Di Balik Kebesaran Hatta, Hamka, dan Habibie, Ada Luka yang Jarang Diceritakan
Tulisan dari Andri Mastiyanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada orang yang setelah disakiti justru menjadi lebih lembut. Ada juga yang berubah menjadi pahit.
Mungkin di situlah sebenarnya karakter seseorang diuji.
Bukan ketika hidup sedang baik-baik saja. Bukan ketika rekening aman, pekerjaan lancar, keluarga baik-baik saja, dan semua rencana berjalan sesuai keinginan.
Karakter justru sering terlihat ketika hidup sedang tidak ramah.
Ketika tidak ada yang menolong. Ketika tidak ada yang percaya. Ketika kita sudah jatuh, tetapi keesokan paginya tetap harus bangun, mandi, bekerja, tersenyum, lalu menjalani hidup seperti biasa.
Saya pernah membaca sebuah kalimat sederhana: “Orang kuat tidak dilahirkan. Mereka pernah hancur.”
Semakin dipikirkan, semakin terasa benar.
Sebab, hampir semua orang sebenarnya pernah mengalami kehancuran dalam bentuknya masing-masing.
Ada yang kehilangan orang yang dicintai.
Ada yang kehilangan pekerjaan.
Ada yang gagal dalam usaha.
Ada yang dikhianati. Ada yang ditolak.
Ada yang sudah bekerja keras bertahun-tahun, tetapi hasilnya tidak seperti yang diharapkan.
Ada yang dilabeli pembangkang.
Bahkan ada orang yang setiap hari terlihat baik-baik saja, padahal di dalam dirinya sedang berjuang keras agar tidak menyerah.
Namun ada satu hal yang sering kita lupa: penderitaan tidak otomatis membuat seseorang menjadi kuat.
..
Penderitaan Hanya Memberikan Pilihan.
Ada orang yang terluka lalu belajar memahami luka orang lain. Tetapi ada pula yang terluka lalu merasa berhak melukai orang lain.
Ada yang pernah diperlakukan tidak adil dan kemudian berkata dalam hati, “Saya tidak mau melakukan hal yang sama kepada orang lain.”
Tetapi ada juga yang berpikir, “Dulu saya juga diperlakukan seperti itu. Sekarang kamu harus merasakannya.”
Di situlah perbedaannya.
Bukan pada seberapa berat masalah yang pernah kita jalani, tetapi pada apa yang kita lakukan setelah melewati semua itu.
..
Pendidikan Memberi Pengetahuan, Hidup Mengajarkan Ketangguhan
Sekolah dan universitas mengajarkan banyak hal. Buku membuat kita mengenal dunia. Guru mengajarkan pengetahuan. Tetapi ada pelajaran yang tidak pernah benar-benar selesai diajarkan di ruang kelas.
Bagaimana menerima kegagalan.
Bagaimana tetap rendah hati ketika berhasil.
Bagaimana menghadapi kehilangan.
Bagaimana tetap baik ketika diperlakukan buruk.
Dan yang paling sulit, bagaimana tetap menjadi manusia ketika hidup memberikan begitu banyak alasan untuk berubah menjadi pahit.
Kita bisa belajar dari perjalanan orang-orang besar.
Mohammad Hatta, misalnya. Ia pernah ditangkap dan mengalami pembuangan ke Boven Digul dan Banda Neira. Jauh dari rumah, jauh dari kehidupan normal, dan jauh dari orang-orang yang dicintai. Namun keadaan itu tidak membuatnya berhenti belajar, berpikir, dan memperjuangkan gagasannya.
Ada pelajaran sederhana dari perjalanan Hatta, keadaan boleh membatasi ruang gerak, tetapi tidak selalu harus menentukan nilai diri seseorang.
Buya Hamka juga memberi gambaran yang tidak kalah menarik. Dalam masa penahanan yang penuh tekanan, ia memilih membaca dan menulis.
Dari masa sulit itu lahir karya yang kemudian dikenal luas sebagai *Tafsir Al-Azhar*.
Ia punya alasan untuk marah. Punya alasan untuk merasa hidup tidak adil. Tetapi ia memilih berkarya.
Mungkin memang seperti itulah hidup bekerja.
Penderitaan tidak otomatis membuat seseorang hebat. Penderitaan hanya memberikan pilihan: mau menjadi pahit atau menjadi lebih bijaksana, mau menyalahkan keadaan atau mengambil pelajaran, mau berhenti atau tetap berjalan.
