Konten dari Pengguna

Belum Bisa Bayar Kuliah Sendiri, tapi Sibuk Membahagiakan Pacar

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Jasmiko tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber Gambar: pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
Sumber Gambar: pexels.com

Berdasarkan data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2017, tercatat bahwa 81 persen perempuan muda dan 84 persen laki-laki muda pernah menjalani hubungan pacaran. Angka ini memperlihatkan bahwa relasi romantis sudah menjadi hal yang lazim dalam kehidupan generasi muda Indonesia. Data yang sama juga mengungkapkan bahwa pengalaman berpacaran umumnya dimulai sejak masa remaja, dengan kelompok usia 15-17 tahun sebagai kelompok yang paling banyak melaporkannya. Tentu saja, bentuk dan pengalaman hubungan yang dijalani setiap individu berbeda-beda, ada yang sebatas kedekatan emosional, ada pula yang menjadikan relasi romantis sebagai poros utama kehidupannya.

Pemandangan remaja yang memadu kasih di kafe-kafe bukan lagi hal asing, baik di kalangan pelajar maupun mahasiswa. Kita dengan mudah menjumpai anak muda yang secara ekonomi masih sepenuhnya bergantung pada orang tua, namun berlagak mampu memberikan barang, mentraktir makan, dan hal-hal serupa kepada kekasihnya, padahal semua itu bersumber dari uang orang tua. Tentu tidak semua seperti itu; ada juga yang sudah berpenghasilan sendiri dan memakai hasil kerja kerasnya untuk pasangannya. Inti persoalannya bukan pada tindakan memberi hadiah atau mentraktir, melainkan ketika seseorang yang belum mandiri secara ekonomi justru begitu sibuk memenuhi berbagai tuntutan dalam hubungan asmaranya.

Di titik inilah fenomena tersebut menarik untuk ditelaah lewat Self-Determination Theory yang dirumuskan oleh Edward L. Deci dan Richard M. Ryan. Teori ini menyatakan bahwa manusia memiliki tiga kebutuhan psikologis mendasar: autonomy, competence, dan relatedness. Autonomy adalah kebutuhan untuk menentukan dan mengendalikan arah hidup sendiri. Competence adalah kebutuhan untuk merasa sanggup menghadapi berbagai tuntutan kehidupan. Sedangkan relatedness adalah kebutuhan untuk terhubung dengan orang lain, dicintai, diterima, dan menjalin hubungan yang bermakna.

Ditinjau dari kerangka ini, berpacaran sesungguhnya bukan sesuatu yang harus dipersoalkan (dilihat dari sisi lazimnya perilaku tersebut, bukan dari sudut pandang boleh-tidaknya secara agama). Hasrat untuk dicintai adalah bagian dari kebutuhan dasar manusia untuk terhubung dengan sesama. Remaja yang mendambakan pasangan tidak lantas bisa dicap belum dewasa, justru kebutuhan untuk dicintai adalah bagian alami dari tumbuh kembang psikologis manusia. Masalah baru muncul ketika kebutuhan relatedness tumbuh terlalu dominan hingga mengalahkan kebutuhan autonomy dan competence.

Seorang anak muda bisa sangat cemas kehilangan pacarnya, tetapi tidak sama cemasnya ketika kehilangan peluang mengembangkan diri. Ia sanggup menghabiskan waktu berjam-jam memikirkan alasan pesannya belum dibalas, namun tidak merasakan kegelisahan serupa saat tugas kuliahnya terbengkalai. Ia bisa merasa amat bersalah karena tak sanggup memberi hadiah untuk pasangannya, tetapi tidak merasa bersalah sama sekali meski masih sepenuhnya bergantung pada orang tua untuk kebutuhan hidupnya. Di sinilah letak masalahnya: banyak anak muda belum mampu menyusun skala prioritas hidupnya dengan baik.

Kita seolah hidup dalam situasi yang agak ironis. Untuk membeli makanan sendiri saja masih meminta uang orang tua, tetapi saat berpacaran merasa wajib mentraktir pasangan. Untuk membayar keperluan kuliah masih menanti kiriman dari keluarga, tetapi untuk membelikan hadiah bagi kekasih selalu merasa perlu menyiapkan anggaran khusus. Untuk kebutuhan sendiri masih bergantung pada orang tua, tetapi di hadapan pasangan muncul dorongan kuat untuk membuktikan diri sebagai sosok yang mampu memberi.

Tentu saja, memberi kepada orang lain bukanlah kesalahan. Memberikan makanan, hadiah, atau perhatian kepada pasangan bisa menjadi wujud kasih sayang. Namun ada pertanyaan yang pantas diajukan: dari mana sebenarnya kemampuan memberi itu berasal? Jika uang yang dipakai masih berasal dari orang tua, apakah pemberian tersebut benar-benar mencerminkan kemandirian, atau justru hanya memperlihatkan kepiawaian seseorang memanfaatkan sumber daya yang belum sepenuhnya ia hasilkan sendiri?

