusia, berbalik menjadi pengendali hidup kita. Kita yang seharusnya memegang kendali terhadap apa yang hendak dikerjakan, dipikirkan dan memanfaatkan teknologi agar waktu lebih efisien.