Patriarki Perlu Mati atau Lestari

Emilia Nailun
mahasiswa di UIN Sunan Kalijaga menulis,membaca,menyeruput kopi dan puisi penulis,aktivis,mahasiswa aktif
Konten dari Pengguna
12 Juni 2024 8:10 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Emilia Nailun tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sumber:dokumen pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Sumber:dokumen pribadi
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia(KBBI) patriarki adalah tata susunan kekeluargaan yang begitu mementingkan garis keturunan ayah. Istilah dari patriarki sendiri layaknya sistem sosial yang menggambarkan bahwa kekuasaan laki-laki dianggap lebih dominan daripada Perempuan. Sejarah patriarki sendiri dimulai ketika adanya pembatasan hak-hak untuk Perempuan dilingkup keluarga yang mana istri layaknya budak milik suami.
ADVERTISEMENT
Kelelahan tiap dengkuran adalah wujud dari ketidakberdayaan seorang makhluk bernama perempuan. Bagaimana ia dituntut untuk menjadi tempat yang harus sempurna dimanapun ia berada. Perempuan harus cantik tapi jangan pake make up,cantiknya harus natural. perempuan harus bisa beres-beres rumah gak boleh malas tapi kalau ekonomi keluarga masih kurang harus bisa kerja,gak boleh terlalu bergantung sama suami. Kerap perempuan menjadi perbincangan apalagi di kalangan Masyarakat desa yang bahkan ada ungkapan “masak,macak,manak” hal ini menimbulkan prasangka-prasangka bahwa memang tugas perempuan adalah hal semacam itu. Padahal perempuan sendiri adalah salah satu makhluk yang tidak selemah itu,dia dapat berkarir dengan tugasnya mengurus rumah sekaligus melayani suami.
Bukankah dari rahim seorang makhluk bernama perempuan generasi dapat dilanjutkan?seolah tubuh perempuan hadir untuk hasrat,fantasi dan penghasil keturunan bagi laki-laki. Dengan susah payah perempuan berdiri melawan hierarki yang mengatakan kedudukan lelaki lebih tinggi sedangkan ruang publik tidak bisa dikatakan aman untuk Perempuan,banyak risiko kekerasan,pelecehan,pemerkosaan dan banyak ketidakadilan diarahkan pada perempuan. Bahkan Ketika emansipasi Perempuan digalakkan Subordinasi juga dikerahkan untuk pihak-pihak yang melawan feminisme. Bukankah perempuan harusnya layak memiliki hak yang setara dengan laki-laki?
ADVERTISEMENT
Hal ini menyebabkan kecemasan bagi para Perempuan,disaat Perempuan ingin melawan tapi para laki-laki tak membiarkan adanya suara dari mulut pembuat keturunan,hal ini menimbulkan ketakutan dan rasanya seperti berada dalam jeruji keanggunan,itu hal yang di inginkan bukan?perempuan dengan tutur kata yang lembut dan tak pernah terdengar bantahan. Ester Lianawati dalam bukunya Dari Rahim Ini Aku Bicara berkata “Namanya juga ilusi, lewat predikat ini Perempuan tak sadar telah dimanipulasi dalam kontrak perkawinan. Atas nama pengabdian dan kodrat mereka sebagai ibu dan istri yang baik, Perempuan dijebak untuk melayani pekerjaan perawatan seumur hidup tanpa dibayar dan diapresiasi. Akibatnya,Perempuan juga jadi dijauhkan dari ruang publik. Mereka dilarang setara dalam pendididkan dan politik”.
Sumber: Lianawati,Ester. 2024. Dari Rahim Ini Aku Bicara. Yogyakarta : EA Books
ADVERTISEMENT