Kisah Nyata: Cerita Mistis 4 Sekawan (1)

butuh asupan horor, langsung subscribe youtube "Pondok Misteri" yaa!
Tulisan dari PondokMisteri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Namaku Ajeng, saat ini aku adalah mahasiswa Sastra di salah satu Universitas Negeri di Malang. Sejak kecil aku memang sudah menyukai hal-hal berbau misteri, dan hampir semua film seram yang tayang di bioskop sudah habis kutonton.
Beruntung ketika kuliah aku menemukan teman sepermainan yang memiliki kegemaran sama, sehingga kami berempat memutuskan setiap malam Jumat akan berkumpul di salah satu rumah untuk menceritakan kisah-kisah seram.
Hari ini merupakan giliran Satria untuk menjadikan rumahnya sebagai Base Camp. Aku pun meminta izin pada Bapak untuk menginap bersama dengan Karin dan Sinta.
“Heloooow.” Sapa Satria dengan gaya khas ala Ivan Gu*awan.
“Hai ciwik-ciwik.” Sapa Ibu Satria ramah kepada kami. “Ibu udah siapin kamar untuk kalian tidur, anggap saja rumah sendiri ya.”
Kami bertiga mengangguk dan tersenyum. Ibu Dewi, Ibunya Satria memang dikenal ramah, beliau bahkan sering mengajak kami berkumpul untuk makan bersama.
“Nah yuk siapa yang mau cerita dulu?” Tanya Karin.
“Aku terakhir ya.” Jawab Satria. “Ladies First.”
“Yee.” Sahutku dan Sinta bersamaan. “Bilang aja masih mau mikir kan, mau cerita apa.”
Satria tertawa.
“Ya udah aku dulu ya.” Jawab Karin.
“Jangan lupa aturannya gengs!” Ingat Satria.
Kami segera memberikan ponsel kepada Satria yang bertugas menjadi Tuan Rumah pada malam ini.
“Udah siap?” Tanyaku.
Satria, Karin, dan Sinta mengangguk.
“Sat matiin lampu.” Pinta Sinta.
“Siap.”
Kami berempat segera mengatur posisi masing-masing, mencari tempat ternyaman untuk mendengarkan alur cerita yang akan disampaikan setiap pembicara.
CERITA KARIN
Saat masih kecil, aku diajak oleh Ibu dan Bapak untuk berlibur ke rumah Eyang di Desa. Rumah Eyang cukup jauh dari Kota Malang, bahkan akses ke sana pun cukup sulit karena terjalnya jalanan.
Eyang memang memilih menetap di tempat kelahirannya, karena tak terbiasa dengan hiruk pikuk keramain Kota. Sayangnya Ibu dan Bapak juga tak bisa sering-sering berkunjung karena banyak pekerjaan.
Namun hari itu Ibu dan Bapak harus tugas di luar kota selama Seminggu, dan karena tidak ada yang menjagaku, maka mereka memutuskan mengantarku ke rumah Eyang.
Aku yang bosan di rumah saja selama liburan, tentu senang mendengar kabar tersebut. Walau jarang bertemu, namun ketika Eyang berkunjung ke Malang beliau akan selalu memasakan makanan-makanan enak untukku.
“Nanti Ibu akan jemput Karin secepatnya.”
“Iya Bu nggak apa-apa kok.”
“Beneran kamu nggak apa-apa di rumah Eyang?” Tanya Bapak memastikan.
Aku mengangguk yakin.
“Gimana Dek? Udaranya masih sejuk ya.” Tanya Ibu melihatku yang terlihat senang.
Aku mengangguk setuju. Rindangnya pepohonan membuat udara tetap terasa dingin, walau hari masih siang.
“Yuk masuk dulu Dek.” Ajak Ibu padaku.
Aku mengangguk mengikuti Ibu.
“Kok Eyang pakai lilin? Mati lampu?” Tanyaku bingung ketika melihat ada lilin diletakan di atas meja dan dibeberapa sudut rumah.
Ibu dan Bapak tertawa bersama.
“Namanya juga di kampung Nduk.” Jawab Eyang tersenyum memaklumiku.
“Nah Bu, maaf ya kami tidak bisa lama-lama karena harus kembali ke Malang dan ngejar pesawat.”
Eyang tersenyum dan memberikan Ibu Bapak bingkisan makanan yang telah disiapkannya. “Hati-hati ya Nak.”
