Cara Asyik Belajar dari Nasihat

Mahasiswa Universitas Pamulang - Prodi Ilmu Komunikasi dan Desain
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Raka Dwi Purnama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Banyak orang yang semula ingkar kepada Allah, menjadi beriman setelah mendengarkan nasihat. Banyak pula orang yang pada mulanya hanya beriman di lisan, lalu menjadi mukmin sejati lantaran rahmat Allah yang diberikan lewat perantara nasihat. Nasihat yang baik itu seperti makanan yang bergizi yang membentuk hidup kita semakin berkualitas, mengetahui kesalahan dan kekurangan yang kita miliki.
Pada dasarnya belajar dari nasihat itu banyak jenisnya, mulai dari; Nasihat tentang Agama, Ibadah, Pendidikan, Akhlak, Kemanusiaan, Perdamaian, dan Iman. Oleh karena itu pada artikel kali ini, penulis memfokuskan penjelasan nasihat dari pendidikan, akhlak, dan kemanusiaan.
1. Nasihat tentang Pendidikan
Belajar atau menuntut ilmu mempunyai peranan penting dalam kehidupan. Orang yang berilmu akan lebih mudah dalam menjalani kehidupan, ia tidak akan terbelakang. Ia pun menjadi pandai dan akan mengetahui terhadap segala sesuatu yang dipelajarinya. Lagi pula belajar juga dinilai sebagai ibadah kepada Allah. Orang yang belajar sungguh-sungguh disertai niat ikhlas, ia akan memperoleh pahala yang banyak dan mendatangkan ampunan dari Allah s.w.t.
Kesombongan tidak mampu menutupi kebodohan, bahkan justru memperjelas. Kebodohan hanya bisa terkikis oleh kerendahan hati untuk terus belajar.
Menyadari kebodohan diri sendiri adalah pintu gerbang kepandaian, karena biasanya orang sombong itu sejatinya tidaklah cerdas, tidak pandai mengendalikan dirinya sendiri, tidak lihai dalam mengelola hatinya, bahkan sudah merasa lebih pandai. Celaka betul mereka memandang orang lain bodoh.
Syekh Bakr bin Abdillah Abu Zayd Ra, mengatakan "Ilmu itu terdiri dari tiga tingkatan; siapa yang baru masuk pada tingkat pertama akan sombong, ketika naik ke tingkat kedua mulai tawadhu, dan siapa yang naik hingga tingkat ketiga ia tahu bahwa dirinya tidak tahu saking begitu luasnya samudra ilmu."
Dalam belajar pasti kita sering menemukan masalah, salah satunya masalah hidup karena ia bisa datang kapan saja dan dimana saja. Pertanyaannya bisakah kita mencegah datangnya masalah atau mampukah kita mengatasi masalah tanpa membuat masalah?
Semua masalah pasti ada jalan keluarnya, tergantung diri kita sendiri ingin keluar dari masalah tersebut atau tidak. Semangat mencari solusi tentu jangan sampai kendor, kalau memang belum bisa terselesaikan hari ini, mungkin besok, atau besoknya lagi. Bersabarlah, kalau perlu sekali kali tersenyum, elus dada, dan katakan "bantulah hamba ya allah, berilah hamba kesabaran." Ambil sisi positif dari masalah tersebut untuk menjadi tangga meriah level kehidupan yang lebih baik.
2. Nasihat tentang Akhlak
Saat ini alat-alat makeup begitu banyak, lengkap, dan laris terjual. ini menunjukkan bahwa begitu banyak orang atau bahkan diri kita sendiri yang lebih fokus untuk memperindah penampilan fisik ketimbang memperindah tingkah laku.
Betapa banyak yang hanya cantik luarnya saja, tetapi amat sedikit yang indah akhlaknya. Sama halnya menghilangkan jerawat di wajah, butuh waktu, butuh perawatan. Begitu juga dengan akhlak, untuk menjadikan indah perlu proses dan latihan yang keras. Artinya kita harus menggembleng jiwa raga kita kepada perbuatan yang bisa mendatangkan sifat dan akhlak yang baik.
Kita boleh cantik, boleh tampan, boleh keren dari segi penampilan dan pakaian. Tetapi itu semua menjadi sesuatu yang tak berharga ketika tidak dibarengi dengan adab dan ilmu, sebab kecantikan maupun ketampanan tidak bisa diukur dengan penampilan fisik, melainkan juga pada kecantikan prilaku, kebiasaan, dan kebaikan hati.
Itulah sebabnya kita harus menjaga kecantikan maupun ketampanan secara abadi dengan menjaga tingkah laku sehari-hari. Jangan sampai perbuatan kita menyakiti hati orang lain (harus rendah hati, tidak pamer, serta tidak pula sombong).
Riasan yang paling awet ialah yang dari dalam diri. Riasan luar mudah luntur
3. Nasihat tentang Kemanusiaan
Sesuatu yang akan membuat hidup bahagia dan jauh dari musibah adalah tidak melakukan perbuatan tercela atau buruk. Sebab, perbuatan tersebut akan selalu membawa kemudhratan bahkan menggiring pelakunya ke jurang kenistaan. Oleh karena itu alangkah mulianya kalau kita mampu meninggalkan perbuatan sia-sia yang jelas mengandung kemudharatan.
Agar dapat mengusir kebiasaan buruk itu cobalah lakukan hal hal penting seperti; bicaralah pada diri sendiri bahwa kita bukanlah pelaku kebiasaan buruk, jangan melakukan keburukan demi memuaskan keinginan kita, dan alihkan fokus kita dari keburukan menjadi kebaikan. Semoga 3 langkah ini bisa memutarbalikkan pikiran dari yang buruk ke yang baik. "Insya Allah."
Merendahkan orang lain tidak membuat kita luhur, malah justru menistakan diri sendiri
Hati-hatilah kita dengan sikap mudah merendahkan dan menjelek-jelekkan, meskipun orang yang direndahkan adalah pelaku dosa dan maksiat sekalipun. Karena sangat tak pantas sebagai sesama makhluk, merendahkan dan menjelek jelekkan makhluk yang lain. Jangankan sampai merendahkan , bergembira atas kesedihan orang lain saja dilarang. Karena kita tidak pernah benar-benar tahu bagaimana akhir perjalanan hidup seseorang.
Bisa jadi, orang yang hari ini kita rendahkan justru kelak menjadi pribadi yang jauh lebih baik, sementara kita masih sibuk merasa paling benar. Bukankah hati manusia dapat berubah, dan bukankah kita sendiri masih memiliki begitu banyak kekurangan yang perlu diperbaiki?
Kemanusiaan adalah tanggung jawab kita bersama
Jangankan merendahkan, bergembira atas kesedihan orang lain pun bukanlah sikap yang patut dibanggakan. Jangan sampai kita begitu sibuk menyoroti gelapnya kehidupan orang lain, hingga lupa bahwa diri sendiri pun masih membutuhkan cahaya untuk menemukan jalan yang benar. Nasihat bukanlah tentang siapa yang paling benar, melainkan bagaimana kebenaran disampaikan tanpa kehilangan kerendahan hati.
Maka, belajarlah menerima nasihat, sekalipun datang dari orang yang tidak kita sukai, dan belajarlah mengambil hikmah, sekalipun disampaikan melalui cara yang tidak kita harapkan. Sebab, orang yang bijaksana bukanlah mereka yang merasa tidak pernah salah, melainkan mereka yang tidak pernah berhenti belajar dari setiap nasihat untuk menjadi manusia yang lebih baik.
Raka Dwi Purnama, Mahasiswa Ilmu Komunikasi dan Desain, Universitas Pamulang
