Sekolah di Tengah Krisis Mental: Ketika Prestasi Mengalahkan Kesehatan Jiwa

Mahasiswi Prodi Pendidikan Sosiologi, Universitas Negri Jakarta
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Endriyanih tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap tahun, jutaan siswa Indonesia bersaing dalam ujian sekolah, ujian masuk perguruan tinggi, hingga olimpiade akademik. Di balik senyum ceria mereka yang berhasil meraih piala dan sertifikat, tersembunyi cerita lain yang jauh lebih getir. Mulai dari begadang demi tugas, cemas menghadapi ujian, hingga depresi karena merasa gagal memenuhi ekspektasi orang tua. Sekolah yang seharusnya menjadi ruang pembentukan karakter justru sering menjelma menjadi arena kompetisi tanpa akhir. Pertanyaan pun menggantung: Apakah pendidikan kita masih bertujuan memanusiakan manusia, atau sekadar menyiapkan generasi yang piawai mengejar angka dan ranking?
Data Krisis Kesehatan Mental Pelajar
Fenomena kesehatan mental di kalangan pelajar bukan lagi isu terselubung, melainkan krisis nyata. Laporan Kementerian Kesehatan RI (2022) mencatat bahwa 15,5% remaja Indonesia mengalami gangguan mental emosional dengan gejala cemas, sulit tidur, hingga depresi. Data UNICEF (2021) bahkan lebih mencemaskan: 1 dari 3 remaja Indonesia menunjukkan gejala depresi.
Situasi global pun tidak jauh berbeda. WHO (2023) melaporkan bahwa bunuh diri kini menjadi penyebab kematian kedua terbesar pada remaja usia 15–19 tahun di dunia. Angka ini menunjukkan bahwa kesehatan mental generasi muda bukan sekadar isu domestik, melainkan fenomena sosial global.
Kasus-kasus nyata di Indonesia memperkuat data ini. Pada Maret 2022, seorang siswa sekolah menengah pertama (SMP) di Gowa, Sulawesi Selatan, meninggal karena diduga bunuh diri setelah mendapat tekanan akademik dan masalah keluarga. Kasus serupa terjadi di Jawa Tengah pada September 2023 ketika seorang siswi SMA ditemukan meninggal akibat depresi yang dipicu beban sekolah dan tekanan sosial (Kompas, 14/9/2023). Komnas Perlindungan Anak juga melaporkan peningkatan kasus anak dan remaja yang melakukan percobaan bunuh diri dalam tiga tahun terakhir, sebagian besar dipicu tekanan akademik.
Apakah rangkaian angka dan tragedi ini belum cukup untuk mengguncang kesadaran kita? Apakah nilai rapor benar-benar layak dibayar dengan kesehatan, bahkan nyawa generasi muda?
Pendidikan dalam Kacamata Sosiologi
Émile Durkheim dalam Suicide (1897) memperkenalkan konsep anomie, yakni kondisi ketika norma sosial melemah dan individu kehilangan arah. Situasi ini tampak nyata dalam pendidikan kita, siswa dipaksa mengejar prestasi tanpa orientasi moral yang sehat. Angka rapor lebih penting daripada rasa bahagia, ranking lebih dihargai daripada ketenangan jiwa. Dalam kacamata Durkheim, tekanan ini melahirkan anomie di dunia pendidikan, kekosongan makna di balik prestasi.
Lewat konsep habitus dan kapital budaya, Pierre Bourdieu memberikan analisis yang tajam mengenai reproduksi sosial. Tekanan akademik lebih mudah dihadapi oleh siswa dari keluarga berkapital tinggi. Mereka bisa membayar bimbingan belajar, kursus privat, bahkan konseling psikolog. Sebaliknya, anak-anak dari keluarga sederhana terjebak dalam sistem kompetitif yang tidak adil. Akibatnya, sekolah yang seharusnya menjadi jalan mobilitas sosial justru memperdalam jurang ketimpangan. Bukankah ini reproduksi ketidakadilan yang sistematis?
Di sisi lain, Talcott Parsons menekankan fungsi sekolah sebagai agen sosialisasi dan integrasi sosial. Sekolah diharapkan menanamkan nilai kerja sama, solidaritas, dan kohesi sosial. Namun realitas di lapangan sering kali berlawanan: siswa stres, guru frustrasi, dan orang tua cemas. Jika fungsi integrasi gagal, maka sekolah justru menjadi sumber disfungsi sosial yang melahirkan generasi rapuh.
Sekolah atau Arena Kompetisi?
Di sekolah, di ruang kelas, fenomena ini tampak jelas. Kurikulum padat, ujian bertubi-tubi, dan standar nasional yang kaku membuat guru lebih sibuk mengejar target ketimbang membangun dialog dengan siswa. Orang tua, yang juga terhimpit tuntutan ekonomi, menekan anak agar berprestasi di sekolah sebagai jaminan masa depan. Dalam situasi ini, sekolah bukan lagi rumah pertumbuhan, melainkan sebagai arena survival.
