Ruang Digital Perempuan : Tubuh Siapa yang Layak Disentuh Tanpa Izin?

mahasiswa yang suka menulis,membaca,menyeruput kopi dan puisi penulis,aktivis,mahasiswa aktif
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Emilia Nailun Naja tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ruang digital saat ini sangat memiliki peran besar terhadap laju informasi, karena dari banyak faktor ruang digital memiliki banyak keunggulan jika kita bandingkan dengan media konvensional seperti koran dalam penyampaian informasi kepada khalayak. Dalam hal ini pula ruang digital dapat membantu kita menebarkan informasi maupun aspirasi kita kepada masyarakat yang lebih luas. Salah satunya adalah aktivisme digital terkait gender yang sekarang sedang menjamur informasinya diruang digital.
Banyak hal perlu dibicakan jika mulai membicarakan terkait gender dimedia karena konstruksi budaya masyarakat kita yang cenderung konservatif sehingga budaya-budaya melanggengkan patriarki terus bertumbuh ditiap generasi. Hal inilah yang memicu gerakan-gerakan kesetaraan gender mulai digaungkan. Lebih dari itu adanya kesetaraan gender ini dapat menjadi solusi bahwa banyaknya kasus pelecehan itu terjadi sebab konstruksi budaya kita yang dilanggengkan yaitu patriarki itu sendiri, kenapa hal tersebut menjadi benang merah karena dalam budaya patriarki adanya dominasi laki-laki terhadap perempuan yang dianggap lemah. Maka dengan persepsi perempuan itu lemah maka laki-laki mempunyai hak atas perempuan atau bahkan atas tubuh perempuan itu sendiri yang seharusnya tubuh yang menjadi ranah privasi dan hak setiap individu dimaknai hak bersama. Tentu hal itu sangat merugikan bagi perempuan.
Maka dari itu, ruang digital adalah alat yang tepat untuk menggaungkan suara-suara yang dulu mungkin diredam dan sekarang layak untuk diperjuangan. Kita ambil contoh akun instagram @sadampermana.w yang turut menggaungkan persoalan pelecehan, dalam video terbarunya yang diunggah pada tanggal 1 juni 2025 jam 19:00 mengatakan bahwa ”setiap perbuatan pelecehan itu stop untuk menyalah kan korban, baik itu dengan alasan pakaiannya padahal yang tertutup rapat menggunakan cadar pun bisa menjadi korban, juga alasan bahwa sering keluar atau pergaulan bebas padahal dalam lingkup dunia pendidikan tidak hanya satu-dua korbannya, lantas beranggapan bahwa karena perempuan yang sering menjadi korban karena lemah padahal laki-laki pun yang dianggap kuat juga bisa menjadi korban.” dari konten edukasi yang dibuat ini banyak hal yang ternyata membingkai korban karena kesalahan dari pelaku.
Dari anggapan akun instagram @sadampermana.w rasanya kurang bila kita tidak menelaah isu-isu ini satu persatu. Dimulai dari anggapan bahwa pelaku bertindak karena korban memakai pakaian yang terbuka. Bukankah memilih pakaian adalah hak setiap manusia, yang mana itu adalah bentuk ekspresi kebebasan individu terhadap apa yang dipakainya. Lantas membawa nama agama bahwa perempuanlah yang seharusnya menutupi tubuhnya bukan pelaku yang mengontrol dirinya, tapi dalam islam sendiri perempuan diwajibkan untuk menutupi tubuh memang benar adanya, tapi dalam pemaknaannya di tafsir al-qurtubi ayat 30 surah an-nur turun lebih dulu daripada ayat 31 yang berarti laki-laki lah yang seharusnya menundukan pandangannya terlebih dahulu, baru perempuan diminta menjaga aurat mereka. Dan kembali lagi bahwa seharusnya setiap manusia yang hidup di muka bumi ini berhak nyaman tanpa harus dilingkupi ketakutan karena pelecehan.
Yang kedua permasalahan bahwa ”korban sih suka keluyuran gajelas.” bukan masalah korban yang suka keluyuran tapi karena pada dasarnya hasrat seksual pelaku yang tidak bisa mengontrol atas tubuh dan logikanya sendiri. Karena faktanya banyak kasus pelecehan itu terjadi lingkungan yang seharusnya melindungi korban seperti rumah dan pendidikan. Seperti kasus yang beberapa waktu lalu sempat naik tentang grup facebook bernama ’fantasi sedarah’ yang mana pelaku membagikan pengalaman melecehkan keluarganya sendiri di media, sampai dosen disalah satu perguruan tinggi terkenal juga terlibat sebagai pelaku kekerasan seksual.
Yang ketiga kebanyakan korban adalah perempuan karena diangap lemah padahal realitanya laki-laki juga bisa menjadi korban. Karena inilah kesetaraan gender kerap disinggung dibarengi dengan isu-isu yang ternyata masih banyak berseliweran. Selain itu peran gender yang sering dikaitkan di budaya patriarki juga rasa-rasanya tidak dibenarkan. Perempuan berhak memilih bagaimana jalan yang diinginkan bukan sekedar menjadi pelayan untuk laki-laki. Perempuan layak merdeka atas hak-hak yang setara. Dan laki-laki berhak berbicara jika mendapat pelecehan, karena peran gender yang tumbuh di budaya kita ini mengharuskan laki-laki menjadi sosok kuat yang tidak boleh lemah, menangis dan bercerita.
Lantas tubuh siapa yang layak disentuh tanpa izin? Tidak ada. Semua manusia punya kontrol penuh terhadap tubuh dan perilakunya sendiri tanpa dipengaruhi standar darimanapun. manusia punya hak untuk tubunya tidak dilecehkan. Dan pelaku harusnya sebelum menjadi ’pelaku’ bisa berfikir untuk mengontrol tubuhnya, fikirannya, kemauannya sehingga pelecehan itu tidak pernah terjadi. jadi, aktivisme digital bertema gender sangat perlu dilakukan dan diharapkan banyak dampak positif yang terjadi, supaya masyarakat lebih peka dan semakin banyak share dan diskusi yang terjadi di ruang-ruang digital seperti yang dilakukan @sadampermana.w, bahkan viewers nya mencapai ribuan dan menjadikan ruang digital sebagai sarana edukasi.
