Konten dari Pengguna

Kisah Nyata: Cerita Mistis 4 Sekawan (Part 8)-END

PondokMisteri

PondokMisteri

butuh asupan horor, langsung subscribe youtube "Pondok Misteri" yaa!

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari PondokMisteri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi rumah hantu. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi rumah hantu. Foto: Shutter Stock

CERITA SINTA

Namaku Ina, saat itu internet belum semaju saat ini sehingga aku tidak tahu bahwa kampusku terkenal karena kisah seramnya. Jadi saat bertemu langsung dengan "mereka, aku cukup terkejut.

“Na.” Panggil Yudi teman seangkatanku. “Foto yuk di atap lantai 8.”

“Emang boleh?” Tanyaku memastikan, karena akses menuju lantai 8 selalu dihalangi dengan papan peringatan tidak boleh dimasuki oleh mahasiswa.

“Aman.” Sahut Julia. “Kan kita ada Kevin anak dekan.”

“Gosip aja lu, Jul.” Jawab Kevin tertawa. “Gimana Na? Ikut?”

Aku mengangguk setuju. Sebenarnya sudah sejak lama aku penasaran dengan lantai 8, karena tidak pernah dibuka untuk umum. Mungkin ini adalah kesempatan pertama dan terakhirku mencoba mengetahui isi lantai 8.

Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore ketika kelas terakhirku selesai. Julia, Kevin, dan Yudi langsung mengajak bersiap untuk berpetualang ke tempat terlarang.

Melihatku yang tidak langsung pulang, Dita teman sekamarku pun datang menghampiri. “Kalian mau ke mana?”

“Lantai 8” Sahut Yudi.

“Lantai 8?” Tanya Dita terkejut.

“Iya.” Jawab Julia. “Ikut nggak Dit?”

Dita menggeleng. “Kalian tahu kan di sana nggak boleh dimasukin mahasiswa.”

“Khusus hari ini bisa.” Jawab Kevin.

“Jangan.” Pintanya, dan menarik tanganku untuk pergi menjauh.

“Kenapa, Dit?” Tanyaku bingung melihat tingkahnya.

“Di sana kan banyak hantunya.”

Julia tertawa. “Kamu emang pernah lihat?”

“Belum.” Jawab Dita. “Tapi kan kalau bisa nggak mengusik ‘mereka’, kenapa harus menganggu?”

“Udah yuk makin sore.” Ingat Yudi.

“Nggak apa-apa, Dit.” Kataku padanya. “Cuma bentar, nanti gue langsung pulang.”

.

Setelah memastikan tidak ada dosen maupun penjaga kampus yang berkeliling, kami mulai menaiki tangga menuju lantai 8. Mungkin karena di sini hanya ada kami berempat, perasaanku menjadi tidak enak.

Aku menghapus pikiran buruk soal kemungkinan bertemu dengan hantu, mengingat tempatku kuliah berada di Ibu Kota yang sudah sangat maju, rasanya hal-hal gaib sedikit mustahil ditemukan di sini.

Krieeet.

“Wah kayaknya udah lama banget nih pintu nggak ada yang buka.” Kata Yudi usai membuka pintu yang sudah berkarat, dan mengeluarkan suara berderit tak nyaman di telinga.

“Takut ya?” Goda Julia.

“Enak aja.” Jawab Yudi.

“Lu nggak apa-apa, Na?” Tanya Kevin khawatir.

“Modus aja lu, Vin.” Potong Julia.

Aku tertawa.

Kami berempat mulai mengelilingi lantai 8 yang sebenarnya hanya merupakan atap untuk menaruh kipas AC Outdoor. Sehingga masih menjadi teka-teki kenapa ada papan larangan agar mahasiswa tidak naik ke sini.

Bila memang pihak kampus takut mahasiswa merokok atau berbuat hal negatif lainnya, atap di gedung B, C, dan D selalu dibiarkan terbuka, bahkan kerap digunakan untuk kegiatan kampus.

“Wah gila segar banget ya di sini.” Kata Julia memecah keheningan.

“Walau pemandangan dari sini pemakaman?” Jawab Yudi terkikik.

Aku pun ikut melihat arah yang dilihat Yudi, dan benar saja dari sini kami bisa melihat pemakaman umum yang berada di belakang kampus. Mengingat hari sudah mulai gelap, tak heran ketika melihat ke sana, ada sedikit rasa ngeri di hatiku.

“Foto yuk.” Ajak Julia. “Kenang-kenangan kita pernah ke atas sini.”

Tiga hari setelah itu, foto kami baru selesai dicetak oleh Julia. Namun betapa terkejutnya kami saat melihat sosok lain ikut di dalam foto. Bukan hanya satu, namun di dalam sepuluh foto, dengan berbagai gaya dan posisi berbeda sosok itu selalu ada.

“Ini nggak lu Edit kan, Jul?” Tanya Kevin memastikan.

“Ah… Nambah kerjaan gue aja, Kev.”

Aku hanya bisa bersyukur melihat foto tersebut, karena walau ‘sosok’ tersebut terlihat tidak suka dengan kehadiran kami, namun setidaknya dia tidak mengganggu dan menampakkan dirinya secara langsung.

“Nah udah selesai deh ceritaku.” Kata Sinta. “Nih aku juga bawa fotonya lho.” Lanjutnya usai mengambil beberapa lembar foto dari dalam tas.

Aku menerima foto Sinta, namun sama sekali tidak ada yang aneh di dalam foto tersebut. “Sin, di mana hantunya?”

“Ada kan di sana?”

Karin menggeleng. “Sini coba kamu lihat sendiri.”

“Ih aneh banget kok ngilang.” Jawab Sinta terkejut. “Sumpah deh waktu Kak Ina kasih, itu beneran ada hantunya.”

“Masa bisa ilang sendiri sih?” Tanya Satria masih tak percaya.

“Udah-udah.” Kataku menengahi. “Udah malem, mending kita tidur.”

“Foto dulu yuk, biar ada kenang-kenangan kalau udah lulus.” Ajak Karin kepada kami.

Kami bertiga mengangguk setuju. Karin yang membawa tripod, mulai mengatur letak kamera dan timer agar kami bisa foto bersama.

“Cklik.”

“Udah tuh ambil Jeng.” Pinta Sinta. “Kamu lebih dekat.”

Aku mengangguk setuju. Namun tiba-tiba seluruh tubuhku gemetar ketakutan saat menyadari di samping Satria ada seseorang yang tidak ada di sini ikut terfoto.

“Jeng kenapa?” Tanya Sinta.

Aku masih terdiam tak bisa berbicara satu kata pun karena terlalu terkejut.

“Ini siapa?” Tanya Karin kaget ketika melihat hasil foto kami. “Sat lu masih diikutin?”

“Nggak!” Jawab Satria yakin.

“Coba lihat, nih.” Pinta Karin pada Satria untuk mendekat.

“I. Itu.” Kata Sinta terbata. “I. Itu cowok yang ada di foto Ina!”

“Ha?” Kata kami bertiga terkejut. “Seriusan kamu?”

Sinta mengangguk lemas.

Kami semua terdiam larut dalam pikiran masing-masing, dan sejak saat itu kami memutuskan kegiatan cerita akan dilakukan ketika siang hari serta di keramaian karena tak ingin kejadian-kejadian mistis menimpa kembali.