Konten dari Pengguna

Bekal dan Landasan: Refleksi Perjalanan Sebuah Bangsa

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ghiyats Azzumar Ghuffron tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Waktu terus berjalan, dan setiap orang melangkah ke depan. Dalam perjalanan itu, setiap peserta memiliki bekalnya masing-masing: kaki yang panjang untuk bergerak lebih cepat, persediaan yang melimpah untuk bertahan lebih lama, kecerdikan dalam mengambil keputusan, kemampuan membaca peluang dan mengambil keuntungan, serta keteguhan jiwa sebagai landasan ketika segala sesuatu mulai runtuh.

Setiap peserta berdiri di atas landasan yang berbeda. Ada yang mengandalkan kekayaan, ada yang mengandalkan kecerdikan, ada yang mengandalkan kekuatan, dan ada pula yang bertahan karena keyakinan. Namun selama perjalanan terus berlangsung, persoalannya bukan hanya seberapa banyak bekal yang dimiliki, melainkan apakah seseorang masih memiliki sesuatu untuk dijadikan pijakan ketika seluruh bekalnya mulai habis.

Begitu pula Indonesia. Negeri ini lahir dari geografi yang tidak sederhana. Gunung, hutan tropis, dan lautan membentang di antara pulau-pulaunya, membentuk masyarakat dengan sejarah, kebudayaan, dan identitas yang beragam. Kesatuan tidak pernah menjadi sesuatu yang diberikan begitu saja, melainkan sesuatu yang terus-menerus harus dibangun di tengah perbedaan.

Globe yang menunjukkan kompleksitas geografis negara Indonesia (Sumber: Putri Nabila/Unsplash)

Indonesia juga dianugerahi kekayaan alam yang besar. Namun kekayaan itu belum selalu berubah menjadi kemampuan produktif yang sebanding. Sumber daya lebih mudah diambil dan diperdagangkan daripada diolah menjadi pengetahuan, teknologi, industri, dan kemampuan yang dapat bertahan melampaui satu generasi. Kekayaan akhirnya dapat menjadi bekal yang terus dikonsumsi, tanpa pernah benar-benar membangun kaki yang lebih kuat untuk perjalanan berikutnya.

Di tengah segala keterbatasan itu, masih ada sesuatu yang selama berabad-abad menjadi salah satu sumber daya manusia Indonesia: kemampuan untuk bertahan. Derita, kesederhanaan, gotong royong, dan keyakinan telah membentuk semacam keteguhan batin. Ketika kemampuan ekonomi terbatas dan keadaan tidak mudah diubah, manusia belajar menemukan alasan untuk tetap berjalan.

Namun di sinilah sebuah paradoks muncul. Keteguhan yang dahulu membuat kita mampu bertahan dapat berubah menjadi alasan untuk terlalu lama menerima keadaan. Kesabaran dapat berubah menjadi kepasrahan, rasa syukur dapat berubah menjadi pembenaran, dan keyakinan dapat berubah menjadi selimut yang membuat penderitaan terasa wajar. Sesuatu yang dahulu menjadi landasan untuk bangkit, perlahan dapat berubah menjadi penutup mata terhadap kenyataan yang seharusnya dihadapi.

Kebajikan itu sendiri dapat berubah menjadi belenggu, ketika manusia berhenti memahami tujuan di baliknya. Ini bukan berarti kesabaran, rasa syukur, atau keyakinan harus ditolak, melainkan perlu dipahami kembali fungsi terdalamnya. Keteguhan seharusnya membuat manusia mampu berdiri kembali, bukan membuatnya nyaman untuk terus berada di tempat yang sama.

Mungkin persoalannya bukan karena Indonesia tidak memiliki landasan, melainkan karena kita mulai lupa untuk menggunakannya sebagai pijakan. Perjuangan leluhur akhirnya mudah berubah menjadi cerita yang kita kagumi tanpa meneruskan keberanian yang melahirkannya. Kita mengingat bagaimana mereka bertahan, tetapi lupa bahwa keteguhan bukanlah sekadar kemampuan menerima penderitaan. Keteguhan seharusnya juga menjadi keberanian untuk mengubah keadaan, ketika keadaan memang harus diubah.

Mengenali diri dan warisan tidak berarti mempertahankan segala sesuatu sebagaimana adanya. Tradisi, kekayaan, identitas, penderitaan, bahkan pengalaman masa lalu, hanyalah bahan yang harus diolah menjadi kesadaran dan kemampuan baru. Kebijaksanaan terletak pada kemampuan membedakan antara sesuatu yang harus dipertahankan sebagai landasan, dan sesuatu yang harus ditinggalkan agar perjalanan dapat berlanjut. Dengan demikian, perubahan bukanlah pengkhianatan terhadap masa lalu, melainkan salah satu bentuk kesetiaan terhadap makna terdalamnya.

Sebab sebuah bangsa tidak akan hancur hanya karena memiliki kekurangan. Ia mulai kehilangan arah ketika kekurangannya dianggap sebagai sesuatu yang tidak perlu diperbaiki, ketika kekayaannya hanya dipandang sebagai sesuatu yang dapat diambil, dan ketika ketabahannya hanya digunakan untuk membenarkan mengapa ia harus terus menanggung keadaan yang sama.

Waktu akan terus berjalan. Pertanyaannya bukan lagi apakah Indonesia memiliki bekal untuk melanjutkan perjalanan, melainkan apakah kita masih memiliki kemauan untuk mengubah bekal itu menjadi kekuatan.

Sebab landasan yang sejati bukanlah sesuatu yang membuat kita nyaman untuk tetap berdiri. Ia adalah sesuatu yang memungkinkan kita kembali melangkah, sebuah kesadaran bahwa segala yang diwariskan, kekayaan, penderitaan, keyakinan, tradisi, maupun keteguhan, baru memiliki nilai tertinggi ketika mampu ditransformasikan menjadi pijakan menuju keadaan yang lebih tinggi.