Konten dari Pengguna

Kisah Nyata: Cerita Mistis 4 Sekawan (6)

PondokMisteri

PondokMisteri

butuh asupan horor, langsung subscribe youtube "Pondok Misteri" yaa!

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari PondokMisteri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi hantu. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi hantu. Foto: Pixabay

Saat aku masih kelas 3 SD, kami sekeluarga berlibur ke Jakarta dan menginap di hotel yang memiliki akses strategis ke tempat wisata. Berbeda dengan saat ini yang telah berganti kepemilikan dan telah direnovasi, saat itu bangunan Hotel masih termasuk kuno.

Keluarga Ibu saat itu mendapatkan kamar di lantai 3, dari balkon depan kamar aku bisa melihat taman bermain yang akan kukunjungi besok. Sedangkan Tante Ratih, adik Ibu mendapatkan kamar di Lantai 6.

Hari pertama semua baik-baik saja, mungkin karena terlalu capek kami semua langsung tertidur begitu selesai makan malam.

.

Pagi-pagi sekali aku sudah terbangun, sedangkan Bang Dana dan Bimo masih tidur. Aku pun memutuskan untuk pergi ke kamar Ibu dan Ayah.

Cklek.

Saat pintu terbuka matahari pagi sudah bersinar terang, aku pun memutuskan diam sejenak di balkon untuk melihat pemandangan taman bermain dari sini.

“Wah nggak sabar deh pingin cepat-cepat ke sana.” Gumamku, sambil memikirkan akan menaiki permainan apa saja ketika sampai di sana.

Brak!

Pintu kamarku tiba-tiba tertutup, padahal sudah sengaja kubuka lebar agar tidak perlu membangunkan Bang Dana atau Bimo.

“Duh kamar Bapak sama Ibu di ruangan berapa ya?”

"Hhh." Dengusku menyerah. Sudahlah lebih baik aku menikmati pemandangan ini lebih lama, nanti kalau sudah kembali ke Malang pasti akan rindu.

Sreeeet ~

Pintu kaca penghubung antara kamar dan lift terbuka.

Aku terdiam dan sempat berpikir aneh bahwa pintu tersebut bisa terbuka sendiri, padahal tidak ada angin. Namun hari masih pagi dan matahari sudah bersinar terik, tidak mungkin ada hantu.

Sreeeet ~

Pintu kembali terbuka, dan kali ini seorang wanita yang membukanya.

Aku biasanya tidak begitu peduli dengan urusan orang, namun ada sesuatu yang aneh dari wanita tersebut sehingga membuatku diam-diam mengamatinya.

Wanita tersebut tampak normal seperti manusia pada umumnya, dia memakai baju terusan putih. Tapi anehnya aku tidak bisa mendengar langkah kakinya walau dia berjalan semakin mendekat.

Serrrr ~

Ketika wanita tersebut melewatiku, aku merasakan angin begitu kencang. Hal ini membuatku kembali mengamati keberadaanya. Wanita tersebut ternyata memiliki rambut panjang sebahu, namun seolah malu dia sengaja terus menunduk untuk menutupi wajahnya.

“Mau ke mana dia?” Gumamku penasaran, karena dia terus berjalan lurus. “Bukannya di sana nggak ada kamar lagi.”

"Ha? Belok??"

Aku yang semula berdiam di tempat, mulai berani mengikuti wanita tersebut karena penasaran ke mana dia pergi. Namun yang kutemukan hanya sebuah tembok tanpa adanya pintu atau jalan.

“Bang! Bang Dana.” Teriakku dan menggedor pintu kamar. “Bangg! Bim!”

"Hah. Hah. Hah." Nafasku masih terasa berat karena ketakutan dan berlari secepat mungkin ke kamar.

“Bimoooo.”

“Bang Sat? Ngapain di luar sepagi ini?”

Aku terduduk lemas, di lantai hotel. “Hhh. Nggak apa-apa.”

“Beneran Bang? Muka Abang pucat banget lho.”

Aku mengangguk. Aku tidak ingin membuat Bimo takut dan membuat liburan kami menjadi tidak menyenangkan.

.

