Konten dari Pengguna

Tren "Marriage Is Scary" Pada Perempuan Gen Z Yang Mengalami Fatherless

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Angie Fidella Maharani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber : Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Sumber : Pexels

Oleh : Angie Fidella Maharani

Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi

Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Generasi Z merupakan generasi yang lahir pada periode tahun 1997-2012. Generasi Z tumbuh di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan informasi digital, yang membentuk pola pikir serta cara pandang mereka terhadap berbagai aspek kehidupan. Perilaku dan preferensi mereka dibentuk oleh lingkungan mereka yang sangat terhubung dan canggih. Mereka terkenal memiliki kemampuan digital yang luar biasa dan dapat dengan cepat menyesuaikan diri dengan alat-alat teknologi informasi baru. Beberapa tahun terakhir, linimasa media sosial dipenuhi unggahan yang menggambarkan pernikahan bukan sebagai tujuan hidup yang membahagiakan, melainkan sebagai sesuatu yang menakutkan. Ungkapan marriage is scary kini menjadi cara generasi muda, terutama perempuan Gen Z menyuarakan kecemasan mereka terhadap komitmen jangka panjang. Fenomena ini tidak muncul dari satu sebab saja. Ia terbentuk dari kombinasi faktor psikologis, sosial, serta budaya dengan media sosial sebagai penguat yang besar. Dari sini terlihat bahwa pernikahan di mata Gen Z tidak lagi dipandang sebagai kewajiban sosial yang otomatis, tetapi sebagai keputusan besar yang penuh risiko.

Berdasarkan Jurnal Psikologi (Hasna & Syarifah, 2025) mengatakan bahwa memilih pasangan hidup, perempuan cenderung mempertimbangkan kesamaan nilai, tujuan hidup, dan kestabilan emosional yang dapat menunjang hubungan jangka panjang. Salah satunya adalah peran ayah, yang apabila tidak hadir secara emosional dapat memengaruhi kemampuan perempuan dalam membentuk relasi yang sehat. Meski Gen Z dikenal adaptif dan kreatif, banyak diantara mereka yang menghadapi tantangan psikologis akibat pengalaman masa kecil yang kurang mendukung, seperti kondisi seorang Fatherless. Fatherless tidak hanya muncul akibat perceraian atau kematian, tetapi juga karena tuntutan pekerjaan yang membuat ayah jauh secara emosional dari anak. Ketidakhadiran ini berdampak pada aspek emosional, sosial, dan psikologis anak perempuan, khususnya dalam kepercayaan diri dan kemampuan membangun relasi romantis. Anak perempuan yang mengalami fatherless emosional cenderung mengalami kecemasan terhadap komitmen dan kesulitan dalam menetapkan standar pasangan hidup karena tidak memiliki figur ayah yang bisa dijadikan panutan.

Pengalaman fatherless dapat menciptakan pola ketergantungan emosional yang tidak sehat. Perempuan seringkali merasa tidak cukup aman dalam hubungan dan lebih rentan terhadap kekerasan emosional atau fisik karena kurangnya contoh hubungan yang sehat. Perempuan Gen Z dihadapkan atau diperlihatkan mengenai pernikahan yang gagal. Mereka menganggap bahkan seorang lelaki dalam pernikahan semuanya sama saja, tidak ada yang setia, tidak ada yang menuntun perempuan jadi lebih baik atau peran dia sebagai imam dalam keluarga kurang. Hal ini juga di sebabkan oleh seorang perempuan yang tumbuh tanpa sosok ayah atau bahkan sosoknya ada tetapi peran seorang ayah tidak ada.

Ketakutan perempuan Gen Z terhadap tren “Marriage is scary” bukanlah sekedar tren media sosial, tetapi juga bentuk nyata dari trauma pengasuhan akibat hilangnya peran ayah. Krisis figur ayah ini telah mengubah pandangan laki-laki dimata mereka dari yang seharusnya menjadi cinta pertama, kemudian juga menjadi sumber kecemasan sehingga keputusan menunda atau menghindari pernikahan menjadi sebuah mekanisme pertahanan diri demi memutus rantai luka emosional yang sama. Pengaruh peran ayah terhadap anak perempuan di masa depan adalah ketika berhubungan sosial dengan lawan jenis, situasi tanpa ayah inilah yang cenderung membuat anak merasa ada sesuatu yang hilang, menempatkan mereka dalam situasi yang sulit, serta menghambat pertumbuhan mereka.

Berdasarkan Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling (Febrianti et al., 2026) mengatakan bahwa perempuan yang mengalami Fatherless akibat perceraian cenderung memandang pernikahan sebagai sesuatu yang menakutkan dan menimbulkan trust issue tentang pernikahan. Pengalaman kehilangan figur ayah membuat mereka lebih sulit mempercayai laki-laki, ragu untuk membangun sebuah komitmen, serta memiliki kekhawatiran terhadap keberlangsungan hubungan romantis. Ketidakhadiran peran ayah secara emosional merusak citra ideal di mata perempuan Gen Z. Pengalaman melihat kegagalan interaksi orang tua membuat mereka memandang pernikahan sebagai siklus penderitaan yang harus dihindari. Ketakutan untuk mengulangi kesalahan yang menjadi motivasi utama dibalik fenomena “Marriage is scary”. Bagi mereka, memilih untuk tidak terburu-buru menikah atau bahkan memutuskan sendiri adalah sebuah bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri agar tidak mengulangi siklus kegagalan yang pernah mereka rasakan.

Perempuan Gen Z saat ini tidak sedang menolak kebahagian, tetapi mereka sedang memastikan bahwa ketika memutuskan untuk membangun sebuah keluarga harus ada cinta dan pemahaman bahwa keluarga adalah tempat paling nyaman untuk bertumbuh. Dengan melihat hal-hal di atas, tulisan ini berargumen bahwa ketakutan perempuan GenZ yang mengalami fatherless terhadap pernikahan semestinya tidak dipandang sekadar ikut-ikutan tren atau sikap enggan berkomitmen. Di baliknya, ada persoalan pola asuh dan kebutuhan batin yang belum terjawab, lalu diperkeras oleh arus informasi di media digital. Karena itu, kita perlu lebih dulu memahami akar persoalannya sebelum menghakimi keputusan mereka, dan memastikan kecemasan yang lahir dari pengalaman masa kecil itu mendapat pendampingan, bukan diabaikan.