Dilema Etik Penelitian Kesehatan: Keselamatan Pasien Tetap Nomor Satu

saya adalah mahasiswa pascasarjana keperawatan di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. untuk kegiatan saat ini hanya mengikuti proses perkuliahan saja
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Eneng Setiawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dilema etik penelitian kesehatan sering muncul ketika proses pengumpulan data berpotensi mempengaruhi keselamatan pasien. Dalam praktik pelayanan kesehatan, penelitian memang penting untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Namun, ketika penelitian berisiko menimbulkan bahaya bagi pasien, keselamatan pasien harus tetap menjadi prioritas utama.
Sebuah kejadian nyata di ruang perawatan intensif (ICU) sebuah rumah sakit tertentu. Seorang mahasiswa keperawatan sedang melakukan penelitian mengenai Pursed Lip Breathing (teknik mengatur napas dengan mencucu bibir) untuk membantu pasien penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) mengurangi sesak napas.
Dalam penelitian tersebut, alat bantu oksigen direncanakan untuk dilepas sementara selama 10 hingga 15 menit untuk mengukur respons alami pernapasan pasien. Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah perbaikan kondisi pasien benar-benar disebabkan oleh teknik pernapasan yang di berikan atau karena bantuan oksigen.
Namun, setelah proses pengujian berlangsung, kondisi pasien mengalami perubahan. Pasien mulai merasa sesak, mengeluh nyeri dada, dan kadar saturasi oksigen berada di angka 85%. Padahal, kadar saturasi oksigen normal umumnya berada pada rentang 95%-100%.
Pada kondisi inilah muncul dilema etik penelitian kesehatan. Peneliti dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama penting, yaitu apakah melanjutkan penelitian demi memperoleh data yang lengkap atau segera menghentikan penelitian untuk menolong pasien?
Dilema Etik Penelitian Kesehatan
Dalam etika pelayanan, situasi seperti ini disebut sebagai dilema etik. Peneliti dihadapkan pada dua pilihan moral yang saling berbenturan yakni:
1. Beneficence (berbuat baik): Prinsip ini menekankan bahwa tenaga kesehatan harus memberikan pelayanan yang aman, nyaman, dan bermanfaat bagi pasien. Dalam kasus ini, pasien membutuhkan dukungan oksigen dan penanganan yang tepat agar dapat bernapas dengan lebih baik.
2. Non-Maleficence (tidak menimbulkan bahaya): Prinsip ini mewajibkan bahwa tenaga kesehatan menghindari tindakan yang membahayakan atau memperburuk kondisi pasien yang sedang ditanganinya.
Kedua prinsip tersebut menjadi dasar penting dalam setiap dilema etik penelitian kesehatan karena keselamatan pasien tidak boleh dikorbankan demi kepentingan ilmiah.
Keselamatan Pasien Harus Menjadi Prioritas Utama
Lantas, mana yang harus didahulukan antara keselamatan pasien dan kualitas penelitian?
Jawabannya adalah keselamatan pasien menjadi hal utama untuk diprioritaskan di atas kepentingan ilmiah apa pun. Penelitian kesehatan memang berperan besar dalam perkembangan ilmu pengetahuan, tetapi pelaksanaannya harus tetap memperhatikan prinsip etik dan keamanan pasien.
Pada kasus ini, tindakan yang paling tepat adalah menghentikan pengujian, memasang kembali oksigen, membantu pasien memperoleh posisi yang nyaman, serta memastikan kondisi klinis dan saturasi oksigennya kembali stabil. Keputusan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan penelitian tidak hanya diukur dari kualitas data yang diperoleh, tetapi juga dari kemampuan peneliti menjaga keselamatan dan hak pasien selama proses penelitian berlangsung.
Bagaimana Solusi untuk Penelitiannya?
Apakah penelitian ini tidak boleh dilanjutkan? mungkin saja boleh, namun peneliti tetap perlu memastikan seluruh prosedur penelitian tidak menimbulkan risiko yang membahayakan pasien. Beberapa langkah yang dapat di lakukan, yaitu:
• Memberikan informed consent (persetujuan awal) kepada pasien dan keluarga agar mereka mengetahui dan memahami tujuan, prosedur, manfaat, serta risiko yang terjadi sebelum proses tindakan dimulai.
• Menetapkan kriteria inklusi yang jelas dengan cara memastikan bahwa sejak awal pasien telah diasesmen oleh DPJP nya (Dokter Penanggung Jawab Pasien) untuk tidak dipasang oksigen karena memiliki kondisi klinis yang stabil.
• Mendapatkan persetujuan dari komite etik sebelum penelitian dilakukan untuk memastikan seluruh prosedur telah memenuhi standar etik penelitian.
• Melibatkan pembimbing Institusi maupun PJ Shift yang dinas saat itu untuk mengawasi pelaksanaan penelitian serta mengantisipasi risiko yang mungkin muncul.
Dilema Etik Penelitian Kesehatan sebagai Pelajaran Bersama
Penelitian kesehatan merupakan bagian penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan peningkatan mutu pelayanan kesehatan. Namun, kemajuan ilmu pengetahuan tidak boleh dibangun dengan mengabaikan keselamatan pasien.
Kasus ini mengingatkan bahwa di balik setiap penelitian terdapat tanggung jawab moral yang besar. Bagi tenaga kesehatan, mahasiswa, maupun masyarakat, keselamatan pasien harus tetap menjadi benteng utama yang tidak boleh dikorbankan dalam keadaan apa pun.
