Kisah Nyata: Cerita Mistis 4 Sekawan (4)

butuh asupan horor, langsung subscribe youtube "Pondok Misteri" yaa!
Tulisan dari PondokMisteri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

CERITA SATRIA
Kemarin, Bang Dana dan keluarga kecilnya mampir ke Malang untuk berlibur. Bang Dana yang tinggal di Surabaya, memilih untuk membawa mobil sendiri agar tidak susah mengajak Ibu dan Bapak berjalan-jalan nantinya.
Bang Dana memang sudah termasuk mapan di keluarga kami, sebab dia satu-satunya yang sudah berhasil memiliki rumah dan kendaraan pribadi tanpa minta bantuan Ibu Bapak.
Kami sekeluarga memutuskan untuk pergi ke salah satu Mal di Malang. Ibu, Bapak, Mbak Audi, Jihan, dan Bang Dana naik mobil. Sedangkan aku bersama dengan Bimo adikku naik motor.
“Bim” Panggilku kepada Bimo yang sibuk dengan ponselnya.
“Main tebak-tebakan yuk.” Ajakku yang bosan.
“Malas ah Bang.”
“Nanti kalau benar, Abang kasih duit.” Bujukku.
Bimo terdiam, aku yakin dia sedang memikirkan ajakanku.
“Tebak-tebakan apa Bang? Jangan kayak bocah ya.”
Aku tertawa. Sebab aku ingin mengajaknya bermain menebak posisi orang-orang yang duduk di dalam mobil, berdasarkan siluetnya.
“Tuh lihat di mobil Bang Dana, kita tebak yang duduk siapa aja.”
“Ih udah jelas lha Bang di depan Bang Dana.”
“Itu mah Abang juga tahu.” Jawabku kesal.
“Itu yang dibelakang kan ada tiga orang, kamu tebak siapa aja.”
“Kiri Ibu, tengah Mbak Jihan, kanan Bapak.”
“Yakin ya?”
Bimo mengangguk.
Aku pun memutuskan untuk terus berada di belakang mobil Bang Dana hingga di depan rumah. Namun tiba-tiba jantungku berdetak kencang, ketika menyadari bahwa Mbak Jihan keluar dari pintu depan.
“Bim. Bim” Panggilku panik.
“Apaan sih Bang.”
“Itu.” Kataku masih terbata karena terkejut.
“Mbak Jihan keluar dari depan.”
“Abang salah lihat kali.”
“Nggak.” Jawabku yakin.
Aku pun segera memasukkan motor ke dalam garasi dan pergi ke ruang tamu untuk bertemu Ibu, Bapak, Bang Dana, dan Mbak Jihan.
“Satria, kamu kenapa? Sakit?” Tanya Ibu khawatir melihat wajahku yang pucat.
“Bu?”
“Iya?”
“Tadi Mbak Jihan duduk di belakang sama Ibu kan?”
Ibu tertawa. “Kamu kenapa sih?”
“Jawab aja Bu.”
“Ya di depan lha sama Abang kamu.”
Aku dan Bimo terdiam bersama. Sebab kami berdua sangat yakin bahwa di kursi belakang ada tiga orang yang duduk bersama. Lalu bila Mbak Jihan duduk di depan siapa seseorang yang duduk di antara Ibu dan Bapak?
“Maksud Om Satria, tante?”
“Tante?” Tanya Mbak Jihan bingung.
“Iya Bu, tadi Audi lihat ada tante duduk sama Eyang dan Mbah.”
“Audi, Ibu bilang nggak boleh bohong ya.”
“Nggak Bu.” Jawab Audi yakin. “Audi memang lihat ada tante. Itu masih ada di mobil Bapak.” Tunjuknya pada Mobil Bang Bimo yang terparkir di halaman depan.
“Jadi itu beneran?” Tanya Karin takjub.
Satria mengangguk. “Aku juga percaya nggak percaya, tapi benar-benar terjadi.”
“Wah seram banget ya, gimana kalau dia ikut di rumah kamu?” Candaku.
“Hush!” Sargah Sinta. “Jangan bilang gitu, pamali.”
Satria tertawa. “Nggak kok, soalnya kemarin kata Audi tante udah nggak ada lagi di mobil.”
Tok. Tok. Tok.
“Aaaa!” Kami berempat teriak bersama karena kaget mendengar suara pintu diketuk.
“Ibu bikin kaget saja.”
Ibu Dewi tertawa. “Nih ibu bawain minum, kalian dari tadi ketawa-ketawa pasti haus kan?”
“Makasih Bu.” Jawabku, Sinta, dan Karin bersamaan.
“Bu kok dibawainnya lima? Ibu mau minum bareng kami?”
“Lha iya lima dong, kan kalian berlima!” Jawab Bu Dewi.
“Lima?” Tanyaku memastikan.
“Iya, tadi dibelakang Nak Karin ada teman kalian satu lagi. Ibu nggak gitu jelas sih wajahnya gimana, karena ketutupan Karin. Nah sekarang dia ke mana? Udah pulang?”
Kami berempat hanya bisa terdiam dan saling menatap satu sama lain, entah kenapa di pikiranku dia adalah “tante” yang dimaksud oleh ponakan Satria kemarin.
BERLANJUT KE PART V
