Mahasiswa UNDIP Sulap Minyak Jelantah Jadi Sabun Ramah Lingkungan

Mahasiswa Universitas Diponegoro
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari eminoga maulana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Tambaksari, Kendal (30 Mei 2025) — Minyak goreng bekas (minyak jelantah) yang biasanya dipandang sebagai limbah ternyata dapat disulap menjadi produk yang bermanfaat. Inilah yang ingin diperkenalkan oleh mahasiswa Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Diponegoro kepada ibu-ibu PKK di Desa Tambaksari, Kecamatan Rowosari, Kabupaten Kendal.


Melalui program Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Desa Tambaksari, mahasiswa mengadakan pelatihan sederhana tentang cara mengolah minyak jelantah menjadi sabun batang untuk mencuci tangan. Target utama dari kegiatan ini adalah ibu-ibu PKK, yang dikenal aktif dalam kegiatan rumah tangga dan sosial kemasyarakatan.
Acara pelatihan yang bertempat di Balai Desa Tambaksari ini disambut dengan antusias oleh masyarakat setempat. Selain sebagai bentuk pengabdian mahasiswa kepada masyarakat, pelatihan ini juga menyampaikan pesan penting tentang kepedulian terhadap lingkungan. Selama ini, minyak jelantah sering dibuang sembarangan ke saluran air, padahal dampaknya bisa sangat serius—mulai dari menyumbat saluran hingga mencemari perairan dan merusak ekosistem.
Pelatihan dimulai dengan edukasi mengenai dampak lingkungan dari limbah minyak jelantah, mulai dari pencemaran saluran air hingga rusaknya keseimbangan ekosistem perairan. Selanjutnya, peserta mendapat informasi proses pembuatan sabun batang dari bahan limbah tersebut. Agar sabun lebih menarik dan memiliki aroma khas, ditambahkan pula esens kopi dalam campurannya. Peserta terlihat aktif bertanya, berdiskusi terkait potensi produk sabun ramah lingkungan ini.
Setelah sesi edukasi, setiap peserta membawa pulang sabun hasil daur ulang minyak jelantah. Melalui kegiatan ini, mahasiswa UNDIP ingin mendorong masyarakat agar lebih bijak dalam mengelola limbah rumah tangga. Alih-alih dibuang percuma, limbah seperti minyak jelantah bisa dimanfaatkan kembali menjadi produk yang berguna. Harapannya, ilmu yang didapat tak hanya berhenti di pelatihan, tapi bisa ditularkan ke tetangga atau bahkan dijadikan ide usaha rumahan.
Langkah kecil ini diharapkan bisa memicu kesadaran baru di tengah masyarakat bahwa menjaga lingkungan bisa dimulai dari hal sederhana di rumah. Dan siapa tahu, dari kegiatan ini pula bisa tumbuh semangat kewirausahaan baru di Desa Tambaksari.
(Laporan oleh: UNDIP – Fauzi Sufyan Prasetya)
