Apakah Patrick Star Penganut Mazhab Frankfurt dalam Hubungan Internasional?

Dosen Jurusan Hubungan Internasional Universitas Riau
·waktu baca 8 menit
Tulisan dari Arif Wicaksa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Apakah Patrick Star, karakter bintang laut merah muda dalam serial animasi SpongeBob SquarePants, dapat dipahami sebagai penganut Mazhab Frankfurt? Pertanyaan ini mungkin terdengar konyol, tetapi justru menyimpan potensi analitis untuk membaca hubungan antara kebodohan, ideologi, dan masyarakat kapitalis modern. Dengan menggunakan pemikiran teori kritis dari Theodor W. Adorno, Max Horkheimer, Herbert Marcuse, dan Jürgen Habermas, tulisan ini berupaya menafsirkan Patrick Star bukan sebagai karakter yang secara sadar mengadopsi teori kritis, melainkan sebagai figur ambigu yang memperlihatkan kontradiksi masyarakat modern. Sikap apatisnya, ketidakpeduliannya terhadap produktivitas, serta kecenderungannya menikmati kehidupan tanpa ambisi dapat dibaca sebagai penolakan terhadap rasionalitas instrumental. Namun, ketidakmampuan Patrick merefleksikan kondisi sosialnya juga memungkinkan dirinya menjadi produk paling sempurna dari industri budaya.

Bintang Laut di Lautan Kapitalisme
Dalam semesta SpongeBob SquarePants, Patrick Star menempati posisi sosial yang ganjil. Patrick tinggal di bawah batu, tidak memiliki pekerjaan tetap, tidak menunjukkan ambisi karier yang berarti, dan menghabiskan sebagian besar waktunya untuk tidur, makan, serta bermain bersama SpongeBob. Jika kehidupan modern diukur berdasarkan produktivitas, efisiensi, dan pencapaian material, Patrick tampaknya merupakan sebuah anomali. Ia adalah subjek yang gagal memenuhi tuntutan masyarakat kapitalis. Namun, bagaimana jika kegagalan tersebut justru merupakan bentuk penolakan terhadap kapitalisme? Bagaimana jika ketidakmampuan Patrick mengikuti logika produktivitas ala dunia kapitalisme merupakan ekspresi spontan dari perlawanan terhadap rasionalitas instrumental?
Pertanyaan diatas membawa kita kepada Mazhab Frankfurt, tradisi pemikiran kritis yang berkembang melalui Institut für Sozialforschung di Jerman sejak dekade 1920-an. Para pemikirnya berusaha memahami mengapa masyarakat modern, yang menjanjikan kebebasan melalui kemajuan rasionalitas, justru melahirkan dominasi, alienasi, dan kepatuhan.
Dalam karyanya yang berjudul Dialectic of Enlightenment, Adorno dan Horkheimer menunjukkan bahwa rasionalitas modern dapat berubah menjadi instrumen penguasaan ketika segala sesuatu dinilai berdasarkan kegunaan, kalkulasi, dan efisiensi. Dari perspektif ini, Patrick menjadi menarik bukan karena ia memiliki pemikiran filosofis yang sistematis, melainkan karena keberadaan Patrick mengganggu asumsi dasar masyarakat produktif. Akan tetapi, menganggap Patrick sebagai seorang Frankfurtian membutuhkan kehati-hatian. Ketidakproduktifan tidak otomatis berarti emansipasi, sebagaimana kebodohan tidak serta-merta menjadi kritik ideologis. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita perlu membedakan antara Patrick sebagai subjek yang menolak kapitalisme dan Patrick sebagai produk kebudayaan yang mereproduksi tatanan dominan.
Patrick dan Kritik atas Rasionalitas Instrumental
Rasionalitas instrumental merujuk pada cara berpikir yang menilai tindakan berdasarkan efektivitas sarana untuk mencapai tujuan tertentu, tanpa mempertanyakan secara mendasar apakah tujuan tersebut layak untuk diperjuangkan. Dalam masyarakat kapitalis, rasionalitas ini tampak melalui tuntutan untuk bekerja lebih produktif, mengoptimalkan waktu, meningkatkan pendapatan, dan mengubah kehidupan menjadi serangkaian target yang terukur. Patrick tampaknya hidup di luar pola tersebut.
Ketika masyarakat Bikini Bottom sibuk bekerja, berdagang, atau mengejar keuntungan, Patrick justru menghabiskan waktunya tanpa agenda produktif yang jelas. Ia tidak terlihat memiliki hasrat kuat untuk meningkatkan status sosial maupun mengakumulasi kekayaan. Dalam kerangka teori kritis, sikap ini dapat dibaca sebagai gangguan terhadap ideologi produktivitas yakni keyakinan bahwa nilai seseorang ditentukan oleh kontribusinya terhadap sistem ekonomi. Namun, ada persoalan penting. Penolakan terhadap produktivitas hanya dapat disebut emansipatoris apabila disertai kesadaran terhadap struktur yang memaksakan produktivitas tersebut. Patrick tidak menunjukkan bahwa ia memahami eksploitasi tenaga kerja atau menyadari kontradiksi kapitalisme. Ia tidak menolak pekerjaan karena memahami relasi kuasa di baliknya, Patrick lebih sering tampak tidak memahami apa yang sedang terjadi. Karena itu, Patrick bukanlah seorang revolusioner yang sedang melakukan sabotase terhadap kapitalisme. Patrick lebih menyerupai subjek yang secara tidak sengaja mengganggu keteraturan sosial.
