Konten dari Pengguna

Di Antara Sapuan Warna dan Kepastian Garis Zaini

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hidayat Adhiningrat tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pengunjung Pameran Menyibak Kabut di Taman Ismail Marzuki melihat karya Zaini Rumah dan Danau (Dok. Hidayat Adhiningrat)
zoom-in-whitePerbesar
Pengunjung Pameran Menyibak Kabut di Taman Ismail Marzuki melihat karya Zaini Rumah dan Danau (Dok. Hidayat Adhiningrat)

Memasuki ruang Galeri Cipta I di Taman Ismail Marzuki, langkah terhenti pada sebuah lukisan berbingkai kayu berjudul Danau. Di atas kanvas itu, terlihat bahwa Zaini tidak sedang melukis air atau gunung seperti yang tertera dalam judul karyanya. Ia justru membiarkan sapuan putih kekuningan yang luas di bagian bawah itu diterjang oleh gumpalan biru kelam dan semburat merah jambu. Penampilannya tak lagi menuruti aturan bentuk fisik.

Tampaknya, inilah karya yang pernah memantik komentar kritikus seni Bambang Bujono, atau yang akrab disapa Bambu, mengenai karya-karya Zaini. Bambu pernah menyebutnya sebagai sebuah “kabut” kedua yang bukan berasal dari persaingan antar lukisan di ruang pamer, melainkan sebuah atmosfer intrinsik yang menyelubungi setiap goresan. Tempat warna melebur dan figur-figur larut menjadi sekadar sugesti.

Lukisan Danau Karya Zaini di Pameran Menyibak Kabut (Dok. Hidayat Adhiningrat)

Lukisan Danau terpasang tepat di depan pintu masuk Pameran Menyibak Kabut yang digelar di Gedung Trisno Sumardjo, 20 Juni - 11 Juli 2026. Pameran ini dimaksudkan untuk menggali kembali warisan Zaini yang kerap tercecer, dalam rangka memperingati 100 tahun kelahiran Zaini. Dengan total sekitar lima puluh karya yang tersebar dari era 1948 hingga 1977, gelaran ini menjadi penghormatan sekaligus pemetaan ulang terhadap sosok yang pernah membidani lahirnya Dewan Kesenian Jakarta dan kurikulum LPKJ (kini IKJ).

Pameran ini digelar di dua ruang galeri. Jika Galeri Cipta I menyajikan evolusi abstraksinya—dari pastel awal hingga minyak akhir yang berani bereksperimen dengan nada-nada gelap—maka Galeri Cipta II menyelami kedalaman garisnya melalui sketsa, vinyet, dan monotipe.

Untuk diketahui, Zaini bukanlah seniman yang dikenal menggambar wajah dengan presisi fotografi. Sejak masa mudanya di Pariaman dan pendidikannya di INS Kayutanam bentukan Engku Muhammad Sjafei, ia telah diasah bahwa karya lahir dari keseimbangan akal, rasa, dan keterampilan. Di bawah didikan pelukis naturalis Wakidi, serta perkenalannya dengan S. Sudjojono di Jakarta, Zaini justru mengembangkan naluri untuk menangkap “jiwa” ketimbang “kulit” dari subjeknya.

Lukisa Figure karya Zaini (Dok. Hidayat Adhiningrat)

Naluri itu sangat terasa pada lukisan Figure (1973) yang juga tergantung di Galeri Cipta I. Berbeda dengan bentangan alam yang penuh teka-teki di Danau, Figure menghadirkan sosok manusia dalam profil yang duduk tenang. Seluruh permukaan kanvasnya dibalut nuansa yang meredup, diselingi uap putih kebiruan yang dingin. Zaini tak peduli pada kemiripan wajah. Ia hanya menorehkan garis hitam yang tegas namun minimalis untuk membentuk siluet, rambut, dan tangan yang bertumpu.

Jika Figure menawarkan ketenangan, maka kanvas berjudul Demonio (1961) justru meledak dengan energi yang bertolak belakang. Di atas hamparan latar kuning menyala yang seakan berputar-putar, Zaini memecah wajah manusia menjadi kepingan-kepingan geometris ala kubisme. Dua lubang mata hitam pekat dan satu semburat merah menyala menjadi jangkar komposisinya, sementara bidang biru dan merah tersusun tegas di area bahu dan leher.