Dalam Self-Determination Theory, kebutuhan relatedness tidak berdiri sendiri, manusia juga memerlukan autonomy dan competence, dan ketiganya idealnya tumbuh secara berdampingan. Relasi yang sehat semestinya tidak membuat seseorang kehilangan autonomy-nya. Seseorang boleh saja mencintai pasangannya, namun tetap memiliki arah dan tujuan hidup. Ia boleh membutuhkan kehadiran pasangan, tetapi jangan sampai menjadikannya satu-satunya sumber kebahagiaan. Ia boleh berduka saat hubungan berakhir, tetapi tidak sampai kehilangan kemampuan untuk terus menjalani hidupnya.

Sayangnya, dalam banyak kasus, hubungan asmara justru menjelma menjadi wadah pencarian validasi diri sepenuhnya. Saat pasangan memberi perhatian, ia merasa dirinya berarti. Saat pesan tak kunjung dibalas, ia merasa terabaikan. Saat pasangan tampak dekat dengan orang lain, ia merasa dirinya kurang cukup baik. Saat hubungan kandas, ia merasa kehilangan arah hidup. Cinta yang seharusnya hanya menjadi salah satu bagian dari kehidupan, berubah menjadi pusat dari keseluruhan hidupnya.

Fenomena "galau" yang kerap dipandang remeh sesungguhnya bisa dibaca lewat lensa ini. Galau bukan sekadar soal seseorang terlalu memikirkan pasangannya. Dalam kondisi tertentu, galau justru mencerminkan betapa besarnya ketergantungan seseorang pada validasi dari hubungan asmara. Ketika rasa berharga seseorang terlalu bertumpu pada perlakuan orang lain terhadapnya, kemampuannya untuk berdiri sebagai pribadi yang utuh pun kian melemah.

Padahal, seseorang memerlukan competence untuk meyakini bahwa dirinya sanggup. Ia perlu merasakan pengalaman menuntaskan persoalannya sendiri, menghasilkan karya, mengasah kemampuan, memperoleh penghasilan, mengatur keuangan, atau setidaknya bertanggung jawab atas keputusan yang diambilnya. Pengalaman-pengalaman semacam itulah yang menumbuhkan keyakinan "saya mampu". Tanpa pengalaman tersebut, seseorang berpotensi tumbuh menjadi pribadi yang amat haus pengakuan dari orang lain, karena belum cukup terbiasa mengakui kemampuannya sendiri.

Hal ini membawa kita pada persoalan yang lebih besar seputar pola kedewasaan anak muda. Kita kerap menganggap seseorang sudah dewasa begitu ia mengenal cinta, memiliki pasangan, atau piawai menjalin hubungan dengan lawan jenis. Padahal, kedewasaan mestinya juga ditandai dengan meningkatnya kesanggupan untuk bertanggung jawab atas dirinya sendiri.

Tidak ada yang keliru bila seorang mahasiswa masih menerima uang dari orang tuanya. Kondisi ekonomi setiap orang tidak sama. Ada mahasiswa yang memang belum bisa bekerja karena harus fokus pada studi. Ada pula keluarga yang mampu secara finansial untuk membiayai anaknya hingga lulus. Ketergantungan ekonomi dalam situasi semacam ini tidak bisa serta-merta dianggap sebagai kegagalan menjadi dewasa.

Yang pantas dikritik adalah ketika ketergantungan itu tidak dibarengi upaya menuju kemandirian, ketika seseorang masih dibiayai orang tua, namun seluruh pikirannya justru habis untuk mempertahankan hubungan romantis; ketika pendidikan, keterampilan, dan masa depan justru dikesampingkan demi mengejar perhatian pasangan; ketika ia lebih takut ditinggalkan kekasih ketimbang gagal membangun hidupnya sendiri. Pada titik itulah ada sesuatu yang patut dipertanyakan.

Barangkali persoalannya bukan karena anak muda terlalu dini mengenal cinta. Bisa jadi, persoalannya adalah mereka terlalu cepat menempatkan cinta sebagai pusat kehidupan, sebelum memiliki fondasi diri yang cukup kokoh.

Cinta memang menjawab kebutuhan relatedness. Kita ingin dicintai, dipahami, ditemani, dan dianggap berarti. Namun manusia juga membutuhkan autonomy dan competence, kemampuan menentukan arah hidup sendiri serta keyakinan bahwa kita sanggup menghadapi kehidupan. Jika kedua kebutuhan ini terabaikan, hubungan romantis bisa berubah menjadi pelarian dari ketidakmampuan mengenali nilai diri sendiri.

Karena itu, anak muda tidak perlu berhenti mencintai. Mereka hanya perlu belajar menempatkan cinta secara proporsional. Masih ada pendidikan yang harus dituntaskan, keterampilan yang harus diasah, pengalaman yang harus dikumpulkan, kesalahan yang harus dipetik pelajarannya, dan tanggung jawab yang harus dipikul. Semua itu adalah bagian tak terpisahkan dari proses menjadi manusia dewasa.