Konten dari Pengguna

Di Balik Les Privat: Bayangan Pendidikan yang Kian Menelan Sekolah Formal

Endriyanih

Endriyanih

Mahasiswi Prodi Pendidikan Sosiologi, Universitas Negri Jakarta

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Endriyanih tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Les Private (Sumber: https://www.pexels.com/id-id/pencarian/les%20private/)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Les Private (Sumber: https://www.pexels.com/id-id/pencarian/les%20private/)

Di tengah hiruk pikuk dunia pendidikan Indonesia, fenomena les privat telah menjelma menjadi industri yang tak lagi sekadar pelengkap, tetapi perlahan menggantikan peran sekolah formal. Di ruang-ruang tamu rumah, kafe, hingga platform daring, jutaan siswa setiap hari menambah jam belajar mereka di luar sekolah. Dari satu sisi, fenomena ini tampak sebagai upaya orang tua untuk memberikan yang terbaik bagi anaknya. Namun, jika ditelusuri lebih dalam, les privat justru mengungkap sisi gelap dari sistem pendidikan kita yang penuh ketimpangan.

Fenomena ini bukan sekadar tren, melainkan gejala sosial yang mencerminkan ketidakpercayaan publik terhadap sekolah formal. Menurut data BPS tahun 2024, lebih dari 68% orang tua di perkotaan mengakui bahwa anak mereka mengikuti bimbingan belajar (bimbel) atau les privat. Bahkan, angka tersebut terus meningkat dari tahun ke tahun. Pertanyaannya, mengapa sekolah formal, yang seharusnya menjadi pilar utama pendidikan, kini seperti kehilangan taringnya?

Kapitalisme Pendidikan: Les Privat sebagai Komoditas

Fenomena ini dapat dianalisis melalui teori kapitalisme pendidikan ala Karl Marx. Dalam kerangka ini, pendidikan dipandang bukan lagi sebagai sarana mencerdaskan bangsa, melainkan sebagai komoditas yang diperjualbelikan. Les privat menjadi bentuk nyata komersialisasi pendidikan, semakin mahal biayanya, semakin tinggi pula status sosial dan harapan yang melekat padanya.

Para penyedia les privat – mulai dari bimbel besar dengan ratusan cabang hingga guru freelance – menjadi bagian dari pasar pendidikan yang terus berkembang. Sementara itu, orang tua diposisikan sebagai konsumen yang berlomba-lomba membeli "produk" berupa prestasi akademik. Hal ini mempertegas adanya stratifikasi sosial dalam pendidikan: hanya mereka yang memiliki kemampuan finansial yang dapat mengakses pembelajaran tambahan berkualitas.

Dalam konteks ini, sekolah formal kian tersisih. Guru di sekolah sering kali dipandang tak cukup memadai dalam memberikan bekal akademik yang sesuai dengan tuntutan ujian, seperti UTBK atau tes masuk sekolah favorit. Akibatnya, peran mereka direduksi hanya menjadi fasilitator administratif. Pendidikan pun berubah menjadi arena kompetisi yang sarat kepentingan ekonomi.

Les Privat dan Teori Fungsionalisme: Fungsi yang Bergeser

Jika dilihat dari teori fungsionalisme Talcott Parsons, setiap lembaga sosial memiliki fungsi untuk menjaga keseimbangan dalam masyarakat. Sekolah formal memiliki fungsi utama dalam mentransfer pengetahuan, membentuk karakter, dan mempersiapkan generasi muda untuk berperan di masyarakat.

Namun, maraknya les privat justru menggeser fungsi tersebut. Sekolah tak lagi menjadi tempat utama belajar, melainkan hanya formalitas untuk memenuhi kewajiban kehadiran. Les privat mengambil alih fungsi transfer pengetahuan dan persiapan ujian. Dalam jangka panjang, hal ini dapat memicu disfungsi sosial, sekolah kehilangan otoritasnya, sementara les privat yang berorientasi pada profit tak sepenuhnya memiliki tanggung jawab membentuk karakter peserta didik.

Kondisi ini juga menciptakan ketergantungan. Banyak siswa yang merasa tak mampu memahami pelajaran tanpa bantuan tutor privat. Akhirnya, proses belajar menjadi transaksional, guru les privat dituntut memberi "jalan pintas" menuju nilai tinggi, bukan proses belajar yang bermakna.

