Merawat Bumi dari Bilik-Bilik Pesantren
Tulisan dari Emha Mutawakkil tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam waktu dua tahun, salah satu pesantren di Yogyakarta berhasil menerapkan konsep zero waste (nol sampah) dalam kehidupan sehari-hari. Pondok Pesantren Krapyak, begitulah masyarakat mengenalnya. Gagasan brilian ini lahir dari institusi yang dalam sejarahnya telah melahirkan banyak tokoh intelektual Islam Indonesia, seperti Gus Dur, Gus Mus, K.H. Masdar Farid Mas’udi, dan KH Said Aqiel Siradj. Kini, Krapyak melahirkan gagasan yang lebih besar: bukan hanya untuk merawat Indonesia, melainkan juga menjaga bumi yang kita huni.
Keterlibatan kaum sarungan dalam isu global ini sebenarnya sudah terpola. Isu lingkungan pada akhirnya akan menembus dinding-dinding pesantren, dan santri memiliki potensi besar untuk menjadi aktor utamanya. Kitab-kitab fikih yang dipelajari di pesantren kaya akan hukum yang melarang perusakan lingkungan. Selain itu, para kiai senantiasa memberi teladan tentang kebersihan dan kelestarian alam sebagai bagian dari nilai khidmat dan keberkahan.
Setiap pesantren memiliki kearifan tersendiri dalam menjaga kebersihan dan lingkungan. Melalui kedalaman ilmu tasawuf, banyak kiai memandang pohon dan hewan sebagai makhluk hidup yang memiliki perasaan yang saam dengan manusia—mirip dengan konsep ekosentrisme dalam pemikiran modern, namun dengan pendekatan spiritual.
Apa yang dilakukan Pondok Pesantren Krapyak adalah pengejawantahan konkret dari ajaran tersebut. Pesantren ini membuktikan bahwa masalah lingkungan tidak selesai hanya dengan diskusi di atas meja, melainkan butuh aksi nyata.
Menangani sampah dari ribuan santri tentu bukan hal mudah. Untuk menyiasatinya, pengurus menerapkan sistem "satu sampah, satu hari". Pengelolaan sampah dilakukan secara istiqamah (konsisten) setiap hari agar tidak menumpuk. Sampah diangkut menggunakan pikap menuju pusat pengolahan di lahan Patmasuri—kawasan strategis yang dikelola melalui kemitraan dengan Pemerintah Desa Panggungharjo. Sebelum diolah, seluruh sampah wajib dipilah terlebih dahulu.
Di Patmasuri, sampah dipisahkan menjadi dua kategori utama, yaitu organik dan anorganik. Pengolahan sampah organik menerapkan prinsip circular economy (ekonomi sirkular). Sisa makanan dari santri dimanfaatkan sebagai pakan magot, yang nantinya magot tersebut dijadikan pakan ternak dan sisa pengolahannya (kasgot) dimanfaatkan sebagai media tanam yang subur. Sementara itu, nasi basi dan sisa sayuran dialokasikan untuk pakan puluhan ekor ayam jawa. Adapun sisa sampah organik lainnya—yang jumlahnya bisa mencapai 200 kg per hari—dicacah untuk menghasilkan biogas sebagai bahan bakar memasak serta Pupuk Organik Cair (POC).
Di sisi lain, sampah anorganik dipilah secara detail berdasarkan materialnya, seperti plastik, kertas, kaca, dan logam, untuk kemudian diubah menjadi barang yang lebih berdaya guna. Kantong plastik kresek diproses menjadi ecobrick sebagai bahan pembuat kursi dan dinding. Kain-kain bekas dipotong kecil-kecil untuk menggantikan busa isian bantal. Sementara plastik sisanya dilelehkan dan dicampur dengan pasir untuk dicetak menjadi paving block, atau dicampur kerikil untuk menambal jalanan warga yang berlubang.
Kunci keberhasilan Krapyak terletak pada kolaborasi. Selain bermitra dengan Pemerintah Desa Panggungharjo dalam pemanfaatan lahan, pesantren ini juga menggandeng berbagai pihak swasta dan lembaga pengelola sampah, seperti Innovam, Pasti Angkut, dan KUPAS.
Pesantren memiliki jaringan yang sangat luas. Kementerian Agama Republik Indonesia mencatat ada sekitar 42.391 pesantren di seluruh Indonesia. Jika gerakan zero waste ini diterapkan dari setiap bilik pesantren, dampaknya akan sangat signifikan dalam mengurangi sampah nasional.
Di sinilah pentingnya peran kementerian terkait untuk hadir: memberikan edukasi pengelolaan sampah dengan menggandeng pesantren yang telah berhasil, menyediakan modal awal pengelolaan, serta memberikan insentif bagi pesantren yang konsisten menerapkan zero waste.

