Dari Petani ke Pasar: Kenapa Harga Bisa Berubah Jauh?

MAHASISWA PENDIDIKAN EKONOMI - UNIVERSITAS PAMULANG
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Ensellina Mas'ul tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Harga cabai di tingkat petani bisa sangat murah, tetapi ketika sampai di pasar, harganya melonjak berkali-kali lipat. Fenomena ini bukan hal baru, namun tetap menjadi pertanyaan besar: apa yang sebenarnya terjadi di antara proses produksi dan konsumsi?
Di tingkat petani, harga sering kali ditentukan oleh kondisi panen dan kekuatan tawar yang terbatas. Saat hasil panen melimpah, harga justru cenderung turun karena pasokan tinggi, sementara akses langsung ke konsumen sangat terbatas. Petani akhirnya bergantung pada tengkulak atau perantara untuk menyalurkan produknya.
Masalah mulai terlihat ketika produk berpindah dari satu tangan ke tangan lain. Setiap rantai distribusi mulai dari pengepul, distributor, hingga pedagang pasar menambahkan biaya, baik untuk transportasi, penyimpanan, maupun keuntungan. Semakin panjang rantai distribusi, semakin besar pula selisih harga yang terjadi.
Selain itu, faktor logistik juga memainkan peran penting. Infrastruktur yang belum merata, biaya transportasi yang tinggi, serta risiko kerusakan barang, terutama untuk komoditas segar, ikut mendorong kenaikan harga. Dalam banyak kasus, biaya distribusi bisa lebih besar daripada biaya produksi itu sendiri.
Dari perspektif ekonomi mikro, kondisi ini menunjukkan adanya inefisiensi dalam proses pertukaran. Idealnya, harga mencerminkan keseimbangan antara permintaan dan penawaran. Namun dalam praktiknya, struktur pasar dan distribusi yang tidak efisien membuat harga menjadi tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi produksi.
Dampaknya terasa di dua sisi sekaligus. Petani tidak mendapatkan harga yang layak, sementara konsumen harus membayar lebih mahal. Ketimpangan ini menunjukkan bahwa masalah bukan terletak pada produksi, melainkan pada sistem distribusi dan mekanisme pasar yang belum optimal.
Beberapa solusi mulai bermunculan, seperti digitalisasi pemasaran, koperasi petani, hingga penjualan langsung ke konsumen melalui platform online. Langkah-langkah ini berpotensi memotong rantai distribusi dan meningkatkan efisiensi pertukaran.
Pada akhirnya, persoalan ini bukan sekadar tentang harga yang naik di pasar. Ini adalah cerminan bagaimana sistem ekonomi bekerja di tingkat mikro. Selama rantai distribusi masih panjang dan tidak efisien, selisih harga akan tetap terjadi dan petani serta konsumen akan terus berada di posisi yang kurang menguntungkan.