Les Privat sebagai Simbol Status Sosial

Fenomena ini juga dapat dipahami melalui teori interaksionisme simbolik dari George Herbert Mead. Bagi sebagian orang tua, menyekolahkan anak di bimbel ternama atau memanggil tutor privat bukan hanya soal akademik, tetapi juga simbol status.

Dalam interaksi sosial, les privat menjadi tanda keberhasilan ekonomi dan kepedulian terhadap masa depan anak. Seorang siswa yang belajar di bimbel mahal sering dipandang lebih berprestasi, bahkan sebelum hasil ujian keluar. Hal ini menegaskan bagaimana pendidikan tidak lagi sekadar sarana belajar, tetapi juga arena pertarungan gengsi.

Di media sosial, kita kerap melihat unggahan tentang anak yang "berjuang" di bimbel terkenal. Narasi ini memperkuat budaya kompetisi dan tekanan akademik, yang tidak jarang berujung pada masalah psikologis seperti kecemasan, stres, bahkan burnout pada anak.

Dampak Jangka Panjang: Ketimpangan dan Krisis Identitas Sekolah

Fenomena les privat yang terus tumbuh menimbulkan beberapa dampak serius. Pertama, ketimpangan akses pendidikan semakin melebar. Anak-anak dari keluarga kurang mampu terpinggirkan karena tak dapat mengakses pembelajaran tambahan yang berkualitas. Hal ini memperkuat lingkaran setan kemiskinan, mereka yang tidak memiliki sumber daya pendidikan sulit keluar dari jeratan ketertinggalan.

Kedua, sekolah formal mengalami krisis identitas. Perannya sebagai lembaga utama pembentuk generasi muda kian tergerus. Jika sekolah hanya menjadi tempat formalitas, maka nilai-nilai seperti karakter, moral, dan nasionalisme bisa terabaikan. Guru juga berpotensi kehilangan motivasi karena merasa perannya tidak lagi dihargai.

Ketiga, fenomena ini mendorong munculnya pendidikan yang berorientasi pada ujian (teaching to the test). Proses belajar yang seharusnya memicu rasa ingin tahu dan kreativitas berubah menjadi sekadar mengejar nilai dan sertifikat. Anak-anak belajar bukan karena ingin memahami, tetapi karena takut gagal dalam kompetisi.

Mencari Solusi Mengembalikan Marwah Sekolah

Fenomena ini memerlukan solusi yang menyeluruh agar sekolah formal kembali menjadi pusat pendidikan utama. Reformasi kurikulum harus dilakukan agar lebih relevan dengan kehidupan nyata dan berfokus pada keterampilan berpikir kritis, bukan sekadar hafalan. Peningkatan kualitas guru juga penting melalui pelatihan berkelanjutan dan penghargaan yang layak, sehingga mereka mampu bersaing dengan tutor privat dan mengembalikan kepercayaan publik terhadap sekolah.

Selain itu, pemerintah perlu memperkuat pemerataan akses pendidikan melalui program beasiswa atau bimbingan belajar gratis bagi siswa kurang mampu, sehingga kesenjangan sosial dapat diperkecil. Kolaborasi antara sekolah dan penyedia les privat juga dapat dibangun untuk menciptakan sistem pembelajaran yang saling mendukung, bukan bersaing.

Yang tak kalah penting, masyarakat harus mengubah cara pandang dalam menilai keberhasilan pendidikan. Anak-anak seharusnya tidak hanya diukur dari nilai ujian, tetapi juga dari karakter, kreativitas, dan keterampilan hidup yang mereka miliki. Dengan perubahan ini, sekolah formal dapat kembali menjalankan perannya sebagai institusi utama pembentukan generasi muda, dan tidak sepenuhnya tergeser oleh bayangan les privat.

Saatnya Berhenti Menutup Mata

Les privat memang memberikan solusi jangka pendek bagi siswa yang ingin berprestasi. Namun, jika fenomena ini terus dibiarkan, kita berisiko membiarkan sekolah formal hanya menjadi bayangan dari pendidikan yang sejati.

Sekolah seharusnya menjadi tempat tumbuhnya manusia seutuhnya, bukan sekadar pusat penghasil nilai. Jika sistem pendidikan terus tunduk pada logika pasar, yang akan lahir bukanlah generasi pembelajar, melainkan generasi konsumen yang terjebak dalam pusaran kompetisi tanpa akhir.

Pendidikan adalah investasi bangsa, bukan komoditas. Sudah saatnya negara, sekolah, guru, dan masyarakat bergandengan tangan untuk mengembalikan marwah pendidikan formal, agar tak sepenuhnya ditelan oleh bayangan les privat.