Malamnya Tante Ratih meminta untuk tidur bersama dengan kami, dan membayar tambahan untuk Extra Bed. Awalnya dia tidak mau cerita apa yang terjadi, namun ketika aku menceritakan pengalamanku, Tante Ratih mulai terbuka.

Malam kemarin, setelah Om Arya dan Dono pergi memancing Tante Ratih yang sudah capek karena perjalanan jauh, memilih untuk langsung tidur. Namun baru setengah jam tertidur, Tante Ratih terbangun karena mendengar suara orang yang sedang menggunakan kamar mandi.

Mulanya dia berpikir bahwa Om Arya atau Dono sudah pulang dan mengabaikannya. Namun tiba-tiba dia mendengar suara perempuan sedang menangis.

Tante Ratih pun mencoba mendekat berusaha memastikan. “Arya?”

Hening.

“Dono?”

Hening.

“Apa aku terlalu capek?” Pikir Tante Ratih saat itu, dan kembali memutuskan untuk tidur.

“Hhu hhu hhu.”

Suara tangis dan gemercik air kembali terdengar, membuat Tante Ratih terbangun.

“Hhu hhu hhu. Hhu hhu hhu.”

Suara tangis terdengar semakin jelas membuat seluruh tubuh Tante Ratih gemetar ketakutan. Tante Ratih berusaha menghubungi Om Arya agar segera pulang, namun ternyata HP-nya tertinggal.

“Bagaimana ini.” Gumamnya bergetar ketakutan.

“Hallo.” Panggil Tante Ratih sesaat setelah berhasil menghubungi resepsionis hotel. “Mbak cepat ke sini kirim orang, ada yang salah dengan kamar mandi saya.”

“Ibu ngomongnya tolong pelan-pelan ya.”

“Kirim orang ke kamar saya sekarang mbak, ada masalah di kamar mandi.”

“Masalahnya apa ya Bu?”

“Kirim aja Mbak, cepat!” Pinta Tante Ratih.

“Baik Bu, ditunggu ya.”

“Hhu hhu Hhu. Hhu hhu hhu.”

Suara tangis tersebut masih terdengar, seolah dia tidak peduli bahwa Tante Ratih telah menyadari kehadirannya. Tante Ratih yang ketakutan memilih menyalakan televisi dengan suara kencang dan terus melantunkan doa.

Beruntung hanya perlu lima menit hingga ada seseorang yang datang, walau harus melewati kamar mandi Tante Ratih memberanikan diri untuk membuka pintu kamar.

“Mas tolong cek kamar mandi ya.”

“Kenapa Bu? Ada air yang bocor?”

Tante Ratih terdiam. Bingung harus menjelaskan apa, bahkan suara tangis wanita tersebut mendadak hilang.

“Bu?”

“Eh, iya Mas?”

“Airnya bocor?”

“Tadi ada orang nangis Mas.” Aku Tante Ratih jujur. “Tapi waktu Mas datang sudah hilang.”

Mas tersebut terdiam, sama sekali tidak menganggap jawaban Tante Ratih seperti seseorang yang mengada-ada seolah sudah biasa dengan hal ini. “Ibu sama siapa di sini?”

“Ada suami dan anak.”

“Saya sarankan kalau Ibu nggak mau pindah kamar malam ini, tunggu saja di lobby sampai suami dan anaknya pulang.”

“Kenapa Mas?”

“Wanita tadi memang suka mengganggu orang yang sendirian.”

“Mas kenal? Kok dia bisa masuk kamar saya?” Tanya Tante Ratih bingung.

“Dia memang penunggu daerah sini Bu.” Jawab Mas tersebut tenang. “Dia nggak jahat, hanya kesepian.”

.

“Nah gitu deh cerita pengalaman ketemu si Manis Jembatan An***.”

“Itu beneran?” Tanya Karin memastikan cerita Satria.

Satria mengangguk. “Kan itu daerah masih satu kawasan, dan katanya dia memang suka menampakkan diri.”

“Wah untung dulu pernah nginep sana nggak ada apa-apa.” Sahutku.

“Nah siapa nih lanjut cerita?” Tanya Karin.

“Ajeng apa Sinta dulu nih?”

“Aku deh.” Jawabku.

Bersambung ke Cerita Ajeng bertemu dengan Hantu Wanita Berkuku Panjang.

CERITA SATRIA