Kisah Nyata: Cerita Mistis 4 Sekawan (5)

butuh asupan horor, langsung subscribe youtube "Pondok Misteri" yaa!
Tulisan dari PondokMisteri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setelah kejadian di rumah Satria, kami berempat sempat berhenti melakukan rutinitas wajib kami setiap malam Jumat. Namun setelah Ibu Satria melakukan pengajian beberapa minggu dan yakin sosok yang mengikuti mereka sudah hilang, kami pun mulai berani berkumpul.
Sebenarnya tidak terjadi apapun denganku, Karin, dan Sinta. Namun menurut penuturan Satria hampir setiap malam dia terbangun dan merasa ada sosok yang memperhatikan dirinya walau tak terlihat.
Bahkan karena hal ini Satria memutuskan untuk tidur sekamar bersama Bimo, adiknya. Sayangnya wanita tersebut seolah tertarik dengan Satria dan tetap membuatnya terbangun setiap malam.
“Tapi sekarang benar-benar aman kan?” Tanyaku memastikan ketika Satria tiba.
Satria mengangguk. “Sejauh ini sih udah tiga hari aku bisa tidur nyenyak.”
“Wah udah kumpul semua nih.” Sapa Karin yang terakhir tiba. “Rindu banget kumpul-kumpul gini.”
“Rindu tapi dateng paling akhir.” Sahut Sinta.
Kami berempat tertawa.
“Nah ayo siapa nih yang mau cerita duluan?”
“Hompimpa aja.” Jawab Karin.
“Ya udah yuk, yang sendirian cerita dulu ya.” Anjur Sinta.
“Hompimpa alaium gambreng.”
“Karin, Karin.” Teriak kami bertiga bersamaan ketika Karin mengeluarkan putih sendiri.
“Hhh. Baru juga sampai.” Dengus Karin.
“Hukuman, siapa suruh dateng telat.” Sahut Satria.
Kami bertiga kembali tertawa.
“Ya udah siap-siap ya!” Jawab Karin.
CERITA KARIN
Dua tahun lalu, kami sekeluarga berkunjung ke rumah Tante Citra, teman baik Ibu sejak masa sekolah. Tante Citra baru saja kembali ke Malang setelah selama ini merantau ke Surabaya bersama suaminya.
Om Ardi, Suami Tante Citra memutuskan membeli rumah di perumahan baru yang dibangun di pinggir Kota Malang. Perumahan ini memiliki arsitektur modern, namun karena masih dalam proses pembangunan, masih banyak rumah yang belum ditinggali.
Om Ardi saat itu masih memiliki beberapa urusan di kantor lamanya, sehingga dia meminta tolong kepada Ibu untuk menemani Tante Citra selama dua malam. Ibu pun setuju, dan menganggap hal ini sebagai ajang reuni bersama sahabat lamanya.
“Karin mau punya rumah di sini nggak?” Tanya Ibu menggodaku.
“Mauuuu.” Sahutku. “Bagus banget Bu.”
Bapak tertawa. “Tapi kan bakal susah kemana-mana, enakan rumah kita.”
“Bilang aja kita nggak duit Pak.” Canda Ibu.
Kami tertawa bersama.
“Bapak beneran nggak ikut?”
“Nggak deh, Bapak nggak mau ganggu reuni Ibumu.”
“Bapak berani di rumah sendiri?”
“Ya beranilah emangnya kamu?”
Ibu tertawa. “Kamu ini nanyanya ada-ada aja.”
“Ya udah besok lusa Bapak jemput ya.” Pamitnya dan menciumku.
.
Rumah Tante Citra, terdiri dari bangunan dua lantai. Lantai 1 dijadikan sebagai ruang tamu, ruang makan, dapur, dan satu kamar mandi. Sedangkan untuk kamar, semua berada di lantai 2.
Namun karena baru pindah dan masih belum sempat beberes, Tante Citra meminta kami untuk tidur bersamanya.
