Konten dari Pengguna

Kisah Nyata: Cerita Mistis 4 Sekawan (3)

PondokMisteri

PondokMisteri

butuh asupan horor, langsung subscribe youtube "Pondok Misteri" yaa!

comment
6
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari PondokMisteri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kisah Nyata: Cerita Mistis 4 Sekawan (3)
zoom-in-whitePerbesar

CERITA AJENG

Aku dan keluargaku kerap kali berlibur dengan menginap hotel paling tidak sebulan sekali. Kegiatan ini memang sudah dilakukan sejak aku masih Sekolah Dasar, sebagai cara agar keluarga kami memiliki waktu Family Time bersama.

Seperti biasa aku pun antusias, bahkan jauh-jauh hari sudah menceritakan ke teman-temanku bahwa akan menginap di salah satu hotel bintang lima yang cukup terkenal di Malang.

Sayang karena terlalu bersemangat, aku justru jatuh sakit. Walau demikian aku tetap merengek acara menginap hotel tetap berjalan. Ibu dan Bapak tidak bisa menolak keinginanku, sehingga kami berempat bersama Mbak Winda tetap berangkat ke Hotel tersebut.

Saat sampai kondisi tubuhku semakin melemah, sehingga ketika Ibu, Bapak, dan Mbak Winda hendak pergi makan siang aku memutuskan untuk tidur saja di kamar.

“Dek kamu baik-baik aja?”

“Nggak apa-apa Bu.” Jawabku. “Hanya agak pusing.”

“Udah minuk obat Dek?” Tanya Bapak memastikan keadaanku.

“Sudah Pak.”

“Kamu yakin nggak mau ditemani Mbak Winda?”

Aku mengangguk yakin.

“Kami pergi ya Dek, nanti mau titip makan apa?”

“Apa saja Bu.” Jawabku asal, di dalam kondisi seperti ini rasanya tubuhku lebih memilih untuk tidur sejenak dibanding memikirkan isi perut.

Tap Tap Tap, Cklek.

Aku mendengar suara langkah kaki mereka bertiga menjauh, diakhiri dengan suara pintu tertutup. Suasana kamar yang sebelumnya ramai, mendadak sangat hening. Namun bagiku yang sedang sakit, saat ini menjadi waktu paling tepat untuk beristirahat.

Tak Tak Tak.

Aku terbangun mendengar suara bunyi jendela diketuk.

Tak Tak Tak.

Aku terdiam, memastikan apa yang kudengar memang nyata dan bukan mimpiku belaka. Namun anehnya ,suara tersebut mendadak hilang.

Setelah yakin tidak mendengar apa pun lagi, aku memutuskan menyalakan lampu. Entah kenapa mendadak rasanya ada perasaan takut yang menyelimuti hatiku.

Sesaat setelah lampu menyala, hatiku merasa lebih tenang. Aku pun memutuskan untuk kembali tidur. Namun baru sebentar tertidur, aku mendengar ada seseorang yang berjalan mendekat. Badanku yang semakin panas, membuat mataku terasa berat untuk dibuka.

“Ibu?”

Hening.

“Bapak?”

Hening.

“Mbak?”

Hening.

Aku terdiam. Badanku yang semula panas, kini menjadi gemetar karena ketakutan.

Tap Tap Tap.

Suara tersebut semakin mendekat, bersamaan dengan siluet hitam yang semakin terasa jelas dibalik mataku.

Deg. Deg. Deg.

Aku bisa mendengar suara detak jantungku tak beraturan karena begitu takutnya. Namun aku juga tidak berani bergerak, apalagi berlari menjauh. Satu-satunya hal yang bisa kulakukan saat ini hanya berdoa.

Cklek.

“Dek sudah bangun?”

“Ibu?” Panggilku memastikan suara tersebut benar Ibu.

“Lho kok badan kamu basah semua? Mau ke dokter aja Dek?” Tanya Ibu khawatir.

Aku membuka mataku, dan hatiku terasa sangat lega saat melihat keluargaku sudah tiba. “Mau pulang aja Bu.”

“Kenapa?” Tanya Bapak bingung.

“Itu tadi Ajeng lihat ada bayangan hitam besar Pak.”

“Biasanya kalau kita lagi nggak fit emang gitu Dek.” Jawab Bapak tertawa. “Jadi kita emang lebih sensitif.”

“Abis gitu kamu pulang Jeng?” Tanya Sinta penasaran.

“Nggak.” Jawabku tertawa. “Soalnya Ibu, Bapak, dan Mbak Winda akan gantian tungguin aku di kamar, kata mereka rugi udah bayar.”

Kami berempat tertawa bersama.

“Duh capek juga ya.” Ujar Karin.

“Sabar.” Sahut Sinta. “Tinggal Satria nih, abis gitu kita langsung bobo cantik.”

“Bobo ganteng juga dong.” Protes Satria.

“Tapi kamu kan ngondek Sat.” Balas Sinta.

Kami berempat tertawa.

“Ya udah ini aku cerita yang pendek aja.”