Konten dari Pengguna

Kisah Nyata: Cerita Mistis 4 Sekawan (7)

PondokMisteri

PondokMisteri

butuh asupan horor, langsung subscribe youtube "Pondok Misteri" yaa!

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari PondokMisteri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi hantu di hotel Foto: giphy
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi hantu di hotel Foto: giphy

CERITA AJENG

Dahulu ketika masih SMP aku mengikuti LDKS (Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa), kegiatan ini dilaksanakan di luar kota untuk kelas 2 dan 3 selama dua malam. Sekolahku menyewa tempat seperti vila, namun setiap kamar berada di tempat berbeda. Sehingga bila ingin berkunjung ke tempat teman, kami harus berjalan kaki sekitar lima menit.

Saat itu aku mendapatkan kamar untuk 5 orang. Kamar yang akan kami tempati sangat besar, seperti Vila mewah dan mahal pada masanya.

Setelah membuka pintu, kami harus melewati jalan setapak, dan jembatan kecil yang menghubungkan dengan kamar. Kamar tersebut didesain berada di tengah-tengah kolam, dengan model open space.

Ilustrasi hantu. Foto: Pixabay

Walau cat sudah mulai pudar dan terlihat tidak terurus, tetapi untuk kami yang paling penting adalah bisa berkumpul bersama teman. Meskipun kami sempat kesal karena cacing di kamar mandi tak kunjung habis. Namun selain itu, rasanya semua berjalan lancar.

Sayang ketika malam tiba, suasana kamar yang sebelumnya terasa seperti vila mewah berubah menjadi sangat mengerikan.

“Jeng ini lampu nggak mau nyala?”

“Ha?” Kataku terkejut. “Beneran nggak mau nyala?”

Linda mengangguk.

“Aduh masa kita cuma ngandelin lampu depan?” Tanya Melita khawatir. “Ke kamar mandi kan gelap banget.”

“Mendadak jadi merinding ya.” Seru Agatha.

“Aku juga merasa gitu.” Sahut Cinta.

“Udah jangan ngomong aneh-aneh.” Pintaku yang tiba-tiba merasa suasana menjadi mencekam.

“Ya udah coba cari lilin sama korek.” Pinta Linda.

Kami berlima pun membongkar tas mencari lilin dan korek yang memang sengaja disiapkan, untuk keadaan darurat. Namun karena tidak membawa HP dan penerangan hanya berasal dari lampu depan, membuat kami kesulitan.

Deg. Deg. Deg.

Aku bisa merasakan jantungku terus berdebar kencang, terutama setiap kali melihat pepohonan di sekeliling kami. Entah hanya perasaanku, atau memang dari sana banyak ‘mereka’ yang tak kasat mata memperhatikan kami.

“Ketemu!” Teriak Agatha.

Kami pun segera mendekat ke Agatha dan membantunya menyalakan lilin. Setelah berhasil mengumpulkan semua yang kami miliki, lilin diletakkan disetiap sudut ruangan agar terlihat terang.

“Hhhah.” Dengus kami bersamaan karena lega.

“Gila, horor banget tadi.” Seru Cinta.

Aku mengangguk setuju, tapi tidak menceritakan apa yang kurasakan karena tak ingin mereka khawatir.

“Yuk tidur sekarang, biar cepat pagi.” Ajak Linda.

.

Kami baru tertidur setengah jam, ketika angin besar bertiup dan membuat lilin di seluruh ruangan mati. Hal ini membuat jantungku berdebar kencang, karena kembali merasakan tatapan tak kasat mata dari sekeliling.

“Hhah.” Aku merasa sangat takut, tapi tidak berani bergerak untuk menyalakan lilin.

“Jeng.”

“Hmm kenapa?”

Cinta tertawa. “Takut!”

“Sama.” Jawabku. “Lainnya masih tidur?”

Cinta mengangguk. “Gimana ini?”

“Nggak tahu.” Akuku jujur, karena sama sekali tidak ada ide harus berbuat apa di saat ini.

Srak. Srak. Srak.

Tiba-tiba kami mendengar suara pintu digaruk dengan sangat kencang, Aku dan Cinta pun hanya bisa saling bergandengan.

“Itu apa?” Bisikku pada Cinta.

“Nggak tahu, aku takut banget nih Jeng.”

“Bangunin yang lain coba.” Pintaku padanya.

“Lind bangun.”

“Apaan?” Jawab Linda setengah sadar.

“Ada sesuatu depan pintu?”

“Ha?” Jawab Linda masih tidak mengerti kenapa dia dibangunkan. “Ya tinggal dibukain.”

“Kamu aja.” Sahutku.

“Ada apa sih?” Tanya Agatha dan Melita yang juga terbangun.

“Ssts, diam.” Pintaku pada mereka. “Coba kalian dengar baik-baik.”

Kami semua terdiam, dan suara garukan di pintu terdengar lebih keras dari sebelumnya.

“Apaan tuh?” Pekik Melita terkejut.

“Nggak tahu!” Jawabku kesal. “Kita harus gimana?”

“Coba buka?” Jawab Linda.

“Kamu berani?” Tanya Cinta.

Linda tertawa. “Nggak Hehehe.”

Kami kembali terdiam dan hanyut dalam pikiran masing-masing.

“Aku pingin pipis.” Kata Agatha.

“Serius di saat begini?” Jawab Linda terkejut dan setengah tak percaya.

“Temani dong.”

“Ya udah yuk.” Ajakku. Sebenarnya dari tadi aku juga ingin buang air kecil, tapi terlalu takut untuk bergerak dari tempatku.

“Ikut juga deh.” Kata Melita.

Pada akhirnya kami berlima ke kamar mandi bersamaan. Kamar mandi di sini juga dibuat Open Space, sehingga bisa langsung melihat kolam buatan yang di sampingnya terdapat banyak pepohonan rindang, di malam hari yang gelap tanpa lilin semua tampak mengerikan.

“Lind, besok kamu cuci tuh bathup ya!” Kataku padanya.

“Ngapain?”

“Kan kamu tadi pipis di sana.” Kataku.

“Ha?” Tanyanya tak mengerti.

“Tadi Linda sama aku Jeng.” Jawab Cinta.

“Tapi tadi.”

“Emang itu bukan Linda?” Potong Agatha.

“Bukan.”

“Aku tadi juga lihat.” Seru Melita. “Tinggi, kurus, rambut panjang, benar-benar mirip sama Linda.”

Aku mengangguk setuju dengan Melita, bahwa ‘seseorang’ yang kami lihat memang tampak seperti Linda. Entah apa maksudnya mengganggu kami, hingga berani menampakkan dirinya. Kami pun tak ingin mencari tahu dan memilih segera berbenah untuk pindah kamar esok paginya

.

“Udah gitu aja?”

“Iya mau sepanjang apa lagi emang?” Jawabku menjawab protes Satria.

Karin tertawa.

“Terus kalian akhirnya nggak diganggu lagi memang?” Tanya Sinta.

“Sepanjang malam kami tidak bisa tidur, karena suara garukan pintu terus terdengar hingga ayam berkokok.”

“Nah ayo sekarang giliran Sinta, udah mau jam 12 nih.”

“Iya Rin, sabar dong.” Jawab Sinta tertawa. “Ini cerita sepupuku ya, jadi aku akan cerita dari sisi dia.”

BERSAMBUNG Ke Part Terakhir, Hantu Kampus.