Perbedaan ini penting. Dalam teori kritis, kebebasan bukan sekadar ketidakpatuhan terhadap struktur, melainkan kemampuan memahami dan mengubah kondisi struktural yang membatasi kehidupan. Patrick mungkin bebas dari ambisi karier, tetapi kebebasannya belum tentu merupakan hasil refleksi kritis.
Patrick Star sebagai Produk Ideologi
Di sinilah paradoks Patrick menjadi lebih menarik. Jika ia tampak berada di luar logika produktivitas, bukankah ia sendiri merupakan produk industri hiburan kapitalis? Dalam tulisan tentang industri budaya yang termuat dalam Dialectic of Enlightenment, Adorno dan Horkheimer mengkritik sistem produksi kebudayaan massal yang mengubah seni dan hiburan menjadi komoditas. Hiburan tidak lagi semata-mata menawarkan pengalaman estetis, tetapi juga dapat mereproduksi pola pikir dominan, menormalisasi tatanan sosial, dan menyediakan pelarian yang membuat kontradiksi masyarakat lebih mudah ditoleransi. Patrick adalah bagian dari mekanisme tersebut. Ia merupakan karakter yang dapat direproduksi dalam episode, merchandise, permainan, meme, dan berbagai bentuk konsumsi populer. Kekonyolannya menjadi sumber komedi, ketidakpeduliannya menjadi hiburan, kegagalannya memahami dunia menjadi komoditas yang dapat dijual berulang kali. Ironinya, karakter yang secara simbolis tampak menolak produktivitas justru sangat produktif bagi industri hiburan.
Lebih jauh, humor Patrick dapat menghasilkan dua kemungkinan. Pertama, penonton dapat melihat absurditas tuntutan sosial melalui perilakunya. Kedua, penonton dapat menikmati kebodohannya tanpa pernah mempertanyakan struktur sosial yang membuat kehidupan modern terasa absurd. Dalam kemungkinan pertama, Patrick membuka ruang kritik. Dalam kemungkinan kedua, ia menjadi bagian dari mekanisme pelarian yang justru dikritik Adorno dan Horkheimer.
Kita perlu menghindari kesimpulan bahwa setiap hiburan populer pasti merupakan alat dominasi. Teori industri budaya tidak mengharuskan kita menganggap penonton sepenuhnya pasif atau setiap produk budaya sepenuhnya seragam. Namun, kerangka Frankfurt membantu kita untuk bertanya apakah tawa terhadap Patrick mengganggu tatanan yang ada, atau justru membantu kita berdamai dengannya? Jawabannya bergantung pada bagaimana karakter tersebut diproduksi, ditampilkan, dan ditafsirkan.
Marcuse: Patrick sebagai Karakter (Manusia) Satu Dimensi?
Herbert Marcuse, dalam karyanya One-Dimensional Man, mengkritik masyarakat industri maju yang mampu mengintegrasikan individu ke dalam sistem dominasi melalui konsumsi, kenyamanan, dan pemenuhan kebutuhan yang dibentuk secara sosial. Individu modern tidak selalu harus dipaksa secara langsung. Ia dapat dibuat merasa bebas selama kebebasannya berlangsung dalam batas-batas yang telah ditentukan sistem. Apakah Patrick merupakan contoh manusia satu dimensi? Sekilas, jawabannya mungkin tidak. Ia tidak terlalu terintegrasi ke dalam disiplin kerja, tidak memiliki ambisi konsumsi yang kompleks, dan tidak menunjukkan hasrat kuat untuk mengejar status sosial. Ia tampak tidak tertarik memainkan permainan yang dimainkan masyarakatnya. Namun, ketidakpedulian Patrick juga dapat menunjukkan keterbatasan kesadaran kritis. Patrick jarang mempertanyakan struktur yang mengatur kehidupannya. Ia dapat merasa nyaman dengan situasi yang ada tanpa perlu memahami mengapa situasi itu terbentuk.
Dengan demikian, Patrick memperlihatkan dua wajah sekaligus. Ia mengganggu norma produktivitas kapitalisme tetapi tidak menawarkan alternatif sosial yang reflektif. Ia tidak sepenuhnya menyerupai manusia satu dimensi yang dideskripsikan Marcuse, tetapi juga tidak dapat dianggap sebagai subjek emansipatoris. Di sini, perbedaan antara kebebasan negatif dan kebebasan substantif menjadi relevan. Bebas dari tuntutan bekerja bukan berarti bebas dari dominasi. Seseorang dapat mengabaikan aturan sosial tanpa memiliki kapasitas untuk memahami atau mengubah kondisi yang membentuk hidupnya. Patrick mungkin saja bebas dari ambisi, tetapi kita tidak dapat langsung menyebutnya merdeka.