...
Kehebatan Sering Lahir dari Masa yang Tidak Terlihat
Saya suka dengan satu kalimat yang terasa sederhana, tetapi dalam maknanya:
"Kehebatan bukanlah lahir dari hidup yang mudah, tetapi dari keberanian untuk tidak menyerah saat hidup terasa berat.”
Barangkali memang begitu.
Kita sering hanya melihat hasil akhir seseorang. Melihat ia berhasil, punya jabatan, memiliki karya, atau berdiri di tempat yang tinggi.
Tetapi kita jarang melihat berapa banyak malam yang ia lewati dengan kecemasan.
Kita tidak melihat berapa kali ia gagal.
Tidak tahu berapa kali ia ditolak.
Tidak tahu berapa banyak air mata yang jatuh sebelum akhirnya ia tersenyum.
B.J. Habibie juga pernah berada dalam situasi ketika posisi tinggi akhirnya harus ditinggalkan.
Setelah menjadi Presiden RI ketiga, pertanggungjawabannya ditolak MPR dan ia kembali menjadi warga negara biasa.
Tetapi mungkin justru di situlah kita belajar bahwa jabatan bukanlah identitas seseorang.
Jabatan bisa berakhir. Popularitas bisa hilang. Orang yang hari ini memuji kita bisa saja besok lupa.
Yang tinggal adalah karakter.
...
Orang yang Pernah Kehilangan Biasanya Lebih Menghargai Kesempatan
Saya juga percaya bahwa orang yang pernah kehilangan biasanya memiliki cara pandang yang berbeda terhadap hidup.
Orang yang pernah gagal tahu rasanya memulai kembali.
Orang yang pernah jatuh tahu betapa berharganya tangan yang mau membantu.
Orang yang pernah sendirian akan lebih menghargai seseorang yang bersedia menemani.
Dan orang yang pernah diremehkan biasanya tahu betapa sakitnya dianggap tidak berarti.
Mungkin karena itu, orang yang pernah melewati banyak hal dalam hidup biasanya tidak terlalu mudah menghakimi.
Sebab ia sadar, setiap orang membawa cerita yang tidak selalu terlihat.
Kita hanya melihat seseorang sedang marah. Kita tidak tahu berapa kali ia menangis sebelum akhirnya marah.
Kita melihat seseorang gagal. Kita tidak tahu berapa tahun ia sudah mencoba.
Kita melihat seseorang berubah. Kita tidak tahu apa yang pernah dilakukan kehidupan kepadanya.
Pada akhirnya, mungkin orang kuat bukanlah mereka yang tidak pernah menangis.
Orang kuat adalah mereka yang pernah menangis berkali-kali, tetapi tetap bangun keesokan harinya.
Bukan mereka yang tidak pernah disakiti, tetapi mereka yang disakiti tanpa menjadikan dirinya alasan untuk menyakiti orang lain.
Bukan mereka yang tidak pernah gagal, tetapi mereka yang gagal lalu mau belajar.
Dan bukan mereka yang hidupnya selalu mudah, tetapi mereka yang ketika hidup menjadi sulit, tidak kehilangan dirinya sendiri.
...
Karakter paling jujur sering kali terlihat ketika tidak ada yang melihat.
Ketika kita punya kesempatan membalas, tetapi memilih tidak membalas.
Ketika kita punya alasan untuk menjadi jahat, tetapi memilih tetap baik.
Ketika kehidupan berkali-kali memberi alasan untuk menyerah, tetapi kita berkata kepada diri sendiri:
“Saya memang pernah hancur. Tapi saya tidak mau hidup saya berhenti di sana.”
Mungkin itulah arti menjadi kuat.
Bukan menjadi manusia yang tidak pernah terluka, melainkan menjadi manusia yang tidak membiarkan luka menentukan siapa dirinya.
Karena pada akhirnya, kita semua akan membawa cerita masing-masing.
Tentang kehilangan. Tentang kegagalan. Tentang jatuh. Tentang bangkit.
Dan semoga ketika cerita itu selesai nanti, orang tidak hanya mengingat seberapa tinggi kita pernah berdiri.
Tetapi juga mengingat satu hal sederhana:
**kita pernah punya banyak alasan untuk menjadi pahit, tetapi memilih tetap menjadi manusia yang baik.** (AM)