Lukisan Demonio karya Zaini (Dok. Hidayat Adhiningrat)

Sepucuk rokok yang terselip di bibir figur itu menambah cita rasa sinis yang kuat. Demonio seakan sedang membuktikan bahwa pada awal dekade 1960-an, Zaini juga mampu memainkan distorsi bentuk yang liar, meninggalkan sementara kelembutan untuk menjelajahi sisi psikologis yang lebih tegang dan menggigit.

Pencarian akan peleburan bentuk ini terus berlanjut hingga ke medium cat minyak. Lihatlah misalnya Udang (1975). Dengan latar hijau pudar yang transparan, Zaini membentuk tubuh udang hanya dari sapuan hitam yang tebal dan cair, seolah hewan itu baru saja melesat pergi dan meninggalkan jejak asap di air.

Lukisan Udang karya Zaini (Dok. Hidayat Adhiningrat)

Tubuh hitam itu tampak belum sempat mengeras. Ia terus bergerak, melebur, menjadi bagian dari ruang. Persis seperti inti pemikiran Zaini yang sering dibahas tentang bentuk yang masih setengah berada di alam aslinya, setengah lagi mulai mengadopsi ketidakpastian warna latar.

Kematangan pencarian visual ini mencapai puncaknya pada lukisan-lukisan urban seperti Glodok (1977). Di sini, Zaini menangkap hiruk-pikuk Jakarta di masa lalu tanpa perlu menggambar detail ruko atau kendaraan. Langit merah marun yang sesak dan hampir menyesakkan memayungi deretan bangunan krem pucat yang disusun lewat sapuan kuas tegak, kasar, dan berulang.

Hamparan tanah oranye berkarat di bagian bawah dihiasi coretan hitam gelap yang samar, seperti bayangan pejalan kaki yang terserap oleh hawa panas. Pada Glodok, warna menjadi kekuatan naratif yang menghadirkan kegersangan, kepadatan, dan psikis kota metropolitan yang sedang terik-teriknya.

Lukisan Glodok karya Zaini (Dok. Hidayat Adhiningrat)

Menyusuri rentang visual Zaini dari Demonio yang distorsif, Figure yang sunyi, hingga Glodok yang sarat “keheningan”, kurator pameran Ibrahim Soetomo menangkap adanya benang merah yang konsisten dalam karya-karya Zaini. Ia menilai kekuatan Zaini terletak pada kemampuannya mempertemukan dua elemen yang tampak bertolak belakang.

Dua elemen itu adalah garis-garis tegas yang memahat wujud, berdampingan dengan sapuan warna yang sedemikian halus dan menyublim. Pertemuan keduanya menjadi bentuk yang terang benderang dengan bidang-bidang yang perlahan mengabur.

Namun, Ibrahim juga menyoroti sisi humanis di balik kuasnya. Di tengah perannya yang aktif sebagai salah satu perintis Dewan Kesenian Jakarta, Zaini ternyata menyimpan kepribadian yang melankolis dan terusik. “Dia terus mencari. Dia terus bergumul tentang seni lukis, bagaimana memandang objek, bagaimana memandang sekitar,” ungkapnya.

Kegelisahan intelektual inilah yang kemudian membawa Zaini kembali pada elemen paling fundamental dari seni rupa yaitu garis. Di balik semua permainan warna dan suasana itu, fondasi ini tak pernah goyah. Seniman patung Dolorosa Sinaga dalam video yang ditampilkan dalam pameran ini masih mengingat jelas ajaran gurunya bahwa “garis adalah sebuah keputusan.” Hal itu terlihat nyata pada sketsa-sketsa burung yang melompat dan gedung-gedung kota yang ia torehkan untuk majalah Horison. Sebuah tarikan saja sudah cukup menangkap dinamika hingga tak ada goresan yang sia-sia.

Seperti yang pernah diutarakan Trisno Sumardjo, Zaini adalah seorang penyaring yang mengubah dunia luar menjadi wilayah kekuasaannya sendiri, membiarkan penikmat lukisan terus menebak tanpa pernah memberi jawaban final. Namun, pada pameran ini, tepatnya di Galeri Cipta II, kita juga diajak menyelami bagaimana ia membangun ‘wilayah kekuasaan’ itu dari garis sebagai hal yang paling fundamental sebuah karya lukis. Di antara karya-karya sketsa, vinyet, dan drawing yang terpajang (dari koleksi keluarga) terhampar lembaran-lembaran kertas kecil berwarna kuning tua yang menguak rutinitas observasinya.