Ibu dan Tante Citra yang sudah lama tidak bertemu, menghabiskan sepanjang malam dengan saling bertukar cerita. Aku yang sudah mengantuk pun memutuskan untuk tidur lebih dahulu.
Cklek.
Suara pintu terbuka membuatku terbangun.
“Hmm.” Gumanku setengah tersadar. Ibu dan Tante Citra masih di atas kasur, apa aku salah dengar ya?
Aku kembali memejamkan mataku dan bersiap-siap untuk kembali tidur.
Cklek.
Suara pintu terbuka kembali terdengar. Namun kali ini aku tidak berani membuka mata, karena sangat yakin bahwa Ibu maupun Tante Citra masih tertidur.
Tap. Tap. Tap.
Aku masih memejamkan mata pura-pura tertidur, di saat itu pikiranku takut bahwa yang baru saja masuk adalah maling, sehingga pura-pura tidur adalah cara paling aman untuk selamat.
Namun tetap saja perasaan penasaran menyelimuti hatiku, dan membuatku memberanikan diri membuka mata walau hanya sebentar.
“Kosong.” Aku duduk dan mengamati sekeliling.
“Aneh banget.” Pikirku. Aku sangat yakin mendengar ada seseorang yang membuka pintu dan langkah kaki. “Masa aku mimpi?”
.
Cklek.
Tanpa kusadari aku sudah kembali tertidur, dan lagi-lagi bunyi pintu terbuka kembali terdengar.
Tap. Tap. Tap.
Aku bisa mendengar suara langkah kaki mendekat. Namun berbeda dari sebelumnya, kali ini aku memberanikan diri untuk mengintip.
“Anak kecil?” Kataku dalam hati ketika melihat anak kecil yang masih berusia 5 tahun berdiri dan membuka tas di samping Tante Citra.
“Dek.” Panggilku.
Aku mengamati sekeliling, anak tersebut sudah hilang dan hanya meninggalkan tas Tante Citra yang terbuka.
“Ibuuuuuuuuuuu.” Teriakku panik.
“Kenapa Rin?”
“Tadi. Tadi ada anak kecil.”
“Ha? Kamu mimpi?” Tanya Ibuku bingung.
“Nggak Bu.” Jawabku yakin. “Tadi dia buka tas Tante Citra, pas Karin panggil dia hilang.”
“Dia tuyul.”
“Ha?” Kataku masih setengah percaya, mengingat penampilan anak tersebut seperti manusia pada umumnya.
Berbeda dari gambaran dalam film bahwa tuyul tidak menggunakan pakaian, sosok yang kulihat tadi memakai baju lengkap seperti anak kecil normal lainnya.
“Tuyul?” Lanjutku memastikan jawaban Tante Citra.
Tante Citra mengangguk. “Iya tuyul, jin anak-anak yang suka ambil duit.”
“Kok tante nggak kaget?”
“Kemarin waktu pindah satpam komplek bilang, katanya ada warga yang pelihara tuyul.” Jelas Tante Citra. “Tapi nggak tahu siapa, jadi selama belum diusir Tante diminta selalu taruh yuyu di depan rumah, supaya tuyulnya nggak jadi masuk.”
.
“Hmm, udah?” Tanya Satria melihat Karin diam.
“Udah.” Jawab Karin tertawa. “Paginya aku minta bapak jemput soalnya.”
“Sekarang orangnya udah ketangkep?” Tanyaku penasaran.
“Katanya sih udah.”
“Yuyu buat apaan sih? Yuyu yang kepiting kecil itu kan?” Tanya Satria.
“Kok diam aja Sin?” Tanyaku penasaran melihat Sinta yang biasanya paling banyak berbicara hanya diam.
Sinta terkekeh. “Lagi cari ide mau cerita apaan.”
Kami tertawa.
“Ya udah Satria dulu, mau?” Tawarku.
“Kenapa nggak kamu aja Jeng?”
“Hehehe.” Tawaku, karena belum menemukan ide cerita.
“Ya udah. Ya udah.” Jawab Satria mengalah.
Bersambung ke Cerita Satria, bertemu si Manis Jembatan Ancol