***
“Nah Nduk ini kamar kamu.” Jelas Eyang mengantarkanku ke kamar yang telah disiapkannya untukku. “Kalau udah selesai beberes, mau makan ada di atas meja ya.”
“Iya Eyang, makasih.” Jawabku dan meletakkan tas yang kubawa di sudut kasur.
Aku merebahkan diriku, mengamati sekeliling. Rumah Eyang sangat berbeda jauh dengan rumahku. Di sini tembok masih dari kayu, bahkan atapnya juga. Selain itu karena belum ada listrik, disetiap meja pasti disediakan lilin.
Namun walaupun demikian, aku sangat menikmati kehidupan di sini. Selain udaranya masih sejuk, aku suka melihat indahnya pegunungan dari balik jendela kamarku.
“Ya ampun jam berapa ini?” Kataku tersentak kaget, karena tersadar sudah tertidur.
“Jam 5!” Pekikku kaget ketika melihat jam tanganku.
Aku segera beranjak dari kasur dan bersiap-siap untuk mandi.
“Mau kemana Nduk?”
“Mandi Eyang.”
“Ya udah sini Eyang antar.”
Aku mengangguk dan mengikuti Eyang, kami berjalan sekitar lima menit untuk sampai di tempat pemandian yang juga digunakan sebagai kamar mandi. Tempat ini terletak di samping sungai dan hanya dibatasi oleh kain untuk memisahkan bilik untuk laki-laki dan perempuan.
“Nah Nduk kamu masuk yang kanan ya, karena kiri buat pemandian laki-laki.”
“Eyang nggak mandi?”
“Sudah.” Jawabnya tersenyum. “Berani kan?”
Aku mengangguk. Hari masih sore, dan matahari masih terlihat walau samar. Selain itu jarak dari rumah Eyang cukup dekat, sehingga tak ada yang perlu kutakutkan.
“Ya udah Eyang balik dulu, mau masak makan malam.”
“Hati-hati Eyang.”
“Ingat Nduk sebelum jam enam sudah balik ya.”
“Iya Eyang.”
Aku mulai bersiap-siap untuk mandi, usai selesai menimba air sungai yang tanpa kusadari memakan waktu cukup lama untuk memenuhi setengah bak.
“Dingin banget.” Gumanku.
Namun karena semenjak pagi belum sempat mandi karena harus cepat-cepat untuk berangkat, aku pun memutuskan tetap mandi walau seluruh tubuhku bergidik.
Prang!
Tanpa sadar aku langsung melihat arah benda jatuh dibelakangku. Namun tidak ada apapun yang tergeletak di lantai.
“Aneh.” Pikirku.
Walau tidak ada apa-apa, entah kenapa tiba-tiba seluruh tubuhku terasa dingin walau tidak ada angin bertiup. Aku pun memutuskan untuk segera berpakaian dan kembali ke rumah Eyang.
Deg.
Jantungku seolah berhenti berdetak, ketika aku melihat seorang wanita berdiri tepat di hadapanku. Aku tidak bisa mengingat bagaimana rupanya, namun yang kutahu dia memakai baju serba putih dan seluruh wajahnya tertutup oleh rambut.
Jarak kami yang begitu dekat, membuat seluruh tubuhku lemas seketika, hal terakhir yang kuingat hanya suara tawa nyaringnya.
Ketika sadar, kata Eyang aku ditemukan oleh warga yang ingin ke kamar mandi. Mereka berkata bahwa ‘penjaga’ hanya ingin berkenalan denganku, yang bukan warga setempat.
Walau dibilang demikian, namun sejak hari itu aku tetap tidak berani pergi ke pemandian seorang diri dan selalu minta Eyang menemaniku. Bahkan aku tetap bisa mengingat sosok wanita tersebut, sekalipun ingin melupakannya.
“Gimana-gimana?” Tanya Karin usai selesai bercerita.
“Wah gila, aku mah kalau di sana bisa-bisa jejeritan heboh.” Kata Sinta tertawa.
“Terus Eyang kamu masih di mana sekarang?” Tanyaku penasaran.
“Masih di Desa dia mah.”
“Kamu masih berani ke sana?” Timpal Satria penasaran.
“Masih, cuma sampai sekarang kalau ke sana pasti ajak Ibu mandi bareng.” Jawabnya tertawa. “Masih trauma tahu nggak.”
Satria tertawa. “Nah ayo siapa nih yang mau cerita lagi?”
“Aku deh.” Tawarku.
Berlanjut ke Part II