Habermas: Ketika Patrick Gagal Berdialog
Jika Adorno, Horkheimer, dan Marcuse membantu kita membaca Patrick melalui kritik kapitalisme, Jürgen Habermas menawarkan persoalan berbeda, yaitu bagaimana rasionalitas dapat dipulihkan sebagai sarana emansipasi? Dalam karyanya The Theory of Communicative Action, Habermas membedakan rasionalitas instrumental dari rasionalitas komunikatif. Rasionalitas komunikatif bekerja melalui pertukaran alasan, pencarian pemahaman bersama, dan kemampuan menguji klaim secara terbuka. Dari perspektif ini, kehidupan sosial yang emansipatoris tidak cukup dibangun melalui penolakan terhadap produktivitas. Ia juga membutuhkan komunikasi yang memungkinkan individu untuk memahami pengalaman satu sama lain dan mempertanyakan norma yang berlaku.
Patrick sering kali menjadi sumber kesalahpahaman dalam interaksinya dengan SpongeBob maupun karakter lain. Ia dapat mengabaikan konteks, menarik kesimpulan yang tidak masuk akal, atau gagal memahami maksud lawan bicara. Perilaku tersebut memang menjadi sumber komedi, tetapi secara analitis memperlihatkan keterbatasan komunikasi rasional. Tentu saja, kita tidak perlu mengubah setiap lelucon kartun menjadi diagnosis filosofis. Namun, jika Patrick dijadikan metafora sosial, persoalannya menjadi jelas, ketidakpatuhan terhadap struktur tanpa komunikasi tidak otomatis menghasilkan pembebasan. Patrick tidak secara konsisten membangun ruang dialog untuk mengkritik tatanan Bikini Bottom. Ia lebih sering bertindak berdasarkan dorongan sesaat daripada menyusun alasan yang dapat dipertukarkan dan dipertanggungjawabkan.
Dalam pengertian pemikiran Habermas, Patrick bukan pelaku emansipasi komunikatif. Ia justru memperlihatkan mengapa kritik sosial membutuhkan lebih dari sekadar penolakan spontan terhadap aturan.
Kesimpulan
Jadi, apakah Patrick Star penganut Mazhab Frankfurt? Secara harfiah, tentu tidak. Tidak ada alasan untuk menganggap Patrick memiliki komitmen intelektual terhadap teori kritis. Ia tidak menyusun kritik atas kapitalisme, tidak menganalisis industri budaya, dan tidak merumuskan proyek emansipasi sosial. Menyebutnya penganut Mazhab Frankfurt hanya dapat dipertahankan sebagai metafora, bukan klaim mengenai keyakinan filosofisnya. Namun, sebagai objek interpretasi, Patrick justru memperlihatkan sejumlah paradoks yang menjadi perhatian teori kritis.
Pertama, ketidakproduktifannya mengganggu norma masyarakat kapitalis, tetapi belum tentu merupakan perlawanan yang berbasis kesadaran. Kedua, ia dapat dibaca sebagai simbol kebebasan dari tuntutan produktivitas, sekaligus sebagai komoditas industri budaya yang mengubah penyimpangan menjadi hiburan. Ketiga, ketidakpeduliannya memperlihatkan bahwa absennya ambisi tidak bisa disamakan dengan emansipasi. Keempat, keterbatasan komunikasinya menunjukkan bahwa kritik sosial memerlukan kemampuan refleksi dan dialog, bukan sekadar ketidakpatuhan terhadap struktur.
Dengan demikian, Patrick bukan seorang Frankfurtian, melainkan figur karakter yang memungkinkan kita menguji pertanyaan Frankfurtian, apakah manusia benar-benar bebas ketika ia berhenti mengikuti tuntutan sistem, atau justru ketika ia mampu memahami, mengkritik, dan mengubah sistem tersebut? Mungkin pelajaran terpenting dari Patrick bukanlah bahwa kita harus berhenti bekerja, tidur di bawah batu, atau menghabiskan hidup tanpa tujuan. Pelajarannya adalah bahwa masyarakat yang mengukur manusia semata-mata berdasarkan produktivitas layak dipertanyakan.
Namun, kita juga perlu mempertanyakan romantisasi atas ketidakpedulian. Dunia yang lebih bebas tidak cukup dibangun oleh orang-orang yang menolak bekerja, tetapi juga membutuhkan individu yang mampu membedakan kebutuhan manusia dari tuntutan sistem ekonomi. Pada akhirnya, Patrick Star bukanlah penganut Mazhab Frankfurt. Ia adalah paradoks yang akan membuat para pemikir Frankfurt tersenyum getir, makhluk yang tampak paling bebas dari rasionalitas kapitalis justru menjadi salah satu komoditas paling menguntungkan dalam industri budaya kapitalis.
