Konten dari Pengguna

Literasi Jiwa: Membangun ASN Sehat dan Berintegritas

Pada tanggal 17 Agustus 2026 ini yang diperingati sebagai Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang lalu saya mulai memberanikan diri dengan membawa jiwa yang merdeka dalam bersuara. Walaupun masih terbayang luka dari penjajah di masa lalu maupun penjajah di masa sekarang yang berkedok dengan masalah mental atau yang sering kita dengar sebagai mental illness. Berbicara tentang mental health issue saya menjadi teringat kisah teman saya yang selalu bermuram durja ketika waktu gajian telah tiba. Padahal seharusnya saat itu justru hal yang menyenangkan telah tiba setelah penantian sebulan lamanya. Ternyata setelah mengetahui alasan teman saya bersedih hati karena gaji dia sudah dipotong oleh Bank dengan jaminan SK pegawai yang dimilikinya. Himpitan kesulitan ekonomi dan sebagai single parent yang memiliki dua orang anak tentunya menjadi masalah terbesar bagi hidupnya sehingga diikuti perasaan stress dan cemas dalam melalui aktivitasnya.

Di sisi lain, banyak sekali permasalahan kehidupan yang sering menguji integritas sebagai seorang ASN. Hal tersebut membuat ASN mencari cara untuk keluar dari perasaan-perasaan yang membuat stress tersebut salah satunya dengan memanfaatkan social media. Tak dipungkiri sekarang ini kita banyak temui ASN yang kurang bijak dalam memanfaatkan social media di mana sebenarnya mereka hanya ingin mendapatkan ruang untuk berkeluh kesah. Jiwa ASN yang sedang berjuang dalam tekanan inilah sehingga menyebabkan hilangnya etika dan integritas ASN dalam menuangkan perasaan secara sehat.

Dahulu saya melihat fenomena ini sebagai sebuah hal yang terlalu dilebih-lebihkan. Seseorang pengumpat takdir, penyindir kehidupan orang lain, ataupun mereka yang jujur atas ketidakadilan dan kebahagiaan pribadinya, tampak seperti sampah bagi hidup saya yang sibuk dan dinamis. Namun, setelah saya ubah cara pandang saya untuk menjadi mereka, ternyata saya menemukan dimensi lain di mana sebenarnya mereka hanya berjuang untuk melepaskan beban hidup sehingga lebih kuat dalam menjalaninya. Hingga pada akhirnya saya bertemu dengan sebuah komunitas literasi yang mengedepankan literasi jiwa yaitu komunitas Sahabat Literasi.

Apakah yang sebenarnya dinamakan literasi jiwa? Literasi kerap kali dieratkan dengan aktivitas membaca, padahal pada dasarnya literasi adalah kemampuan seseorang untuk mengenali, memahami, menafsirkan maupun menciptakan informasi dengan bebagai media dalam teks manual maupun digital. Lebih luas lagi, literasi jiwa dapat dimaknai sebagai pemahaman terhadap jiwa seseorang sehingga memberikan ruang untuk menciptakan kesehatan mental. Dalam dunia digital yang menyebarluaskan informasi secara cepat sering disalahartikan sebagai media menuangkan perasaan tanpa adanya kebijakan privasi sehingga menjadikan kasus bullying dan pengancaman bagi kesehatan mental.

Pernah pada suatu ketika saya terbebani oleh masalah yang sangat personal dan saya tidak ingin orang lain tahu, tetapi hal tersebut membuat semakin stress terasa mengganjal di hati. Bahkan mental yang tidak sehat itu membuat raga juga turut sakit di mana membuat saya dirawat di Rumah Sakit. Saya merasa bersyukur bertemu dengan komunitas menulis Sahabat Literasi yang memberikan ilmu mengenai literasi jiwa. Komunitas ini memberikan kelas-kelas terapi jiwa dimana diajarkan untuk menuliskan jurnal atau cerita pendek, puisi maupun tulisan-tulisan lain yang memberikan ruang untuk berekspresi. Berkenalan dengan orang-orang yang baru juga membuat hidup terasa berwarna. Kita lebih memahami bahwa di dunia ini kita tidak sendirian. Semua membawa problematika hidup masing-masing yang berbeda-beda dan berhak mendapatkan ruang untuk melepaskan atau sejenak mengistirahatkan pikiran berlebih dengan mencurahkan isi hati. Dalam komunitas kita juga diajarkan bagaimana berempati kepada orang lain karena setiap ujian masing-masing orang berbeda dengan latar belakang yang tak sama dan kekuatan mental juga memiliki kapasitasnya tersendiri.

Komunitas Sahabat Literasi juga berperan dalam mengabadikan karya kita dalam bentuk buku antologi atau buku Kumpulan puisi sehingga kita juga dapat merasakan hebatnya perjuangan kita dalam melewati ujian atau problematika hidup. Selain menjadi pengingat pembelajaran hidup yang mungkin tidak ingin kita lakukan kedua kalinya ataupun menjadi cambuk semangat untuk terus berjuang dalam hidup ini. Dengan kemampuan dalam kepenulisan maupun pengelolaan jiwa yang didapatkan dari komunitas ini membuat semakin bijak dalam menulis dalam media sosial sehingga meningkatkan adab maupun etika saya sebagai seorang ASN. Mental seorang ASN yang sehat memang menjadi indikator pada meningkatnya integritas ASN dimana kembali merasakan empati kepada permasalahan masyarakat sehingga kembali bangga melayani bangsa. Komunitas Sahabat Literasi dengan mudah dapat ditemui pada instagramnya @literasi.sahabat dimana menjadi ruang bagi jiwa-jiwa untuk kembali bertahan dalam hidup walaupun banyak luka yang perlu disembuhkan.

Dok. Istimewa