Cerita Warga Tetap Lari di GBK di Tengah Sebaran Abu Vulkanik

Sejumlah warga tetap berolahraga di kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, di tengah kabar sebaran abu vulkanik yang mencapai wilayah Jakarta dan sekitarnya pada Minggu (6/9).
Salah satunya Levi, warga Jakarta yang kini tinggal di Tangerang. Ia mengaku sempat ragu untuk datang karena melihat pemberitaan soal abu vulkanik yang ramai di media sosial.
“Awalnya sih takut juga lihat di Instagram ramai. Terus tadi pagi kan juga ada lari, cuma ya udah deh nekat aja lari,” kata Levi saat ditemui kumparan.
Levi mengatakan, dirinya memilih tetap berolahraga karena merasa bosan jika hanya berada di rumah. Sebelum berangkat, Levi sempat melihat banyak debu menempel di motornya. Namun, ia tetap memutuskan untuk pergi ke GBK dengan mempertimbangkan risiko yang ada.
“Daripada di rumah nggak ngapa-ngapain, mending lari aja,” ujarnya.
Meski begitu, Levi mengaku merasakan dampak abu vulkanik selama perjalanan dari rumah menuju GBK. Setelah menempuh perjalanan sekitar 15 kilometer, matanya mulai terasa gatal dan perih.
“Pas sampai sini juga lari awalnya itu kayak agak nyesek gitu, kayak tarik napas itu juga susah. Cuma ya udah dinekatin aja,” tuturnya.
Menurut Levi, suasana GBK pada Minggu ini juga terasa lebih sepi dibandingkan saat terakhir ia berlari pada Jumat malam. Ia menduga sebagian orang memilih tidak keluar rumah karena khawatir dengan sebaran abu vulkanik.
Hal serupa juga dirasakan Rian, warga Bogor yang datang ke GBK saat libur kerja. Ia mengaku sudah mengetahui kabar soal abu vulkanik sebelum berangkat, tetapi tetap memilih datang karena ingin berolahraga dan merasa bosan berada di kosan.
“Karena pengin aja, bete juga sih di kosan. Jadi libur kerja kan, ya udahlah mampir ke GBK aja,” kata Rian.
Rian mengatakan, dirinya tetap berusaha menjaga keamanan dengan membawa masker dan menggunakan kacamata selama perjalanan. Namun, masker dilepas ketika berlari karena membuatnya merasa sesak.
“Kalau pas perjalanan kita harus pakai masker, kacamata ya haruslah. Karena namanya di perjalanan, takutnya debunya lagi banyak banget di jalan,” ujarnya.
Berbeda dengan Levi, Rian mengaku tidak merasakan mata perih atau sesak saat berolahraga di GBK. Ia hanya merasakan banyak debu selama perjalanan dari Bogor.
Rian juga sempat berpikir untuk membatalkan rencana pergi setelah orang tuanya mengingatkan agar tidak keluar rumah. Namun, ia akhirnya tetap berangkat bersama teman-temannya dengan perlengkapan pelindung.
“Ya takut mah takut, cuma ya gimana. Kita lari juga kan biar sehat,” tuturnya.
Meski menilai kondisi abu vulkanik hari itu belum terlalu parah, Rian mengaku belum bisa memastikan kondisi pada hari berikutnya. Ia berharap sebaran abu tidak berlangsung lama.
