Eksplorasi Akting Baru, Lady Nayoan Hadapi Tantangan Main Bareng Anak-anak
·waktu baca 3 menit

Surabaya (beritajatim.com) – Ada yang berbeda dari langkah akting Lady Nayoan kali ini. Dalam proyek film terbarunya berjudul Call 911, ia tak hanya dituntut mendalami karakter, tetapi juga harus membangun chemistry dengan mayoritas pemain yang masih anak-anak.
Di balik sorot kamera, suasana syuting terasa seperti ruang belajar yang hidup.
Sekitar 80 persen pemeran film ini merupakan siswa dari ARTV SCHOOL, yang menghadirkan dinamika berbeda dalam setiap adegan.
Lady mengaku pengalaman ini menjadi salah satu yang paling menantang sekaligus berkesan sepanjang kariernya.
“Perasaannya tentu sangat senang dan berterima kasih karena dipercaya bisa berkarya bersama anak-anak di ARTV SCHOOL. Ini pengalaman yang tidak biasa, karena hampir 80 persen pemainnya anak-anak. Dalam berdialog dengan mereka tidak selalu mudah, jadi ini juga menjadi tantangan bagi saya untuk bisa mengambil hati mereka,” ujarnya.
Berperan sebagai Alexandra, Lady harus menyesuaikan pendekatan aktingnya agar tetap natural saat berinteraksi dengan para pemain muda. Ia tak sekadar berakting, tetapi juga belajar memahami ritme emosi anak-anak yang cenderung spontan.
Di sisi lain, ia melihat proyek ini sebagai ruang tumbuh bagi talenta muda. Lady berharap film ini bisa menjadi pintu awal bagi para siswa untuk menembus industri yang lebih luas.
“Harapannya, anak-anak ini bisa semakin berprestasi. Tidak hanya bermain film di Surabaya, tetapi juga bisa tampil di televisi nasional, industri film nasional, bahkan hingga festival awards,” tambahnya.
Sementara itu, produser film Miss Lie Chen menegaskan bahwa Call 911 hadir dengan pendekatan cerita yang lebih berani. Jika sebelumnya ia menggarap tema yang lebih ringan, kali ini filmnya menggali sisi realitas kehidupan yang kerap tak sesuai harapan.
“Kami ingin membuat sesuatu yang berbeda. Film ini berbicara tentang realita yang tidak selalu seperti yang kita bayangkan. Saya memilih Lady Nayoan karena kami merasa dia sosok yang tepat untuk karakter ini, dengan kemampuan akting yang kuat,” jelasnya.
Menariknya, ide cerita film ini justru lahir dari keinginan para siswa sendiri. Mereka menginginkan tantangan yang lebih kompleks dibandingkan tema-tema umum yang sering diangkat.
“Anak-anak sangat antusias. Mereka bilang, ‘jangan yang cinta-cintaan atau drama terus, kita ingin sesuatu yang lebih menantang.’ Dari situlah akhirnya film Call 911 ini terbentuk,” imbuh Lie Chen.
Hal senada disampaikan manajemen talenta Vianney Nana yang menyebut film ini mengangkat realita kehidupan penuh kejutan. Ceritanya dibangun dengan nuansa misterius, membuat penonton terus bertanya-tanya hingga akhir.
“Kita menulis tentang realita kehidupan, bahwa apa yang direncanakan tidak selalu berjalan sesuai ekspektasi. Ada banyak kejadian tak terduga, bahkan sosok yang kita anggap musuh bisa jadi memiliki sisi lain yang tersembunyi,” ujarnya.
Tak hanya berorientasi pada hasil akhir, proses produksi film ini juga menjadi ruang pembelajaran. Para siswa dilatih untuk tampil natural, tidak sekadar menghafal dialog, tetapi memahami karakter secara mendalam.
“Anak-anak dilatih untuk bermain secara natural, bukan sekadar menghafal. Mereka harus memahami cerita dan mampu mengembangkan karakter tanpa kebingungan,” jelasnya.
Dijadwalkan tayang di jaringan bioskop XXI pada Desember 2026, Call 911 diharapkan tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga menjadi batu loncatan bagi generasi baru di industri perfilman Indonesia.
Di tengah cerita misterius yang ditawarkan, film ini menyimpan harapan besar: lahirnya bintang-bintang muda dari Surabaya untuk panggung nasional, bahkan internasional. (ted)