Apakah tujuan pendidikan masih tentang memperluas pengetahuan dan membentuk karakter? Ataukah kini sekadar kompetisi angka demi ijazah yang cepat kehilangan relevansi di dunia kerja?
Perbandingan Internasional
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Misalnya Korea Selatan yang dikenal dengan sistem pendidikan yang sangat kompetitif. Data dari OECD (2019) menunjukkan bahwa siswa Korea Selatan adalah salah satu yang paling banyak mengalami tingkat stres akademik di dunia dengan jam belajar yang panjang dan budaya hagwon (les privat) yang menguras energi. Tak heran, angka bunuh diri remaja di Korea Selatan termasuk yang tertinggi di negara maju.
Di sisi lain, Jepang juga menghadapi masalah serupa dengan istilah examination hell yang mencerminkan tekanan luar biasa akibat ujian masuk sekolah dan universitas. Fenomena hikikomori (remaja yang menarik diri dari masyarakat) sering dikaitkan dengan tekanan pendidikan dan ekspektasi sosial.
Sebaliknya, Finlandia menawarkan kontras yang menarik di mana sistem pendidikan menekankan kebahagiaan siswa, kolaborasi, dan waktu belajar yang lebih singkat. Tidak ada ujian nasional yang menekan dan guru memiliki keleluasaan untuk menyesuaikan metode dengan kebutuhan siswa. Hasilnya, Finlandia tetap termasuk dalam jajaran negara dengan kualitas pendidikan terbaik dunia (PISA, OECD) sekaligus memiliki tingkat kesehatan mental pelajar yang relatif stabil.
Pertanyaan pun muncul: Apakah Indonesia harus terus meniru model kompetitif seperti Korea Selatan dan Jepang atau berani mengambil jalan baru seperti Finlandia yang menyeimbangkan prestasi dengan kebahagiaan?
Suara yang Terabaikan
Ironisnya, di tengah hiruk pikuk prestasi, suara siswa sendiri jarang terdengar. Layanan bimbingan konseling di banyak sekolah sering kali hanya sekadar formalitas, tidak dapat menjadi ruang aman untuk berbagi masalah. Stigma terhadap depresi dan kecemasan membuat siswa memilih diam. Padahal, bagaimana mungkin mereka bisa fokus belajar matematika atau sains jika pikiran dipenuhi rasa takut, cemas, dan hampa? Apakah kita terlalu sibuk mengejar angka hingga lupa mendengarkan suara generasi yang sedang tumbuh?
Konsekuensi Sosial yang Mengkhawatirkan
Krisis kesehatan mental di dunia pendidikan membawa konsekuensi sosial jangka panjang. Generasi yang terdidik dalam tekanan berlebih berisiko tumbuh menjadi manusia yang rapuh, cerdas secara akademis, tetapi mudah patah saat menghadapi kegagalan. Di dunia kerja, mereka mungkin mahir menggunakan teknologi, tetapi rentan untuk burnout. Dalam kehidupan sosial, mereka mungkin sukses secara materi, tetapi kesepian secara emosional. Pertanyaannya: Apakah ini generasi yang kita cita-citakan?
Pendidikan yang Lebih Manusiawi
Namun, semua ini tidak berarti tanpa jalan keluar. Pendidikan Indonesia bisa memilih jalur yang lebih manusiawi: menggeser orientasi dari kompetisi ke kolaborasi dan dari angka ke makna. Durkheim mengingatkan pentingnya solidaritas sosial, Bourdieu menuntut kesadaran terhadap kesenjangan struktural, dan Parsons menekankan pentingnya keseimbangan agar sistem tetap fungsional.
Reformasi kurikulum, penguatan layanan konseling, dan budaya sekolah yang ramah anak adalah langkah konkret yang bisa dilakukan. Tidak kalah penting, orang tua dan masyarakat perlu mengubah cara pandang: prestasi akademik hanyalah satu dimensi kehidupan, bukan segalanya.
Apakah kita rela melihat generasi muda tumbuh dengan rapuh hanya demi angka di rapor? Apakah kebahagiaan, rasa aman, dan kebermaknaan hidup layak dikorbankan di altar kompetisi akademik? Apakah pendidikan yang kita bangun masih bertujuan melahirkan manusia utuh atau sekadar mesin penghitung nilai?
Sekolah bukanlah pabrik angka, melainkan rumah pertumbuhan. Jika kesehatan mental siswa dikorbankan, kita sejatinya sedang menyiapkan generasi tanpa fondasi. Pendidikan sejati adalah tentang membentuk manusia yang utuh, cerdas, berempati, dan mampu menghadapi tantangan hidup dengan jiwa yang sehat.
Pada akhirnya, masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh siapa yang juara, melainkan oleh siapa yang mampu hidup dengan jiwa yang merdeka dan hati yang bahagia.