Karya-karya sketsa Zaini (Dok. Hidayat Adhiningrat)

Pada sebuah sketsa figur manusia yang dipotong dengan sudut tak beraturan, Zaini menangkap sosok pria bersandar santai di tanah hanya dengan beberapa tarikan garis kontur yang renggang. Tak ada satu pun guratan yang berlebih. Kaos oblong, posisi kaki, dan sandaran tubuhnya terpahat hanya dari imajinasi ruang kosong di antara tinta hitam. Sosok lain, digoreskan di atas kertas cokelat buram, menampilkan tubuh yang membungkuk seolah sedang mencuci atau bekerja di dekat tanah.

Di sini Zaini menggunakan permainan siluet. Sebuah blok tinta hitam pekat membalut punggung dan rambutnya, memberikan bobot visual yang kontras dengan garis-garis tipis pada kaki dan tangannya yang telanjang. Kedua sketsa ini membuktikan bahwa baginya, anatomi manusia bukanlah sekadar struktur tulang, melainkan juga sebuah gestur beban dan gravitasi yang ia pahami dalam sekejap mata.

Eksperimen garisnya kian memukau pada lembar studi burung (1970). Zaini memadukan goresan pena yang putus-putus dengan sapuan tinta hitam yang cair untuk menciptakan volume. Ia tidak mengurusi satu per satu bulu sayap, tetapi menangkap keriuhan, gravitasi, dan gairah sekawanan burung yang siap mengudara. Korespondensi antara garis tipis dan blok hitam tebal pada sketsa ini adalah sebuah orkestrasi visual yang ia kuasai betul. Sebuah keterampilan yang kelak ia bawa ke dalam lukisan Udang dan Macan Kumbang.

Tak jauh dari studi burung, sebuah sketsa perahu (vinyet) yang sangat mungil hadir dengan garis-garis yang begitu hemat namun tetap jitu. Tiga perahu nelayan dengan siluet hitam pekat mengapung di atas goresan air yang sejajar, sementara titik-titik kecil di langit menandakan burung-burung yang melayang. Sama seperti karyanya di atas kanvas besar, Zaini mengisolasi objek-objek itu tanpa perlu mendeskripsikan gemuruh ombak atau awan. Ia biarkan saja ketenangan dan hampa udara di sekitarnya menjadi narasi.

Menutup rangkaian sketsa ini, sebuah potret wajah kecil di atas bingkai merah menyimpan pesona yang kontras. Hanya dengan beberapa garis tipis, ia menangkap tatapan polos seorang figur dengan rambut panjang. Angka tahun pada keterangan karya menunjukkan bahwa Zaini telah mempraktikkan keterampilan garis ini sejak era 1950-an. Sketsa-sketsa yang tampak “remeh” ini adalah buku latihan harian di mana ia melatih keputusannya. Tidak ada keraguan di setiap tarikannya, dan tidak ada ruang untuk ragu. Sketsa itu adalah eksekusi langsung dari sebuah pikiran yang sudah bulat.

Memasuki awal dekade 1960-an, Zaini membangun rumah di Tomang, dan dari sanalah lahir obsesinya pada teknik monotipe. Baginya, mencetak sekali saja (tanpa edisi) adalah bentuk sihir visual. Ia bisa melukis dan menggambar bersamaan tanpa batas medium. Dalam Fishing Boat (1967), Zaini membiarkan tinta hitam yang membentuk perahu-perahu itu sedikit meluber dan menyatu dengan latar kuning cerah, sebuah ketidaksempurnaan yang ia anggap justru menjadi nyawa. Ia bahkan mencatat kebanggaannya dalam buku harian, menganggap grafika setara dengan seni lukis, tempat ekspektasi dan misteri bersenyawa.

Pameran ini pada akhirnya telah merangkai kepingan-kepingan karya Zaini yang tercecer selama puluhan tahun. Kita diajak menyaksikan sebuah dunia yang bergerak dari wujud fisik figuratif menuju nuansa warna. Melalui pameran Menyibak Kabut, kita tidak lagi meraba-raba dalam remang. Kita dipersilakan untuk menembus kabut tipis itu dan merayakan esensi karya Zaini yang tetap bersinar terang hingga sekarang.